Tags

, , , , , ,


Menangis ialah cara tubuh mengungkap rasa

Ayahku selalu memarahi aku, jika jatuh air mataku. Kata ayah s’lalu, airmata itu adalah tanda kelemahan…
Tapi ternyata air mataku, ternyata jatuh juga . . . . .
Reff:  Aku bukanlah superman, aku juga bisa nangis, jika kekasih hatiku, pergi meninggalkan aku…

Pasti kita semua pernah mendengar lagu ini. Sedang hangat-hangatnya ditelinga kita para pendengar musik Indonesia. Lagu ini dinyanyikan oleh tiga anak lelaki yang tergabung dalam grup band The Lucky Laki. Ya, mereka adalah putra-putra dari seorang musisi ternama, Dani Ahmad.

Dari lirik lagu yang dinyanyikan The Lucky Laki, kita bisa mendengar bahwa mereka, laki-laki, tidak boleh menangis. Ini adalah perwakilan dari situasi yang ada di masyarakat kita. Anak laki-laki tidak boleh menangis. Sejak kecil kita mendidik anak lelaki kita agar tidak menangis dan tidak cengeng. Ketika mereka hendak menangis, kita biasanya menegur, “Cowok jangan nangis…jangan cengeng! Malu-maluin…” Atau sewaktu kita duduk di bangku sekolah, ketika ada teman lelaki yang menangis, entah karena ditegur guru atau karena berkelahi, kejadian itu akan menjadi sejarah dan teman tersebut akan dikenang seumur hidup kita sebagai laki-laki cengeng. Laki-laki menangis, sepertinya memalukan, dianggap sebagai orang yang lemah, dan tidak keren.

Menangis dan lemah.

Menangis adalah anugerah

Menangis identik dengan perempuan, kelembutan, dan perasaan. Orang yang biasa menangis adalah orang yang “perasa” atau sensitif. Menangis lebih sering dilakukan oleh perempuan. Perempuan adalah sosok yang lembut. Sikap lembut perempuan ini pun disalah artikan sehingga menimbulkan persepsi bahwa perempuan itu lemah. Nah, menangis akhirnya menjadi tindakan yang wajar bagi perempuan, dan menjadi perilaku yang mewakili seseorang bermental lemah.

Sadarkah kita bahwa pandangan kita sebenarnya keliru? Benarkah bila seseorang menangis berarti mentalnya lemah? Atau pandangan-pandangan keliru kita yang membentuk pernyataan itu?

Menangis itu membuat seseorang menjadi kuat. Mengapa?

Secara psikologis, seseorang yang menangis berarti telah mengekspresikan perasaan atau suasana hatinya. Orang yang mampu mengekspresikan apa yang ia rasakan dan pikirkan secara tepat adalah orang yang sehat. Tidak ada beban perasaan dan pikiran yang dipendamnya.

Semua orang butuh menangis

Menangis adalah salah salah satu bentuk ekspresi emosi atau suasana hati. Sama halnya seperti tertawa, cemberut, dan tersenyum. Orang yang merasa senang, tentunya wajar jika tertawa. Orang yang kecewa, wajar jika cemberut. Dan orang yang tersanjung karena dipuji, wajar sekali jika ia tersenyum. Semua bentuk ekspresi ini boleh dilakukan oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa batasan apa pun. Semua ekspresi ini dianggap wajar apabila tidak merugikan dirinya dan orang lain, serta tidak menghambat fungsinya. Jika tertawa terus menerus sehingga mengganggu kenyamanan orang lain di sekitarnya, tentunya bukanlah perilaku yang baik. Nah, sama halnya dengan menangis, semua orang boleh menangis, tanpa batasan apa pun. Menangis dikala kita merasa sedih, tertekan, dan sakit, tentunya merupakan hal yang wajar dan patut dirasakan oleh semua orang.

Waspadai perilaku kompensasi

Pernahkan Anda perhatikan, seorang lelaki yang sedih mengekspesikan kesedihannya dengan meninju-ninju tembok, memukul-mukul kepala, atau berteriak-teriak? Semua itu merupakan perilaku kompensasi (perilaku pengganti) dari menangis. Mereka sebetulnya sedih, tapi tidak dengan duduk diam dan meneteskan air mata. Rasanya itu tidak mungkin dilakukan karena sejak kecil mereka telah dididik untuk tidak meneteskan air mata, apalagi di depan umum.

Begitu banyak akibat yang disebabkan oleh represi perasaan sedih. Remaja yang mengalami broken home, tidak tahu harus bagaimana lagi mengekpresikan perasaan sedih dan kecewa mereka terhadap situasi keluarga yang buruk. Akhirnya mereka mengekspresikan rasa sedih mereka ke hal-hal lain, dan cenderung ke hal-hal negatif, seperti menggunakan narkoba dan seks bebas. Tangisan mereka tahan, lalu muncullah perilaku-perilaku negatif yang bagi segelintir orang dianggap sebagai sikap gentleman, macho, keren, gaul, dan “laki-laki banget”.

Apa yang seharusnya dilakukan?

Menangis ‘tak memandang batas usia

Nah, akhirnya kita semua tahu bahwa menangis itu sehat. Selanjutnya, berilah kebebasan bagi anak lelaki dan pasangan kita untuk mengekspresikan perasaan-perasaannya dengan meneteskan air mata. Sejauh itu pantas dan wajar dilakukan. Bagi anak-anak, yang perlu kita lakukan ialah mengajarkan mereka untuk cepat melepaskan rasa sedih itu agar tidak berlarut larut. Ajak mereka mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa tidak menyenangkan dalam hidup mereka. Dengan demikian mereka akan terlatih mengelola dan mengekspresikan emosi mereka secara tepat.

Jika suami, anak, kakak laki-laki, ayah, atau sahabat laki-laki Anda menangis, apakah Anda akan mengatakan “Jangan cengeng. Berhentilah menangis.”?