Tags

, , , , , , , ,


Disampaikan dalam “Seminar Solusi Jitu dalam Menghadapi Pola Makan Anak yang Tidak Seimbang” bersama dr. Indra Hutagalung, Sp.A di RS Ibu dan Anak ANUGERAH BUNDA KHATULISTIWA, Pontianak 26 Juni 2011

“Anak saya sulit makan… tidak pernah mau makan nasi, meskipun lauknya enak-enak. Cuma dikunyah-kunyah, lalu dikeluarkan…seperti mau muntah. Ya, akhirnya diberi susu saja…daripada perutnya kosong…” 

Kita biasanya mendengar keluhan seperti itu, baik dari saudara, teman, atau pun tetangga. Hal itu umumnya dialami oleh anak usia balita. Meskipun, ada pula yang dialami oleh anak usia remaja, bahkan orang dewasa. AKondisi tersebut dapat dikatakan wajar apabila terjadi pada anak balita. Tapi, bersikap waspada pun tidak keliru. Dengan  juga karena berkaitan erat dengan kesehatan fisik dan psikis anak.

Perilaku ‘milih-milih makan’ ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor fisik dan faktor psikis. Faktor fisik artinya perilaku ‘milih-milih’/menolak makanan disebabkan oleh gangguan fisik, seperti gangguan sistem pencernaan (lambung, usus), gangguan di gigi geligi, masalah pada perkembangan oral-motor (hal-hal yang terkait dengan mulut dan pergerakannya), dan indera perasa (yang disebut gangguan Sensory Food Adversion).  Gangguan sistem pencernaan biasanya menyebabkan anak mual setiap kali makan. Sensory Food Adversion menyebabkan penolakan pada rasa, tekstur, suhu, dan bau makanan. Sedangkan, faktor psikis artinya perilaku ini disebabkan oleh perilaku keliru, masalah mental-emosional, dan kebiasaan yang kurang baik. Misalnya, anak diberi makan sesuai porsi orang tuanya, kalau tidak mau makan, pilihannya hanya dua, yaitu dipaksa makan atau dimarahi.

Ketika menghadapi anak yang sulit makan, orang tua cenderung bingung hendak bertanya ke siapa. Apabila Anda atau orang dekat Anda mengalami hal ini, segera bawa anak ke dokter. Dokter akan memeriksa apakah anak Anda mengalami gangguan fisik atau tidak. Jika anak mengalami gangguan fisik, maka dokter akan melakukan pengobatan. Nah, apabila anak Anda tidak mengalami gangguan fisik, anak Anda perlu dikonsutasikan ke psikolog. Psikolog akan melakukan pemeriksaan psikis (perilaku, pengalaman, kebiasaan, dsb), kemudian memberikan terapi (terapi membutuhkan kerja sama orang tua). Dalam proses terapi, anak dengan masalah sulit makan juga akan dirujuk (jika diperlukan) ke ahli gizi agar cakupan kebutuhan nutrisinya seimbang.

Mengenal Gangguan Makan dan Picky Eating
#    Gangguan makan masa bayi dan kanak
Menurut PPDGJ III (Pedoman Penegakan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi III), ‘gangguan makan masa bayi dan kanak’ adalah gangguan dengan berbagai manifestasi yang biasanya spesifik pada masa bayi dan masa kanak-kanak awal. Pada umumnya meliputi penolakan makanan dan rewel terhadap makanan yang memadai dari pengasuh yang baik, tanpa penyakit organik.

Kesulitan kecil dalam makan merupakan hal lazim pada masa bayi dan kanak (dalam bentuk penolakan seolah kurang makan atau kebanyakan makan). Ulah itu sendiri tidak perlu dipandang sebagai indikasi adanya gangguan. Suatu gangguan barulah perlu didiagnosis bila kesulitan ini jelas melampaui batas normal, bila mutu makannya abnormal, atau bila berat badan anak tidak bertambah, atau berat badan menurun dalam masa minimal sebulan.

##    Picky Eating
Picky Eating adalah pilih-pilih makanan. Picky Eater atau Fussy Eater atau Selected Eater atau Choosy Eater merupakan sebutan untuk anak yang ‘suka milih-milih makan’. Namun, sebaiknya label (sebutan) ini tidak digunakan untuk memanggil atau melabel anak karena efeknya tidak baik bagi perkembangan jiwa anak.

Tiga komponen yang berperan pada fenomena picky eating, yaitu:
1 #    Perkembangan,
Bentuk penerimaan makanan dan munculnya pola makan berkaitan erat  dengan pertumbuhan fisik, usia, dan perkembangan mental. Anak balita, khususnya yang baru lahir, tidak memiliki keinginan untuk mengkonsumsi makanan lain, kecuali susu. Seiring bertambahnya usia, anak akan mengembangkan kebutuhan fisiknya untuk nutrisi yang lebih banyak. Masa ini lah yang disebut masa transisi terhadap makanan yang lebih padat. Perilaku ‘milih-milih’ makan ini terjadi karena neophobia makanan dan tahap ‘usia 2 tahun bermasalah’. Neophobia adalah perasaan takut akan sesuatu yang baru. Makanan padat merupakan hal baru bagi anak bayi. Disebut ‘usia 2 tahun bermasalah’ karena pada fase ini anak sedang mengembangkan sikap otonomi (memiliki wewenang, mengatur diri sendiri). Sikap ini merupakan hal yang normal pada anak karena merupakan bagian dari tugas perkembangan jiwa anak,  meskipun akan memunculkan ketegangan, rasa frustasi, cemas, dan ‘adu’ kekuasaan antara anak dan orang tua.

2 #    Pilihan pribadi,
Dibalik perilaku ‘milih-milih’ makanan, sesungguhnya anak sedang menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki ’pilihan pribadi’. Ketika pilihan makan sudah ditetapkan, kanak-kanak tidak akan makan dengan mudah tanpa memperhatikan apakah isi makanannya berlemak, mengandung kolesterol, atau pun sodium. Pilihan ini biasanya dilatarbelakangi oleh nilai-nilai, perilaku, dan kepercayaanyang dijalani dalam keluarga. Dan, hasil penelitian Birch yang dipublikasikan pada tahun 1995 dalam jurnal Pediatric Clinic of North America menunjukkan bahwa beberapa pilihan makanan merupakan bawaan lahir.

3 #    Keluarga,
Banyak peneliti mengemukakan bahwa pola ‘milih-milih makan’ ini berhubungan dengan keluarga, terutama orang tua. Konsep orang tua sebagai model tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebuah analisa menyatakan bahwa pilihan makanan pada kanak-kanak berasal dari pilihan makanan anggota keluarganya.

Pola makan anak dikatakan baik bila memenuhi tiga aspek berikut:

  • Aspek fisiologis. Memenuhi kebutuhan gizi untuk proses metabolisme, membantu proses pertumbuhan, perkembangan fisik dan psikomotor anak.
  • Aspek edukatif. Anak menjadi pandai mengonsumsi makanan, dan membentuk kebiasaan memilih makanan yang baik.
  • Aspek psikologis. Memenuhi kepuasan atas rasa lapar dan haus pada anak.

Kenali gejala berikut ini untuk mendeteksi gangguan makan pada anak balita:

  • Waktu makan terlalu lama (secara umum lebih dari 45 menit)
  • Ada penolakan terhadap makanan
  • Muntah, seakan-akan tersumbat, ditahan (tidak ditelan) ketika makan
  • Ada perilaku yang tidak tepat ketika makan (misalnya memukul, menendang, melempar)
  • Menolak makanan dengan tekstur tertentu atau jenis tertentu
  • Ada kemarahan ketika dikenalkan dengan jenis makanan baru
  • Ada keluhan fisik, misalnya berat badan kurang atau pertumbuhannya kurang baik

banner-shar

Tips Mengatasi Anak yang Susah Makan

1.     Variasikan menu makan anak. Jika perlu, buat menu makan anak minimal selama 1 minggu utk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi, ibu harus berupaya memberikan makanan bervariasi. Apabila anak tidak mau nasi, bisa diganti dengan roti, makroni, pasta, bakmi, dsb.

2.     Sajikan makanan dengan menarik. Hal ini penting untuk menghindarkan kebosanan anak. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dengan lauk pauknya. Hias dengan aneka warna & bentuk. Jika perlu cetak makanan dengan cetakan kue yang lucu. Anak akan tertarik menyantap makanan yang dihidangkan apik/menarik. Misalnya sayuran, kebanyakan anak tidak suka makan sayuran. Padahal kandungan gizinya sangat diperlukan tubuh. Untuk menyiasatinya, sayuran bisa dijadikan bentuk-bentuk yang menarik. Warnanya pun mendukung untuk menarik perhatian anak.

3.     Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu makan tiba. Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan akan membuat anak tidak merasa lapar, bahkan kenyang. Cemilan padat kalori, contohnya; permen, minuman ringan, coklat, snack ber-MSG, dsb. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah kekenyangan. Cemilan yang sehat, contohnya; potongan buah, sayur kukus, keju, yoghurt, es krim, atau cake buatan ibu.

4.     Tidak minum susu terlalu banyak. Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2 gelas sehari. Mulailah melatih anak dengan berbagai jenis makanan. Ubah pola pikir orangtua. Orang tua sering kali menganggap susu sebagai makanan dewa yang bisa menggantikan makanan utama seperti nasi, sayur & lauk pauknya. Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar. Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu. Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1th, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor yang sebenarnya dapat juga diperoleh dari ikan-ikanan, sayur & buah.

5.     Orang tua ubah kebiasaan dan perilaku mereka sendiri menjadi positif. Ingat lah bahwa anak merekam, belajar & menerapkan semua hal yang ia dapat dari lingkungan sekitarnya, terutama ortunya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi. Tidak perlu takut berantakan. Feeding is about learning! Makan itu membutuhkan latihan!

6.     Pahami kondisi anak dengan baik dan jadilah ortu yang otoritatif. Artinya, orang tua bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yang baik dengan anak. Bersabarlah menghadapi anak karena pada usia >2 th, anak sering membangkang / tidak mau patuh. Pada fase ini muncul sikap yang disebut sikap negativistik. Sikap negativistik ini merupakan fase normal yang akan dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga bagian dari tahapan perkembangan balita untuk menunjukkan keinginan independent  (mandiri). Jadi, balita umumnya ditandai dengan AKU, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya power (kekuasaan). Nah, banyak ortu yang kurang memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada ortu yang mengancam anaknya, bahkan memukul. Cara-cara tersebut harus lah dihindari. Justru semakin dipaksa, anak akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya). Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa tidak mau makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa. Contoh perilaku negativistik pada anak usia balita antara lain; anak terkadang bilang tidak mau makan, padahal sudah waktunya makan, atau makanannya dilepeh, dilempar, dsb.

7.     Kembali pada konsep bina komunikasi yg baik. Jangan paksakan anak kalau tidak mau makan. Beri makanan ringan yang padat kalori, seperti makroni, roti, dsb. Anak yang tidak mau makan dapat juga disebabkan karena anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan cerewet, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.

8.     Luangkan waktu sebentar saja tetapi berkualitas. Ibu yang bekerja dapat menyuapi anaknya di antara waktunya yang padat. Sesungguhnya anak-anak sangat mengerti bila ibunya bekerja, namun coba lah untuk membentuk kedekatan dengan anak.

9.     Berikanlah kepuasan psikis kepada anak. Buatlah agar suasana hatinya senang, misalnya anak makan sambil jalan-jalan, melihat kereta api, dan lain-lain. Problem utama anak susah makan terletak pada  usia 6 bulan sampai 2 tahun. Apabila usia itu terlewati dengan bagus, ke depannya tidak ada masalah.

10.   Pada saat orang tua baik ibu maupun ayahnya pulang kerja, pertama kali yang harus disapa dan disentuh (dalam kondisi bersih) adalah anaknya. Jangan yang lain.

11.   Jangan memaksa anak makan dengan mencekoki, mencubit atau bahkan memelototi. Bagaimana bila anak tidak mau sayur, tahu-tempe, dan makanan bergizi lainnya? Sebaiknya anak ‘dilaparkan’ dulu. Kita siapkan makanan yang sudah kita programkan hingga anak berangsur-angsur menerima makanan itu. Tetapi, orang tua perlu telaten dan disiplin.

12.   Sedini mungkin menerapkan penghargaan dan hukuman yang edukatif. Misalnya, pada waktu anak mau makan dipuji, diajak jalan-jalan, ciuman, pelukan. Bila tidak mau makan, orang tua dapat mengatakan bahwa anak tidak bisa mendapatkan sesuatu yang ia sukai. Misalnya anak suka jalan-jalan, katakan, “Adek tidak mau makan, jadi ibu atau ayah tidak mau jalan-jalan lagi”.

13.   Membuat bubur sendiri. Setelah anak berusia enam bulan, lebih bagus membuat bubur sendiri, karena ada macam-macam pilihan sayuran dan lauk-pauk yang bisa mengurangi kejenuhan rasa. Misalnya, hati dengan bayam, kemudian wortel dengan tempe, kangkung dengan tahu, dan sebagainya. Namun, bila dengan makanan tersebut anak mengalami diare atau muntah maka menu harus dievaluasi.

 14.   Sedikit-sedikit dan makanan harus lebih cair. Pada saat bayi mengalami perubahan makanan seperti enam bulan, sembilan bulan hingga satu tahun, dia akan merasa-rasakan karena rasanya aneh sehingga kadang dimain-mainkan seperti dimuntahkan, ini harus dimasukkan lagi. Prinsipnya bila makanan tersebut dimuntahkan, harus sedikit-sedikit dan makanannya harus lebih cair lagi.

15.   Jangan panik. Tidak mungkin anak sengaja membuat dirinya kelaparan. Ingat, pertambahan berat anak kecil maksimal adalah 2 kg (sekitar 4 1/2 lb) setahun. Karena itu janganlah terkejut apabila dia tidak mau makan 3 kali sehari secara normal.

17.   Pastikan anak tidak mengkonsumsi jus terlampau banyak. Terlalu banyak jus membuat perut penuh dan menurunkan selera makan sehingga tidak cukup tempat untuk makanan bergizi. Bila anak merasa haus, berikan dia air minum.

19.    Jangan memberikan pilihan lain ketika anak menolak apa yang dihidangkan di depannya. Kalau anak lapar, dia akan menyantapnya pada jam makan berikutnya.

20.   Satu kali makan cukup 30 menit saja. Walau makannya tidak banyak, hentikanlah tanpa sikap emosional.

21.   Jangan jadikan makanan pencuci mulut sebagai umpan atau hadiah karena mau makan. Apabila pencuci mulut memang bagian dari menu, jangan paksa dia mengosongkan piringnya dulu. Berdasarkan penelitian, membujuk atau mengumpan agar anak mau makan seringkali akibatnya malah berlawanan dengan tujuan dan anak justru makan lebih sedikit ketimbang dibiarkan sendirian.

22.   Jangan mengganti makanan dengan suplemen multivitamin dan mineral. Berikanlah suplemen sesuai dosis yang dianjurkan ahli kesehatan anda.

23.   Ortu jadi model bagi anak. Sebaiknya kita juga memberi contoh dengan mengkonsumsi makanan yang sama dengan lahap. Bila anak melihat orang tua memakannya,  anak akan cenderung meniru dan juga ikut memakannya. Tanpa dipaksa pun, anak akan ingin mencoba makanan tersebut. Tak akan ada gunanya memaksa anak makan sayur, sedangkan orang tuanya tidak makan sayuran.

24.   Berikan anak kesempatan memilih makanan. Bila mengajak anak ke restoran, pilihlah restoran yang memberikan pilihan menu makanan yang cukup sehat. Jangan terlalu sering membawa anak ke restoran fastfood. Makan di restoran juga bisa digunakan untuk mengajar anak berperilaku baik saat makan.

25.   Kebiasaan jajan. Jajan seringkali menggangu makanan utama anak. Bila orang tua membiarkan anak untuk makan jajanan, maka di kemudian hari anak akan selalu mencari jajanan. Bila anak merengek meminta makanan yang dilihat melalui iklan TV, diberikan teman atau dioleh-olehi kerabat, tanamkan disiplin bahwa makanan tersebut boleh dimakan sehabis menikmati makanan utama. Jadi, makanan utama yang bernutrisi lah yang dibutuhkan dan tetap dikonsumsi.

26.   Jangan hukum anak bila makannya tidak oke. 

27.   Jangan menyogok anak supaya mau makan. 

28.   Jangan singgung-singgung kelakuan “nakal” anak pada saat makan. 

29.   Jangan berharap bahwa anak langsung menerima makanan baru. 

30.   Berilah contoh yang baik. Larang anak melakukan hal-hal yang tidak anda sukai, seperti membuang atau melempar makanan. Jadi lah contoh yang baik bagi anak Anda.

31.   Konsultasi ke dokter, ahli gizi, dan psikolog keluarga Anda apabila kondisi anak tidak berubah atau memburuk.

Tips Memperkenalkan Makanan Baru

  • Berikan makanan sesuai perkembangan fisik anak: mulai dari yang makanan cair seperti ASI, kemudian diatas 6 bulan bisa mulai makanan halus (susu bubuk, bubur bayi, tepung-tepungan), setelah usia 1 tahun mulai makanan lunak (bubur dihaluskan), setelah mulai tumbuh gigi mulai makanan padat (nasi, biskuit).
  • Selalu tampilkan satu jenis makanan baru pada makanan kesukaan anak.
  • Libatkan anak saat menyiapkan makanan baru.
  • Jangan paksa anak melakukan apa pun pada makanan barunya, biarkan dia familiar dan kenal dengan makanan itu. Bisa juga dilakukan diwaktu bermain.
  • Sampaikan informasi kepada anak tentang makanan barunya. Katakan apakah makanan itu manis, asin, atau asam. Makan sedikit makanan itu di depan anak, ekspresikan rasa enak, dan katakan, “Hmmm, enaaak!”
  • Biarkan anak Anda  menyentuh dan menjilat makanan itu, meskipun tidak dimakan.
  • Biarkan anak Anda memuntahkan atau mengeluarkan makanan itu dari mulutnya.
  • Mulailah dengan jumlah/ukuran yang kecil saja. Misalnya, setengah sendok makan saja. Biarkan anak yang  mengukurnya.
  • Coba dan coba lagi, paling tidak sebanyak 15 kali.
  • Lebih kreatif untuk mencoba makanan baru yang bertekstur, misalnya makanan yang agak garing atau halus.
  • Hindari sikap emosional yang ‘menyerang’ anak (yang sedang cemas menerima makanan barunya). Lakukan dengan tenang. Tampakkan suasana yang menyenangkan, bahwa anak menikmati makanannya.
  • Hindari sikap memaksa, pelihara rasa percaya bahwa anak mau menerima makanan barunya.
  • Berikan reward atau sesuatu yang menyenangkan hatinya kalau anak berhasil menikmati makanan barunya. Reward tidak harus berwujud benda. Bisa juga dengan kata-kata dan ekpresi rasa bangga dan senang. Misalnya, “Hore, makanannya habis…”, sambil tepuk tangan, lalu mencium pipi anak. Ingat, jangan berikan makanan sebagai reward.
  • Pastikan seluruh anggota keluarga bekerja sama. Coba suapi anggota keluarga yang lain dan tunjukkan bahwa makanan itu enak.
  • Selamat mencoba! (Maria Nofaola)

“Tanggung-jawab Anda  adalah memberikan ragam makanan yang bergizi seimbang. Tanggung-jawab anak adalah memutuskan berapa banyak yang dikonsumsi

banner-impian-468x60

SUMBER

  • Carruth, B.R., Skinner, D. (2011). Revisiting the Picky Eater Phenomenon: Neophobic Behaviors of Young Children. American College of Nutrition. Diunduh 3 Juni 2011.
  • Carruth, B.R., Skinner, J., Houck, K., Moran, J., Coletta, F., & Ott, D. (1998). The Phenomenon of “Picky Eater”: A Behavioral Marker in Eating Patterns of Toddlers. Journal of the American College of Nutrition. 17 (2), 180-186.
  • Stephens, K. (2002). Nutrition: Build Good Eating Habits to Slide-Step Picky Eaters. Parenting Exchange.
  • Kazmi, N. R., Khawar, N., & Bano, Q. (2006). Toddler’s Picky Eating Habits—A Review. Journal of Medical Sciences, 14 (1). 1-4.
  • Mascolaa, A.J., Brysona, S.W., & Agras, W.S. (2010). Picky Eating During Childhood: A Longitudinal Study to Age 11 Years. Eating Behaviour. 11 (4).  253-257.
  • Maycock, D. Ten Picky Eaters Tips. Diunduh 2 Juni 2011, dari, http://www.sensory-processing-disorder.com.
  • Liebbe, K. (2005). Picky eating among girls – Can mother’s pressure cause it?. Diunduh 1 Juni 2011.
  • Van Hom, J.E., Picky Eater. Diunduh 1 Juni 2011, dari, www. Betterkidcare.edu.
  • Wardle, J., Guthrie, C.A., Sanderson, S., & Rapoport, L. (2001). Development of the Children’s Eating Behavior Questionnaire. Journal of Child Psychology and Psychiatriy, 42 (7), 963-970.
  • Winkelmann, D. (2009)., Problem Feeders. Issue. 32. Diunduh 16 Juni 2011, dari, http://www.autismfile.com.
  • Berbagai artikel