Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,




Jatuh hati pada kemudahan transaksi BCA

Bank Central Asia, mengiringi perjalanan hidup saya. Berawal di tahun 1997, saya yang saat itu masih berusia 15 tahun, merantau ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas. Saya tidak pernah menyangka bisa merantau hingga sampai di tempat yang jauh dari kota asal saya, Pontianak. Jarak tempuh Pontianak-Yogyakarta kurang lebih tiga hari, dua malam menggunakan kapal laut ditambah perjalanan darat. Saya hidup jauh, tanpa dampingan orang tua dan keluarga secara langsung di usia yang muda. Keputusan ini diambil oleh orang tua saya atas dasar pertimbangan keamanan dan kualitas pendidikan saya. Keamanan di Kota Pontianak pada tahun 1997 sedang tidak aman, dan pada tahun tersebut ayah saya yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil mendapat tugas di kota kecil dekat daerah perbatasan Indonesia-Malaysia.  Jadi, demi keamanan dan mendapatkan pendidikan yang baik, orang tua menawarkan saya untuk bersekolah di sekolah homogen (khusus putri) dan tinggal di asrama (meski akhirnya saya kos karena asrama sudah penuh) di Yogyakarta.

Jarak yang jauh, dari kota kecil di pelosok Kalimantan Barat hingga Yogyakarta, membuat proses pengiriman uang menjadi lama. Pada saat itu belum ada bank yang beroperasi di kota kecamatan tempat ayah saya bekerja. Jadi, saya harus menunggu tukang pos mengantarkan kabar gembira.

Betapa beruntungnya saya, beberapa bulan setelah masuk sekolah ada pengumuman bahwa petugas Bank BCA akan datang ke sekolah. Jadi, siswi yang ingin membuka rekening BCA, bisa mengisi formulir menjadi nasabah BCA. Saat itu syaratnya cukup dengan melampirkan poto kopi kartu pelajar saja. Saya sangat senang dengan layanan perbankan seperti itu. Bank BCA memberikan kemudahan, bersikap pro-aktif, dan peka terhadap kebutuhan-kebutuhan calon nasabahnya. Saya sangat bersyukur pada waktu itu. Keputusan untuk membuka rekening BCA saat itu hanya karena pertimbangan sederhana, yaitu karena BCA terkenal dan bagus. Maklum saja waktu itu saya masih “anak-anak” dan belum mengerti tenang kualitas perbankan. Selain itu karena merasa mendapat kemudahan dan dimanjakan oleh layanan perbankannya; saya tidak perlu pergi jauh-jauh ke bank dan tidak perlu menunggu usia 17 tahun untuk menyertakan KTP sebagai syarat administrasi.

Seingat saya, kartu ATM BCA pertama saya berwarna nuansa abu-abu (tahun 1997). Ini desain yang lebih baru.

Saya akhirnya memutuskan untuk memiliki tabungan BCA dengan dilengkapi kartu ATM (Automated Teller Machine atau Anjungan Tunai Mandiri) supaya bisa mengambil uang kiriman orang tua kapan saja dan tanpa harus mengantri panjang di loket teller Bank. Dan saya punya satu pengakuan lucu, ternyata memiliki kartu ATM saja mampu membuat saya bangga pada saat itu. Terlebih lagi ketika saya menggunakan kartu ATM untuk membayar belanjaan di supermarket atau pusat belanja di mall. Debit BCA namanya. Wow, benar-benar menambah prestise. Saya merasa menjadi orang paling keren. Maklumlah, saya tumbuh dalam keluarga dengan kondisi finansial biasa-biasa saja, jadi tidak akrab dengan kartu ATM (apalagi kartu kredit). Bahkan, orang tua saya baru memiliki kartu ATM beberapa tahun terakhir ini.

Di saat-saat genting, saya pun terbantu dengan adanya ATM BCA. Tahun 2006, di saat uang tabungan menipis, saya mendapat serangan asma pertama. Sebagai orang yang baru menyandang asma dan tidak pernah sesak nafas berat sebelumnya, tentu ini membuat panik banyak pihak; saya, teman-teman, adik, dan orang tua saya di Pontianak. Karena sesak, saya pun pergi ke rumah sakit dan langsung mendapat pelayanan di bagian UGD (Unit Gawat Darurat). Disaat mendesak itu, adik saya menghubungi orang tua di Pontianak agar segera mengirimkan uang untuk biaya berobat dan administrasi rumah sakit. Adik saya menerima uang kiriman dari orang tua dalam waktu yang cepat. Sebetulnya uang yang dibutuhkan tidak banyak, beberapa ratus ribu saja. Tetapi, maklum saja waktu itu saya belum pandai menyisihkan uang untuk keperluan mendesak. Namun, peristiwa itu mengajarkan saya akan arti pentingnya tabungan tak terduga, khususnya kerperluan di saat sakit. Dari pengalaman ini pula saya menyadari betapa BCA memberi kemudahan transaksi bagi nasabahnya. ATM BCA ada dimana-mana, di saat mendesak kita bisa mengambil uang dengan cepat. Meskipun ada halangan (misalnya mesin rusak atau uang di ATM habis) kita masih bisa berlari ke ATM terdekat lainnya.

Kini…

Saya telah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Seperti yang kita ketahui bersama, PNS memiliki rekening tabungan di bank milik negara. Namun, saya juga masih bersama Bank BCA. Alasan saya bertahan menggunakan produk perbankan BCA ialah kemudahan transaksi yang diberikannya. Selain bekerja sebagai abdi negara, saya juga berbisnis dan menjadi penulis lepas di sebuah majalah. Pembayaran honor menulis dan segala macam transaksi keuangan saya lakukan dengan BCA. Bahkan, semenjak ada mesin ATM tunai, aktivitas transaksi keuangan terkait dengan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari berjalan dengan lancar. Jika uang tabungan tidak mencukupi, saya bisa mentransfer uang dengan cara memasukkan sejumlah uang ke mesin ATM setoran tunai. Intinya adalah Bank BCA memberikan nasabahnya kemudahan transaksi: mudah tarik tunai, mudah setor tunai, transfer, dan mudah melakukan pembayaran.

Masa depan…

Meskipun saya masih berstatus lajang (belum pernah menikah), saya sudah mulai memikirkan rencana masa depan. Bicara tentang masa depan, saya sangat tertarik dengan kebebasan finansial. Untuk mencapai kebebasan finansial ini, saya ingin sekali menjadi seorang investor. Tentunya menyenangkan jika bisa hidup tanpa dibebani pikiran “Ayo, kerja…supaya dapat uang!”, bisa melakukan hobi, menikmati hari-hari bersama keluarga, serta jalan-jalan ke luar negeri untuk melihat kemajuan teknologi dan budaya negara lain. Dengan menjadi investor kita tidak harus bekerja sepanjang waktu, seumur hidup kita demi mendapatkan uang. Kalau boleh meminjam istilah yang digunakan teman saya “bekerja demi mendapatkan segepok berlian”. Untuk bebas secara finansial, kita hanya perlu bekerja secara cerdas dalam kurun waktu tertentu dan mengarah ke investasi.

Mungkin Anda berpikir bahwa saya harus membangun sebuah perusahaan terlebih dahulu untuk memperoleh uang yang banyak agar bisa menjadi investor dan mencapai kebebasan finansial itu. Tidak. Saya memiliki konsep yang lain, mengingat produk dan bentuk investasi itu bermacam-macam. Produk investasi bisa dalam bentuk surat berharga, obligasi, dan bunga. Sedangkan bentuk investasi dapat berupa emas, tanah, pendidikan, penelitian, saham, dan hasil karya. Pengertian sederhana dari investasi ialah menanam modal yang diharapkan dapat memberi keuntungan di masa datang.

Saya ilustrasikan secara sederhana, begini: pendidikan juga merupakan modal, yang kemudian diharapkan memberi keuntungan bagi kita berupa pekerjaan dengan penghasilan yang tinggi. Contoh lain, emas dan tanah. Beberapa tahun kemudian harga emas dan tanah meningkat, kita bisa mendapat keuntungan beberapa persen dari harga semula.

Nah, rencana dan konsep investasi saya ialah berupa royalti. Royalti atas apa? Saya tertarik dengan royalti atas hasil karya berupa tulisan atau buku. Ya, menjadi penulis dengan predikat best seller (buku dengan penjualan terlaris) yang bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa asing merupakan salah satu passion saya.  Alasan utama saya ingin menjadi investor ialah ingin merasakan “kebebasan”; melakukan sesuatu karena ingin mengaktualisasi diri, bukan dituntut oleh situasi atau orang lain.

Apakah Anda berpikir impian saya terlalu tinggi? Alangkah baiknya jika kita bersyukur atas adanya impian, cita-cita, dan harapan dalam hidup kita. Mereka bertugas mengarahkan hidup kita pada satu hal yang positif dan mulia, ibarat arah mata angin yang digunakan pelaut sebagai navigasi, ibarat papan sasaran pada lomba memanah, ibarat gawang dalam pertandingan sepak bola, ibarat garis finish pada lomba lari, dan ibarat terang yang menunjukkan jalan di kegelapan malam. Ada pepatah mengatakan “Jangan lah takut untuk meraih langit karena jika ‘tak sampai pun kamu sudah berada di antara bintang-bintang”. Jadi, tidak perlu takut memiliki impian yang tinggi. Yang perlu kita lakukan ialah melatih diri kita untuk memahami realita, memaknai ketidakberhasilan secara positif, dan  mengoreksi kekurangan.

Adakah korelasi antara passion menjadi penulis dengan Bank BCA?
Tentu ada, meskipun tidak berkorelasi langsung. Jika kita bicara tentang investasi, berarti kita juga bicara tentang money dan profit. Tentu saja hasil yang diperoleh dari sebuah usaha itu akan disimpan di bank yang memberi solusi perbankan yang baik seperti Bank BCA (www.bca.co.id). Tugas saya sekarang adalah membangun “usaha” saya dengan menulis secara cerdas.