Tags

, , , , , , , , , ,


Di kehidupan kantor, sering kali saya memperhatikan dan mendengar teman-teman kantor, khususnya ibu-ibu muda, yang membahas masalah nutrisi halal untuk bayi dan balitanya, yaitu susu. Kendala yang mereka hadapi ialah ASI yang kurang, padatnya jam kerja, dan memiliki tingkat stress yang tinggi. Sebagai seorang non-muslim dan belum menjadi ibu, topik ini menggelitik hati saya. Terlebih lagi setelah menyaksikan perdebatan ‘sengit’ tentang kualitas; halal atau tidaknya suatu produk. Saya hanya bisa menyimak sambil tertawa geli melihat ekspresi masing-masing orang ketika mempertahankan argumennya. Kemudian, saya menemukan informasi tentang kontes blog kerja sama antara BLOGdetik, LPPOM MUI, dan Frisian Flag dengan tema “Susu Inovasi Yang Sehat dan Halal Untuk Pertumbuhan Anak”. Ini membangkitkan semangat saya untuk mengenal dan memahami “halal” lebih dekat, khususnya kehalalan susu (seperti produk Frisian Flag) yang sangat dibutuhkan oleh bayi dan balita.

Apa, sih, yang dimaksud dengan halal?

Halal berasal dari bahasa Arab, yaitu halla, yang berarti lepas atau tidak terikat. Halal bisa juga berarti dibenarkan. Halal di dalam kamus Fiqih dipahami sebagai segala sesuatu yang boleh dikerjakan atau dimakan. Istilah ini umumnya berkaitan dengan makanan dan minuman. Sedangkan, yang dimaksud dengan pangan halal menurut Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 1999 ialah pangan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam, baik yang menyangkut bahan baku pangan, bahan tambahan pangan, bahan bantu dan bahan penolong lainnya termasuk bahan pangan yang diolah melalui proses rekayasa genetika dan iradiasi pangan, dan yang pengelolaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum agama Islam.

Bagi umat muslim, mengkonsumsi makanan yang halal dilandasi iman dan taqwa karena mengikuti perintah Allah merupakan ibadah yang mendatangkan pahala dan memberikan kebaikan dunia dan akhirat. Berikut ini saya kutip beberapa ayat Al-Quran yang saya peroleh dari website www.halalmui.org:

QS Al Maidah : 3

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tecekik, yang dipukul, yang jatuh ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali kamu sempat menyembelihnya.”

QS Al Baqarah : 173

“Sesungguhnya Allah yang mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan yang disembelih dengan nama selain Allah.”

QS Al Maidah : 4

“Dan makanlah binatang yang ditangkap dalam buruan itu untukmu dan sebutlan nama Allah ketika melepaskan hewan(anjing) pemburunya.”

QS Al An’ am : 121

“Dan janganlah kamu makan sembelihan yang tidak menyebut nama Allah dan sesungguhnya yang demikian itu fasik.”

QS An Nahl : 67

“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan.”

QS Al Baqarah : 219

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi; Katakanlah : “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.”

QS An Nisa : 43

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”

Dari ayat-ayat di atas, kita dapat mengetahui bahwa bangkai, darah, babi, binatang yang disebelih selain menyebut nama Allah, dan  minuman keras merupakan sesuatu yang diharamkan. Selain lima hal itu, semua makanan dihalalkan, dengan mengingat bahwa makanan yang halal juga harus halal secara zat, halal secara proses, dan halal dari cara memperolehnya.

Bagaimana kita mengetahui apakah suatu produk halal atau tidak?

Label “Halal” yang resmi

Bagi Indonesia dengan penduduk yang mayoritas memeluk agama Islam, kehalalan suatu produk menjadi hal yang sangat penting dan harus diperhatikan. Bentuk nyata perhatian pemerintah menanggapi hal ini dinyatakan dengan adanya Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1996 tentang Pangan, pasal 30, yang mengegaskan kewajiban mencantumkan label “HALAL” pada suatu produk makanan dan minuman, serta isi label kemasan mencakup nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat atau isi bersih, nama dan alamat produsen, keterangan tentang halal, tanggal, dan bulan kadaluarsa.

Label “HALAL” pada suatu produk menunjukkan bahwa produknya sudah mendapat sertifikat halal. Sertifikat halal adalah fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari’at Islam. Untuk memperoleh sertifikat halal ini, produsen harus mendaftarkan produknya ke sekretariat LPPOM MUI. Kemudian mengikuti prosedur proses sertifikasi. Bagan di bawah ini adalah bagan alur proses sertifikasi halal:

Pemeriksaan (audit) suatu produk oleh Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia dilakukan dengan cara:

  • Memperhatikan manajemen produsen dalam menjamin kehalalan produk (Sistem Jaminan Halal).
  • Memeriksa dokumen-dokumen spesifikasi yang menjelaskan asal-usul bahan, komposisi dan proses pembuatannya dan/atau sertifikat halal pendukungnya, dokumen pengadaan dan penyimpanan bahan, formula produksi  serta dokumen pelaksanaan produksi halal secara keseluruhan.
  • Melakukan pengamatan lapangan pada proses produksi secara keseluruhan mulai dari penerimaan  bahan, produksi, pengemasan dan  penggudangan serta penyajian untuk restoran/catering/outlet.
  • Memperhatikan apakah keabsahan dokumen dan kesesuaian secara fisik sudah dipenuhi atau belum.
  • Mengambil contoh (sampel) untuk bahan yang dinilai perlu

Maka, dengan adanya label “HALAL” yang resmi di kemasan suatu produk, kita dapat memastikan bahwa produk tersebut halal untuk dikomsumsi.

Apakah susu halal? Bagaimana dengan susu Frisian Flag?

Ya, susu halal. Namun, kita juga perlu memperhatikan bagaimana proses pembuatan susu tersebut dan cara memperolehnya karena kehalalan suatu benda dapat menjadi tidak halal diakibatkan faktor-faktor eksternal, misalnya masuknya unsur-unsur enzim rennet dalam proses pembuatan susu. Enzim ini didapat dari lambung anak sapi. Apabila rennet yang digunakan berasal dari sapi yang tidak disembelih secara syariah Islam, maka produk susu yang dihasilkan dapat tercampur bahan yang haram sehingga statusnya juga menjadi haram.

Frisian Flag yang dikenal dengan nama Susu Bendera merupakan produsen susu ternama di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1922. Sekarang usianya sudah 90 tahun. Dalam memproduksi dan mendistribusikan produk susu, Frisian Flag mengikuti standar nasional dan internasional, serta senantiasa mendukung perkembangan holistik anak dan mempromosikan ASI eksklusif sesuai dengan petunjuk WHO. Oleh karena itu Frisian Flag tidak memproduksi susu untuk anak usia di bawah 1 tahun.

Logo Baru Frisian Flag

Dan pada tahun 2012 ini, Frisian Flag mendapat penghargaan Peduli Gizi 2012 yang diberikan oleh Perhimpunan Peminat Gizi Pangan Indonesia (PERGIZI-PANGAN) dan Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI). Penghargaan ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak mengutamakan profit semata, namun juga memperhatikan kualitas produk yang dijualnya.

Frisian Flag yang terkenal dengan jingle “Raih Esokmu” ini telah mendapat Sertifikat Halal, oleh karena itu Frisian Flag berhak menyertakan label “HALAL” di kemasan produk susunya. Jadi, sekarang kita dapat memastikan bahwa susu Frisian Flag adalah produk halal. Kita tidak perlu ragu lagi memberikan bayi dan balita kita produk susu Frisian Flag.

Berikut ini adalah jingle “Raih Esokmu” yang juga biasa kita lihat di telivisi:


Seperti yang kita ketahui, susu sangat dibutuhkan bayi dan balita, khususnya bagi yang tidak mendapatkan Air Susu Ibu secara cukup. Selain faktor genetis dan stimulasi, asupan nutrisi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembanan seorang anak; bagaimana perkembangan motorik kasar, morotik halus, kemampuan bahasa, dan perkembangan sosial-kemandiriannya di kemudian hari.

Nutrisi yang baik meningkatkan kecerdasan anak

Frisian Flag dengan inovasi terbarunya, yaitu Frisian Flag 123 dan 456 dengan isomaltulosa memberikan asupan nutrisi yang positif kepada bayi dan balita kita. Isomaltulosa yang terkandung dalam susu Frisian Flag ini merupakan zat karbohidrat alami yang berasal dari tebu dan madu. Dengan adanya  isomaltulosa dalam susu yang diminumnya, maka bayi dan balita akan memiliki energi yang lebih lama karena menghasilkan glukosa alami yang mempunyai respon glikemik rendah dan diproses secara lambat oleh tubuh. Nutrisi isomaltulosa ini penting karena otak bayi dan balita membutuhkan energy sebesar 40% dari energi tubuhnya, meskipun tubuhnya sedang tidur. Otak melakukan banyak hal dan bekerja lebih lama. Selain itu, isomaltulosa juga berfungsi meningkatkan tingkat perhatian pada otak, membantu proses pengenalan gambar, meningkatkan kecepatan memahami dan memilih angka, meningkatkan kualitas memori, meningkatkan kecepatan ingatan, dan meningkatkan kemampuan berkonsentrasi.

Selain isomaltulosa, tentu saja susu Frisian Flag 123 dan 456 ini dilengkapi dengan nutrisi lainnya, seperti lemak omega-3, omega-6, omega-9, dan mineral. Semuanya berkontribusi meningkatkan kualias pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita.

Jadi, tidak perlu ragu lagi, ya, Bu. Susu Frisian Flag adalah Susu Inovasi Yang Sehat dan Halal Untuk Pertumbuhan Anak.


Referensi

Apa itu Halal. (n.d). Dalam Detik Food. Diperoleh dari http://food.detik.com/static/2

Aprilia, R. (2012). Isomaltulosa, Berikan Asupan Energi Lebih Banyak. Diperoleh dari http://life.viva.co.id/news/read/311708-isomaltulosa-berikan-asupan-energi-lebih-lama

Aprilia, R. (2012). Otak Anak Tak Pernah Tidur. Diperoleh dari http://life.viva.co.id/news/read/304568-otak-anak-tak-pernah-tidur-

Child Welfare Information Gateway. (2009). Understanding the Effects of Maltreatment on Brain Development. Diperoleh dari http://www.childwelfare.gov/pubs/issue_briefs/brain_development/how.cfm#growing

Inovasi Baru Isomaltulosa Frisian Flag untuk Anak Indonesia. (2012). Dalam Detik Health. http://health.detik.com/read/2012/06/21/174700/1947531/763/inovasi-baru-isomaltulosa-frisian-flag-untuk-anak-indonesia

Isomaltulosa. (2012). Dalam Wikipedia. Diperoleh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Isomaltulosa

Mengenal Titik Kritis Haram Pada Susu Olahan. (n.d). Dalam Lembaga Pengkajian Pangan Obat obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia. Diperoleh dari http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/detil_page/8/727/30/

Pentingnya Makanan Halal. (n.d). Dalam Lembaga Pengkajian Pangan Obat obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia. Diperoleh dari http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/go_to_section/14/39/page

Rofi’i, S. (2010). Pengertian Halal dan Haram Menurut Ajaran Islam. LPOM Bali. Diperoleh dari http://www.halalmuibali.or.id/?p=56

Sertifikasi Produk Halal. (n.d). Dalam Lembaga Pengkajian Pangan Obat obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia. Diperoleh dari http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/go_to_section/15/41/page/1

Tribuwana. (2008). Definisi Halal. Diperoleh dari http://directoryhalal.multiply.com/journal/item/2?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Tribuwana. (2008). Pedoman Untuk Memperoleh Sertifikasi Halal. Diperoleh dari http://directoryhalal.multiply.com/journal/item/1

Zawanah., Munir., & Muhaimin, A. (n.d). Halal: Antara Tuntunan Agama dan Strategi Ekonomi. Diperoleh dari http://www.islam.gov.my/muamalat/sites/default/files/kertas_ilmiah/2010/04/halal_antara_tuntuan_agama_dan_strategi_ekonomi.pdf

Jingle Raih Esokmu. Diperoleh dari http://www.youtube.com/watch?v=DZq1dSWXp4M