Tags

, , , , , , , ,


Artikel ini diterbitkan di majalah Psikologi Plus.

Pertanyaan seperti judul di atas biasa dipertanyakan oleh para orang tua, baik kepada dirinya sendiri, maupun kepada teman dekatnya. Sehingga, tak jarang orang tua jadi merasa kesal kepada anak dan bahkan kepada dirinya sendiri. Mereka merasa kesal kepada anaknya karena tidak mau mendengarkan apa yang mereka ucapkan dan lebih memilih untuk mendengar nasihat atau teguran orang lain. Atau, orang tua tersebut merasa kesal kepada dirinya sendiri karena “merasa” telah gagal menjadi orang tua dan tidak mampu membina relasi yang baik dan menyenangkan dengan anak-anak mereka.

Untuk menjawab pertanyaan, “Mengapa anak kita lebih dekat dengan orang lain daripada kita?” tentunya tidak mudah karena hal yang tekait dengan masalah ini. Justru kita perlu membalikkan beberapa pertanyaan kepada diri kita.

Berapa banyak waktu yang kita berikan buat anak-anak Anda?

Ketika pertanyaan ini diajukan, beberapa orang tua tentunya baru menyadari bahwa ternyata waktu yang diberikan kepada anak-anak mereka sangat sedikit. Mereka asyik mengurus kesenangan pribadinya, sibuk dengan pekerjaan atau sibuk “bersosialisasi” dengan teman-temannya. Para orang tua kurang menyadari betapa anak-anak mereka membutuhkan perhatian dan kasih sayang, serta kurang peka terhadap kebutuhan anak-anak mereka, kapan anak-anak membutuh sapaan dan sentuhan dari orang tuanya.

Dengan frekuensi bertemu yang sedikit dengan orang tua, sangat wajar jika anak menjadi tidak akrab dengan orang tuanya. Anak akan dekat dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang memahami mereka dan memiliki banyak waktu untuk bermain bersama mereka. Bisa kita bayangkan, dengan kehadiran seseorang yang memperhatikan mereka, mereka sangat merasa senang.

Kehadiran figur orang tua sebagai pelindung dan pemberi kasih sayang merupakan figur yang dinanti-nantikan oleh anak. Ketika anak tidak bisa menemui orang tua dengan figur yang mereka inginkan disaat-saat mereka membutuhkan, anak akan merasa bingung dan kesepian. Di dalam kebingungannya, anak akan berusaha mencari sosok pengganti orang tua itu. Ketika ia menemukan figur baru yang sesuai dengan harapannya, anak akan sangat merasa senang dan nyaman. Kelekatan antara anak dengan “seseorang” yang menjadi “pesaing” orang tua ini tentunya tidak disadari oleh anak. Di dalam relasi itu tumbuh kepercayaan. Oleh karena itu, tanpa disadari pula oleh anak, anak akan cenderung menuruti apa yang diinginkan atau diperintahkan oleh orang tersebut.

Bagaimana perasaan dan sikap kita ketika anak Anda lebih dekat dengan orang lain?

Mungkin ada beberapa orang tua yang merasa biasa-biasa saja, namun tentunya ada pula orang tua yang mengalami stres dengan situasi seperti ini. Orang tua merasa tidak dihargai sebagai orang tua, merasa tersaingi oleh orang yang mampu dekat dengan anak mereka, merasa kesal, kecewa, merasa telah gagal menjalin relasi yang baik antara orang tua-anak, bahkan muncul rasa jealous (cemburu).

Perasaan yang dialami para orang tua ini sangat wajar. Secara lugas, dapat dikatakan bahwa tidak ada orang tua yang ingin menjadi orang tua nomor dua. Setiap orang tua tentunya ingin menjadi orang tua yang paling baik bagi anak-anaknya. Namun, perlu disadari juga bahwa kita harus berhati-hati dengan perasaan kita. Jangan sampai pemakluman-pemakluman terhadap perasaan kita sendiri menjadi senjata baru yang dapat merusak relasi kita dengan anak. Karena merasa kecewa, kesal, dan merasa disaingi akhirnya kita “membenci” sikap anak, memarahi, dan melakukan tindakan-tindakan yang justru membuat anak merasa terancam atau tertekan dengan sikap kita. Semua tindakan itu kita lakukan dengan mengatasnamakan rasa kesal dan kecewa dengan sikap anak yang tidak mau menuruti perkataan atau keinginan kita.

Dengan sikap yang “menakutkan” itu, anak justru memiliki pandangan yang negatif terhadap orang tuanya. Sosok orang tua bukan lagi sosok yang melindungi dan memberikan kasih sayang, tetapi justru menjadi sosok yang tidak menyenangkan atau menakutkan. Anak semakin menjauh dari orang tua dan semakin dekat dengan sosok yang mau melindungi dan menyenangkan itu.

Dalam hal ini sikap kita lah yang menjadi penentu, dengan siapa kelak anak kita akan bergaul. Apabila kekecewaaan dan perasaan-perasaan negatif orang tua diekspresikan ke anak, situasi rasanya tidak akan terselesaikan. Justru kita membuat situasi semakin memburuk karena telah membentuk siklus yang berulang, artinya sebuah sikap yang buruk akan menimbulkan reaksi yang buruk pula, lalu adanya reaksi yang buruk itu menimbulkan sikap yang lain lagi, begitu selanjutnya.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki situasi?

Apabila orang tua ingin memperbaiki situasi yang membuatnya tidak nyaman itu, orang tua perlu merubah sikap. Merubah sikap bukan berarti orang itu tidak boleh merasa kecewa atau kesal atau “cemburu” dengan “pesaingnya”, tetapi menahan untuk tidak “melampiaskan” rasa kecewa itu kepada anak. Kita sebagai orang tua perlu memperbaiki situasi dan mendekati anak dengan memberikan waktu, perhatian, dan kasih sayang kepada anak. Selain itu, orang tua juga perlu menjalin komunikasi dengan anak, artinya mengajak anak membicarakan topik-topik tertentu, mungkin membicarakan keinginan, harapan, dan cita-citanya. Hal ini penting karena dengan mengetahui pemikiran dan pandangan anak, orang tua akan semakin mengenal anak-anak mereka. Dengan cara ini pula orang tua bisa memberi pemahaman-pemahaman tentang pandangan dan pemikiran mereka kepada anak. Proses yang dijalani inilah yang membentuk kedekatan antara orang tua dengan anak.

Bagaimana dengan anak Anda??