Tags

, , ,


Akhir-akhir ini sering mucul berita tentang tawuran di televisi. Tidak hanya kata-kata si penyiar, tapi juga menampilkan rekaman TINDAKAN tawuran itu sendiri. Seperti yang kita lihat, ada yang membawa kayu, senjata tajam, yang diujungnya gear motor lalu diputar-putar di udara, ada juga aksi pukul memukul, kejar kejaran, dsb. Berita yg ‘mengerikan’, bukan? Manfaat nonton berita adalah menambah wawasan. Ya, tepat sekali. Dapat menambah wawasan seorang anak untuk melakukan tindakan kekerasan. Artinya, berita seperti ini pun memiliki efek yang negatif, loh, terutama buat anak-anak kita yg belum dewasa. Tontonan ‘kekerasan’ yang berulang kali disodorkan tanpa disadari terekam di memori kita. Nah, jangan heran jika kelak ketika kanak-kanak kita berhadapan dengan sesuatu yang kurang menyenangkan, perilaku kasarnya bisa muncul. Mungkin kita akan bingung, siapa yang mengajarkan itu. Padahal orang tua dan lingkungan sama sekali tidak pernah berperilaku seperti itu.

Siapa yang dicontoh oleh anak? Apakah kita perlu mematikan televisi dan tidak menonton berita?

Oh, apa jadinya jika kita menjadi ‘ortu ga gaul’ di jaman modern dan era komunikasi ini. “Nggak banget, deh, ya!”

  • Anak-anak sesungguhnya juga perlu dihadapkan pada situasi nyata, bahwa di luar sana ada tindakan kekerasan. Ketika anak melihat tontonan itu, jelaskan pada mereka bahwa tindakan itu tidak baik, bisa melukai, melanggar hukum, berantem spt itu adalah tindakan yg tidak dewasa, dsb.
  • Berikan contoh bagaimana menolak ajakan teman yg negatif.
  • Jelaskan bahwa setia kawan itu bukan berarti selalu mendukung dlm segala hal.
  • Lalu, apa yg harus dilakukan ketika ‘terjebak’ dlm situasi tawuran itu. hal ini perlu karena ada beberapa anak yang sebenarnya tidak ingin tawuran, terpaksa harus mengambil ‘pelindung’ (kayu, besi, dsb) utk mengamankan/membela diri. Otomatis akan terlibat dalam tawuran itu.
  • Jadi, cobalah latih diri Anda untuk membangung komunikasi dua arah dengan anak. tidak melulu satu arah, yg sifatnya memerintah, menginstruksi, melarang “kamu begini”, “jangan begitu”, “harus itu”, dsb. Tapi dua arah, artinya, ada tanya jawab. Respon lah pertanyaan anak dgn baik, “Mengapa, ada apa, siapa,” lalu silakan beri nasihat/ wejangan/larangan bila perlu.