Tags

, , , , , , , ,


Kerap kali saya dipanggil “dokter” oleh klien/pasien saya di Rumah Sakit. Bahkan, ketika saya bertemu dengan orang baru, saya sering kali ditanya tentang apa beda psikolog dan psikiater. Dari pertanyaan-pertanyaan yang serupa, saya mengetahui bahwa banyak orang belum mengetahui perbedaan psikolog klinis dan psikiater.

Beda psikolog dan psikiater dari segi latar belakang pendidikan:
– Psikolog: mengikuti pendidikan strata 1 jurusan psikologi. Lulus S1 mendapat gelar Sarjana Psikologi (S.Psi). Kemudian melanjutkan ke jenjang keprofesian psikologi, setelah lulus mereka akan mendapat gelar keprofesian “Psikolog”. Sekarang ini, program keprofesian psikolog sudah setara S2. Jadi, dengan mengikuti perkuliahan di Magister Profesi Psikologi, para lulusan akan mendapat gelar M.Psi sekaligus gelar profesi “Psikolog”. Pada jenjang ini sudah ada spesialisasi, yaitu bidang psikologi klinis, psikologi pendidikan, dan psikologi industri-organisasi. Para psikolog yang bekerja di seting kesehatan atau Rumah Sakit kemudian mendapat sertifikasi sebagai psikolog klinis dikenal dengan sebutan “psikolog klinis”. Mahasiswa Magister Profesi Psikologi bidang klinis melakukan praktik kerja di Puskesmas dan Rumah Sakit Jiwa/Umum.
– Psikiater: mengikuti pendidikan strata 1 jurusan kedokteran. Lulus S1 mendapat gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked). Kemudian melanjutkan ke jenjang keprofesian yang dikenal dengan istilah “Koas”, setelah lulus mereka akan mendapat gelar keprofesian “Dokter”. Setelah mendapat gelar dokter, melanjutkan ke pendidikan spesialis kejiwaan sehingga setelah lulus akan mendapat gelar “dokter spesialis kejiwaan” atau yang disingkat “Sp.KJ”.

Apakah psikolog (atau lulusan dari psikologi) beralih menjadi psikiater? Dan sebaliknya, seorang psikiater (dokter) menjadi psikolog?
Bisa, dengan syarat harus mengulang lagi dari pendidikan S1.  Apabila sudah menjadi dokter, kemudian langsung mengambil profesi psikologi, itu tidak bisa. Begitu pula seorang psikolog tidak bisa mengambil kuliah spesialis dokter jiwa. Psikolog dan psikiater adalah profesi dari dua ilmu yang berbeda. Jadi, untuk menjadi psikolog dan psikiater, kamu harus mengikuti jalur pendidikan yang sudah ditetapkan.

Nah, psikolog klinis dan psikiater yang bekerja di seting yang sama, yaitu Rumah Sakit, tentunya membuat banyak orang bingung dan salah kaprah. Kadang-kadang psikolog klinis pun disebut psikiater dan dipanggil “dokter”. Tetapi, dengan memperhatikan perbedaan latar belakang tersebut, tentu teman-teman sedikit lebih mengerti perbedaan dasarnya. Ilmu kedokteran mempelajari FISIK, sedangkan ilmu psikologi yang mempelajari PSIKIS manusia. Dua hal ini berbeda, tapi saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Kondisi fisik tidak lah dapat dipisahkan dari kondisi psikis kita, begitu pula sebaliknya. Sebagai contoh, disaat kita merasa takut akan menghadapi ujian, kita jadi keringat dingin, tangan bergetar, nafas jadi ngos-ngosan, dan bahkan ada yang jadi ‘beser’ alias buang air kecil melulu.

Setelah mengetahui perbedaan dasar dari latar belakang pendidikannya, selanjutnya teman-teman perlu tahu perbedaan mendasar tindakan yang dilakukan oleh kedua profesi tersebut.

Beda psikolog klinis dan psikiater dari segi intervensi dan terapi:
– Psikolog (khususnya psikolog klinis): melakukan terapi psikologi, konseling, tes psikologi
– Psikiater: memiliki hak untuk menulis resep obat, dan memiliki hak untuk menterapi pasien dengan obat-obatan khusus kejiwaan.

Contoh permasalahan yang dapat dikonsultasikan ke psikolog:
– Perkembangan anak terlambat; belum bisa bicara, tidak memahami pembicaraan orang lain, tidak ada interaksi sosial
– Ada konflik dengan teman kerja, anggota keluarga, pasangan
– Ada perasaan negatif di dalam diri (misalnya perasaan sedih, bingung, marah, kesal)
– Ingin mengetahui potensi diri atau ingin melakukan tes psikologi untuk mengetahui bakat minat agar bisa memilih jurusan yang sesuai dengan kemampuan diri
– Ingin mengetahui tingkat inteligensi anak agar dapat mengarahkan anak pada pendidikan yang tepat

Contoh permasalahan yang dapat dikonsultasikan ke psikiater:
– Ada saudara yang mengamuk, tertawa sendiri, bicara sendiri, tidak mau bersosialisasi, mengurung diri, mengatakan ingin bunuh diri, anak mengalami dan didiagnosa hiperaktif, anak mengalami dan didiagnosa autisma

Psikiater dan psikolog klinis itu serupa tapi tak sama. Mengapa?
Yang membuat kedua profesi ini tampak serupa ialah seting pekerjaan yang sama di Rumah Sakit. Di Indonesia, dua profesi ini pasti ada di Rumah Sakit Khusus Kejiwaan atau Rehabilitasi Napza. Namun, sekarang beberapa Rumah Sakit Umum juga sudah memiliki psikolog klinis. Seperti yang diketahui sebelumnya, dua profesi ini mempelajari hal yang berbeda. Namun, pada pendidikan lanjutan mereka mempelajari satu sama lain. Misalnya: Psikiater juga mempelajari teori kepribadian dan teknik konseling seperti yang yang sudah dipelajari oleh psikolog klinis pada pendidikan S1. Kemampuan konseling dan analisa dokter spesialis kejiwaan ini akan semakin baik jika mereka berlatih dan mempelajari ilmu psikologi lebih dalam lagi. Kemudian, psikolog klinis pun dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik pula dalam hal Faal, anatomi, sistem hormon yang sangat mempengaruhi kondisi psikologis/kejiwaan manusia.

Masalah apa yang kita bawa untuk ke psikolog, dan masalah apa ke psikiater?
Jika teman-teman masih bingung, silakan datang saja ke salah satu profesi psikolog atau psikiatre di rumah sakit. Psikolog klinis atau psikiater akan melakukan penilaian tentang masalah teman-teman tersebut, kemudian merujuk teman-teman ke profesional lainnya. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa teman-teman harus ditangani dengan obat terlebih dahulu, maka tentu nantinya akan diprioritaskan ke psikiater. Jika membutuhkan konseling atau konsultasi atau tes psikologi, maka teman-teman akan diarahkan ke psikolog. Satu hal yang sangat membedakan psikolog dan psikiater ialah dokter (tergantung kondisi) akan memberikan obat, sedangkan psikolog “pasti” tidak akan pernah memberikan obat. Jika masih bingung juga, jangan ragu untuk mengatakan bahwa teman-teman masih bingung harus membawa keluhan atau masalah teman-teman ke siapa, psikolog atau psikiater.

Kapan kita dapat berkonsultasi ke psikolog atau psikiater? Apakah hanya masalah berat dan sudah parah?
Tentu tidak perlu menunggu gangguan/masalah yang dialami itu semakin berat. Sama halnya dengan sakit fisik/sakit badan, teman-teman dapat berkonsultasi kapan saja. Satu hal yang perlu diingat ialah ketika teman berkonsultasi ke psikolog, teman-teman tidak perlu khawatir dengan kerahasiaan karena permasalahan yang dialami teman-teman pasti akan dijaga. Psikolog klinis dan psikiater memiliki kode etik untuk hal ini.

Nah, sekarang teman-teman sudah tahu beda psikolog klinis dan psikiater, kan? Jadi, kalian sudah bisa menentukan akan berkonsultasi kemana; psikolog atau psikiater.

Salam ceria…

banner1