Tags

, , , ,


source: http://www.google.com/imgres?q=phobia&um=1&hl=ja&client=opera&sa=N&tbo=d&channel=suggest&tbm=isch&tbnid=JFbZhi81YY-yaM:&imgrefurl=http://thefearlist.wordpress.com/2011/12/18/phobia-of-the-week-64/&docid=uIbvz9vPA82OSM&imgurl=http://thefearlist.files.wordpress.com/2011/12/trembling.gif&w=490&h=444&ei=zzL1UPT7EcXHigKPsIGgAQ&zoom=1&iact=hc&vpx=458&vpy=292&dur=1388&hovh=214&hovw=236&tx=130&ty=113&sig=110680866870030706183&page=3&tbnh=137&tbnw=151&start=55&ndsp=32&ved=1t:429,r:66,s:0,i:283&biw=1333&bih=631Pasti teman-teman pernah mendengar kata ‘fobia’ atau  teman-teman sendiri pernah mengatakan bahwa  sedang mengalami fobia, misalnya fobia ketinggian, dan fobia binatang berbulu. Saat seorang yang mengalami fobia dihadapkan dengan objek fobianya, mereka dapat berteriak-teriak ketakutan, bahkan sampai pingsan. Apabila fobia dengan hewan berbulu, (contohnya kucing), ia akan berteriak-teriak, menangis, dan bahkan berusaha lari dari hewan mungil dan lucu tersebut.

Apa itu fobia?

Fobia merupakan perasaan takut yang berlebihan dan tidak wajar terhadap suatu benda atau/dan suasana. Dalam psikologi atau ilmu kejiwaan, diagnosa pada seseorang yang mengalami fobia disebut gangguan anxietas fobik. Namun harus sesuai kriteria berikut ini:

–          Kecemasan dicetuskan oleh adanya situasi atau objek yang jelas (dari luar individu itu sendiri), yang sebenarnya pada saat kejadian ini tidak membahayakan.

–          Sebagai akibatnya, objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan rasa terancam

–          Secara subjektif, fisiologik dan tampilan perilaku, axietas fobik tidak berbeda dari anxietas yang lain dan dapat dalam bentuk yang ringan sampai berat (serangan panik)

–          Anxietas fobik seringkali berbarengan dengan depresi. Suatu episode depresi seringkali memperburuk keadaan anxietas dan dapat disertai anxietas fobik yang temporer, sebaliknya afek depresif seringkali menyertai berbagai fobia, khususnya agorafobia. Pembuatan diagnosa tergantung dari mana yang jelas-jelas timbul lebih dahulu dan mana yang lebih dominan pada saat pemeriksaan

Bagaimana seseorang bisa menjadi fobia?

Fobia ini terjadi karena seseorang yang mengalami ketakutan itu melakukan fiksasi, yaitu usaha membuat diri merasa aman/nyaman dengan cara mundur kembali  atau ‘berhenti’ sementara pada  tahap perkembangan tertentu. Hal ini terjadi karena kondisi mentalnya ‘terkunci’ karena tidak mampu mengendalikan perasaan takutnya. Ia merasa tahap perkembangan selanjutnya merupakan tahap yang berat dan penuh hal-hal yang kurang menyenangkan. Fiksasi juga dapat terjadi karena trauma, misalnya trauma pernah mengalami hal buruk dengan objek yang ditakuti, misalnya phobia naik mobil karena pernah mengalami kecelakaan mobil. Proses fiksasi ini terjadi tanpa disadari oleh manusia. Contoh penjelasan lainnya; bagi orang yang tidak mengalami fobia hewan berbulu, ketika ia dihadapkan pada hewan berbulu seperti kucing, ia akan memasuki tahap perkembangan selanjutnya dimana ia mampu menyadari bahwa kucing itu adalah hewan yang lembut dan tidak berbahaya jika tak diusik, jadi tidak perlu ditakuti.

Macam-macam fobia

Fobia itu bermacam-macam, istilahnya sebanyak objek atau keadaan yang ditakuti. Misalnya:

  • Agorahobia          : takut tempat luas dan/atau orang banyak, serta mengalami kesulitan untuk segera menyingkir ke tempat aman.
  • Bibliophobia        : takut pada buku
  • Cenophobia        : takut pada ruangan kosong
  • Claustrophobia  : takut naik lift
  • Felinophobia       :  takut pada kucing
  • Hydrophobia       :  takut pada phobia
  • dll

Apakah dengan mengalami fobia berarti kita sakit jiwa atau gila?

Fobia ini ialah gangguan jiwa/mental/psikis, tetapi bukan sakit jiwa atau gila. Sakit jiwa atau gila yang sering disebut-sebut oleh masyarakat pada umumnya ialah untuk menyebut seseorang yang lupa ingatan, tertawa/bicara sendiri. (Silakan baca artikel tentang Gangguan Jiwa).

Apakah dengan mengalami fobia kita dapat menjadi sakit jiwa atau gila?

Jawabannya tergantung tingkat keparahan fobia tersebut. Jika ketakutan-ketakutan itu tidak ditangani dengan baik, tentunya akan mempengaruhi kondisi/kekuatan mentalnya. Ada orang yang mengalami fobia tidak sakit jiwa atau gila di masa tuanya (meskipun fobianya masih ada hingga tua). Namun ada pula orang yang mengalami fobia menjadi sakit jiwa di masa selanjutnya. Namun, proses itu terjadi karena proses yang kompleks. Tidak semata-mata fobia lalu menjadi sakit jiwa.

Apakah fobia ini bisa disembuhkan?

Ya, dapat disembuhkan melalui terapi psikologi dan (jika dibutuhkan) terapi obat, tergantung kondisi dan tingkat keparahannya. Jadi, penanganan akan dilakukan oleh psikolog dan psikiater (jika membutuhkan obat). Kesembuhan seseorang untuk sembuh tergantung dari dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal bersumber dari dalam diri pasien, seperti: kedisiplinan, komitmen, kerjasama dengan psikolog dalam menjalani terapi, dan seberapa besar keinginannya untuk sembuh. Faktor eksternal ialah kemampuan psikolog, kualitas terapi, teknik terapi yang diberikan, serta dukungan dari keluarga/lingkungan.

Oke, itu sekilas tentang fobia. Buat kamu-kamu atau sobat kamu ada yang mengalami, coba konsultasikan rasa takut kamu itu ke psikolog. Dengan kondisi mental/jiwa/psikis yang baik, tentunya kualitas hidup kamu pun akan baik.