Tags

, ,


Talk Show PR 876 (Psikologi Remaja di Radio KITA 87,6 FM Pontianak)

sumber gambar: http://www.kcdvtf.org/05_respect_posters_DATING%20VIOLENCE3.jpgKekerasan dalam pacaran atau Dating Violence mungkin agak asing di telinga kita. Kita lebih sering mendengar perihal kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, dan kekerasan terhadap perempuan. Sebelum mengenal bentuk kekerasan, kita perlu mengetahui pengertian pacaran atau dating terlebih dahulu.

Pacaran atau dating ialah interaksi yang ‘saling’ (dyadic), termasuk di dalamnya adalah mengadakan pertemuan untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas bersama dengan keinginan secara eksplisit dan implisit untuk meneruskan hubungan setelah terdapat kesepakatan tentang status hubungan mereka saat ini.

Kekerasan dalam pacaran atau Dating Violence menurut The American Psychological Association adalah ancaman atau tindakan untuk melakukan kekerasan kepada salah satu pihak dalam hubungan berpacaran, yang mana kekerasan ini ditujukan untuk memperoleh kontrol, kekuasaan, dan kekuatan atas pasangannya, perilaku ini bisa dalam bentuk kekerasan emosional, fisik dan seksual.

Kekerasan verbal dan emosional
… adalah ancaman yang dilakukan pasangan terhadap pacarnya dengan perkataan maupun mimik wajah.

Menurut Murray, kekerasan verbal dan emosional terdiri dari:
1. Pemanggilan nama yang berkonotasi negatif, contohnya: gendut, jelek, malas, bodoh, dll
2. Intimidating looks (menunjukkan ekspresi wajah kecewa tanpa mengatakan sesuatu sehingga pasangan hanya mengetahui perasaan pasangan lainnya melalui ekspresi wajah)
3. Menggunakan pager dan telpon selular. Contohnya, seseorang memberikan ponsel kepada pacarnya supaya dapat mengingatkan atau tetap bisa menghubungi pacarnya sesering yang ia mau. Kemudian, ia (yang memberikan atau melarang menggunakan alat komunikasi tersebut) akan marah apabila ada orang lain menghubungi pacarnya (meskipun orangtua dari pacarnya itu) karena mengganggu kebersamaan mereka. Ia bahkan harus mengetahui siapa yang menghubungi pacarnya dan mengapa orang tersebut menghubungi pacarnya.
4. Membuat pasangan menunggu telepon. Maksudnya, berjanji akan menelepon pasangan pada jam tertentu, tetapi sang pacar tidak menepati janji. Janji menelepon tersebut menyebabkan si pasangan tidak berinteraksi dengan keluarga dan temannya karena menunggu.
5. Memonopili waktu pasangan. Korban dating violence cenderung kehabisan waktu untuk melakukan aktivitas dengan teman atau untuk mengurus keperluannya, karena mereka selalu menghabiskan waktu bersama dengan pacarnya.
6. Membuat pasangannya gelisah. Seringkali orang yang melakukan dating violence memanggil pacarnya dengan mengkritik, dan mereka mengatakan bahwa semua hal itu dilakukan karena mereka sayang pada pacarnya dan menginginkan yang terbaik untuk pacarnya. Padahal mereka membuat pacar mereka merasa tidak nyaman. Ketika pacar mereka terus menerus dikritik, mereka akan merasa bahwa semua yang ada pada diri mereka buruk, tidak ada peluang atau kesempatan untuk meninggalkan pasangannya.
7. Menyalahkan pasangan (Blaming), contohnya menuduh pasangan selingkuh
8. Manipulasi atau membuat dirinya tampak menyedihkan. Misalnya: mengatakan bahwa pasangannya ialah satu-satunya orang yang mengerti dirinya, atau dirinya akan bunuh diri jika tidak bersama pacarnya lagi.
9. Mengancam
10. Menginterogasi, contohnya menanyakan dimana pacarnya berada sekarang, siapa yang bersama mereka, berapa orang laki-laki atau wanita yang bersama mereka, atau mengapa mereka tidak membalas pesan mereka.
11. Mempermalukan pasangan di depan umum
12. Merusak barang-barang berharga milik pasangan

Kekerasan Seksual
… adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak seksual, sedangkan pasangan mereka tidak menghendakinya. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Hamby, Sugarman, & Boney-McCoy (dalam Heatrich & O`Learry, 2007) menunjukkan bahwa pria lebih sering melakukan tipe kekerasan ini dibandingkan wanita.

Menurut Murray, kekerasan seksual terdiri dari:
1. Perkosaan
2. Sentuhan yang tidak diinginkan
3. Ciuman yang tidak diinginkan

Kekerasan fisik
… adalah perilaku yang mengakibatkan pacar terluka secara fisik, seperti memukul, menampar, menendang dan sebagainya. Wanita juga melakukan kekerasan tipe ini dengan pasangannya akan tetapi konsekuensi fisik yang dihasilkan tidak begitu berbahaya seperti yang dilakukan pria terhadap wanita.

Kekerasan fisik terdiri dari:
1. Memukul, mendorong, membenturkan. Tindakan ini merupakan tipe kekerasan yang dapat dilihat dan diidentifikasi, perilaku ini diantaranya adalah memukul, menampar, menggigit, mendorong ke dinding dan mencakar baik dengan menggunakan tangan maupun dengan menggunakan alat. Hal ini menghasilkan memar, patah kaki, dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai hukuman kepada pasangannya.
2. Mengendalikan, menahan. Misalnya menggengam tangan atau lengan pasangan terlalu kuat supaya tidak pergi darinya.
3. Permainan kasar. Contohnya: pukulan. Pukulan dijadikan sebagai permainan dalam hubungan, padahal sebenarnya pihak tersebut menjadikan pukulan-pukulan ini sebagai taktik untuk menahan pasangannya pergi darinya. Ini menandakan dominasi dari pihak yang melayangkan pukulan tersebut.

Faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan dalam pacaran:
1. Faktor individual. Misalnya; usia yang muda, berada pada level ekonomi yang rendah, memiliki prestasi akademis yang rendah, serta seseorang yang sering mengobservasi ibunya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga
2. Riwayat kekerasan di dalam keluarga
3. Penggunaan alkohol
4. Gangguan kepribadian
5. Faktor dalam hubungan
6. Faktor komunitas

Ciri-ciri orang yang memiliki kecenderungan melakukan kekerasan dalam pacaran:
1. Rendahnya self esteem atau self image yang buruk
2. Toleransi yang rendah terhadap frustrasi (sehingga menciptakan kemarahan dan kekerasan)
3. Mood yang sering berubah-ubah
4. Mudah marah
5. Kecemburuan yang berlebihan
6. Terlalu posesif (takut kehilangan pasangan)

Apakah kekerasan dalam pacaran dapat menimbulkan traumatik?
Ya, apabila luka batin atau/dan luka fisik itu tergolong berat. Bentuk traumatik secara psikologis tampak pada sikap enggan untuk berelasi dengan lawan jenis, tidak suka dengan lawan jenis, ada rasa takut jika berinteraksi dengan lawan jenis atau memulai relasi yang baru. Beberapa hasil penelitiah menunjukkan bahwa korban kekerasan dalam pacaran umumnya:
• Memiliki emosi yang negatif
• Tidak puas akan penampakan fisiknya
• Tidak puas dengan kondisi kesehatannya secara umum (physical self)
• Ada rasa tidak puas akan gambaran dirinya (personal self)
• Memiliki perasaan tidak puas akan keluarganya
• Munculnya perasaan bersalah pada diri korban atas terjadinya kekerasan dalam pacaran,
• Munculnya perasaan tertekan yang lebih dalam pada subyek yang melakukan hubungan seksual pertama dengan pacarnya

Cara menyikapi tindak kekerasan dari pasangan:
Kuncinya ada pada diri pasangan yang menjadi korban. Ia harus mampu bersikap tegas dalam membuat keputusan; untuk melanjutkan hubungan atau tidak, mencoba bicara dengan pasangan (pelaku) untuk menyadarkan pasangan bahwa tindakannya keliru dan menyakitkan.

Hendaknya setiap pasangan, baik itu laki-laki atau perempuan, mengenali bentuk-bentuk kekerasan dalam pacaran. Jika sudah mengenali, mereka akan mudah mengidentifikasi apakah mereka mendapat tindak kekerasan atau tidak.

Upaya Hukum
Memang belum ada Undang Undang yang khusus membahas kekerasan dalam pacaran, namun tindak kekerasan yang dilakukan dapat dikenai sanksi-sanksi sebagai berikut:
• Kekerasan fisik dapat dituntut dengan pasal penganiayaan (pasal 351- 358 KUHP)
• Pelecehan seksual dapat dituntut pasal 289 – 298. pasal 506 KUHP, tindak pidana terhadap kesopanan pasal 281- 283, pasal 532 – 533 KUHP.
• Perkosaan dapat dituntut dengan pasal 286 KUHP
• Persetubuhan dengan wanita dibawah umur dapat dituntut dengan pasal 286-288 KUHP
• Perkosaan terhadap anak dapat dituntut dengan pasal 81 – 81 UUPA.

Jika kamu mengalami kekerasan dalam pacaran tetapi bingung untuk bercerita ke siapa, silakan berkonsultasi ke psikolog. Nanti teman-teman akan dibantu untuk dapat menentukan pilihan dan jalan keluar.

Salam ceria.

*Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil pengamatan dan analisa penulis, didukung oleh artikel dan hasil penelitian baik dari dalam dan luar negeri yang ada di internet.