Tags

, , , , ,


source: http://goaupairsouthcentralnj.files.wordpress.com/2012/08/20120801-070251.jpgBeberapa hari yang lalu, di sebuah cafe, saya melihat sekumpulan ibu-ibu muda yang (sepertinya) lagi ngumpul-ngumpul untuk temu kangen. Salah satu ibu membawa putranya yang berusia kira-kira 4 tahun.

“Sorry, gua bawa anak gua, soalnya ga ada yang jagain di rumah. Si Mbak babysitter mendadak izin pulang kampung”, kata Ibu tersebut berusaha meminta pemakluman teman-temannya.

“Iya, nggak apa-apa”, balas teman-temannya memberi izin.

Lima belas menit berlalu, si anak lelaki tampak mulai bosan. Ia tidak tenang duduk di kursinya. Ia menggoyang-goyangkan kakinya, menendang-nendang kaki meja, turun dari kursi dan memungut benda-benda apa saja yang dilihatnya. Ia mendekati gantungan bling-bling di tas ibu A teman mamanya, tapi ibu itu menarik tasnya. Takut rusak, sepertinya. Lalu, ia mencoba memegang tas teman mamanya yang satunya lagi. Respon yang sama pun ia terima. Tante itu mengambil tasnya dan menaruhnya dalam pangkuang. Kemudian, ia melihat kerlap-kerlip lampu pada HP ibu C yang diletakkan di atas meja. Ia mulai mendekat, mengamat-amati lampu itu dari jarak dekat, lalu menyentuh lampu itu. Namun, ibu C langsung mengambil HP-nya dan memasukkannya ke dalam tas. Anak lelaki itu tampak resah, ia memandang kesana kemari, memandang pengunjung-pengunjung lain. Ia semakin merasa tidak nyaman. Ia masuk ke kolong meja dan hendak duduk disitu.

“Eh, anak loe nih kenapa, sih?” celetuk salah satu ibu.

Sang ibu pun merespon pertanyaan temannya dengan menarik anaknya dari kolong meja sambil memelintir perut si anak, kemudian melotot sambil berkata “Kok, kamu nakal banget, ya?! Bisa duduk tenang, ga? Diam disini!”

Si anak yang tadinya hendak menangis karena menahan sakit dan dimarahi pun terdiam, menggosok-gosok perutnya yang tadinya dicubit mamanya. Bibirnya tampak bergetar. Ia tertunduk, dan sesekali mengusap matanya.

Ia menangis dalam hatinya.

*  *  *

Ayah-Bunda, pernahkah Ayah-Bunda berada di posisi ibu dari anak lelaki itu? Atau mungkin di posisi teman-teman ibu tersebut? Ya, mungkin kita pernah berada di dua tempat itu.

Ketika di posisi ibu si anak, kita kadang-kadang bersikap berlebihan. Berusaha melindungi diri kita sendiri dari omongan negatif orang lain. Kita mau menang sendiri dan kita menuntut anak memahami diri kita, mengerti situasi dimana ia berada, memahami bahwa ia sedang berada di acara penting orang tuanya. Kita juga merasa tidak nyaman dengan perilaku anak, yang nantinya kita bisa dianggap sebagai orang tua yang lemah, yang tidak mampu mengurus dan mendidik anak. Kita tidak ingin dipermalukan oleh anak. Kita akan melakukan berbagai cara agar anak bersikap “manis”, entah dengan memukul, mencengkeram, mencubit, melotot, dan menegurnya dengan kata-kata yang kasar.

Ketika kita berada di posisi teman-teman si ibu, sadarkan kita bahwa kita belum mampu memahami dunia anak-anak: yang penuh rasa ingin tahu, yang secara fisik belum mampu duduk dalam waktu lama, yang tertarik dengan hal-hal baru di luar dirinya, yang masih belajar mengenal norma mana baik dan mana buruk, yang belum mengerti mengapa ia tidak boleh menyentuh barang orang lain, yang belum mengerti mengapa ia dilarang duduk di kolong meja, dan yang belum pandai mengatakan, “Tante, gantungan di tas tante bagus. Boleh lihat, ga?”.

Ayah-Bunda, jangan terlalu cepat berpikir bahwa seorang anak nakal. Coba renungkan kembali, apakah itu perilaku nakal tersebut benar-benar nakal atau ternyata masih dalam batas yang wajar? Kalau memang anak itu “nakal”, tanyakan kembali pada diri kita sendiri mengapa ia nakal? Pernahkah kita berbincang-bincang akrab sambil menjelaskan mana hal yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh, menjelaskan mengapa hal A dilarang, hal B dilarang, hal C boleh dilakukan. Pernahkan kita bermain dengan anak sambil mengajarkan bagaimana caranya meminta izin, bagaimana caranya bersikap yang baik dengan orang yang lebih tua, serta bagaimana caranya bersikap di meja makan?

Oh, ternyata… Ayah-Bunda lupa mengajarkan dan menjelaskan itu semua, ya? Ya, sama seperti Ayah-Bunda yang sudah lupa dengan pengalaman hidup Ayah-Bunda sewaktu masih kanak-kanak. Tetapi, tidak apa-apa, kok. Tidak ada limit waktu untuk belajar menjadi orang tua yang baik. Jika kemarin belum baik, detik ini sesungguhnya Ayah-Bunda sudah menjadi orang tua yang baik, lho.

*  *  *

Selamat menjadi orang tua yang baik, ya, Ayah-Bunda…