Tags

, ,


Pernahkah Ayah-Bunda mengatakan “tidak” kepada si buah hati? Tentu saja pernah, ya. Namun, kata “tidak” akan berfungsi dengan baik jika digunakan secara efektif, pada tempat dan situasi yang tepat.

“Tidak” memang hanyalah sebuah kata, sama halnya dengan lampu lalu lintas yang hanya sekedar benda tak bergerak di perempatan jalan, serta sirine ambulan yang hanya sebuah suara. Semua itu akan memiliki “nilai” yang berguna ketika berfungsi di saat yang tepat. Saat jalan raya padat, lampu lalu lintas yang menyala akan membantu mengatur ketertiban lalu lintas di daerahnya. Lampu itu memberi tanda bahwa kita harus mengikuti aturan. Kemudian, ketika sirine ambulan berbunyi menandakan ada keadaan darurat, kita akan menepi dan memberi jalan.

Kata “tidak” memiliki nilai yang berarti jika digunakan di saat yang tepat, misalnya saat si buah hati akan memegang colokan listrik, lalu Ayah-Bunda bisa mengatakan, “Tidak boleh disentuh!” Kemudian, ketika Ayah-Bunda ingin mencegah anak yang akan memasukkan benda kotor ke mulutnya, Ayah-Bunda juga bisa mengatakan “Tidak boleh dimakan!”

Coba Ayah-Bunda perhatikan respon si buah hati. Apakah mereka langsung mengikuti dan menuruti kata-kata “tidak” yang disampaikan?

Beberapa hal yang Ayah-Bunda perlu ketahui tentang kata “tidak”:

  • Kata “tidak” bukanlah saran.
    Ketika Ayah-Bunda mengatakan “tidak” kepada si buah hati, berarti mereka pun harus “berhenti”. Namun, jika mereka tidak mengacuhkan Ayah-Bunda berarti mereka belum memahami pesan yang tersirat pada kata itu. Oleh karena itu, hendaknya Ayah-Bunda mengenalkan dan mengajarkan kata “tidak” sejak dini, melakukannya secara konsisten dan sering. Dengan demikian mereka akan memahami arti kata itu.
  • Volume suara bukan solusi.
    Apabila si buah hati tidak mengindahkan apa yang Ayah-Bunda katakan, biasanya Ayah-Bunda mengulanginya, serta meningkatkan volume suara. Ini tidak akan membuat si buah hati mempelajari kata “tidak”, lho. Bisa-bisa mereka akan menutup kupingnya karena tidak tahan mendengar teriakan Ayah-Bundanya.

Meskipun lampu lalu lintas ‘tak pernah menyala MERAH lebih terang, para pengendara pasti berhenti. Mengapa? Karena mereka memahami tujuannya.

  • Kuncinya adalah action.
    Setelah mengeluarkan kata “tidak” satu kali, si buah hati membutuhkan respon Ayah-Bunda. Jika mereka berhenti dan menuruti Ayah-Bunda, responlah kembali dengan kata-kata atau tindakan yang menyenangkan, misalnya dengan pujian. Jika mereka tidak mengacuhkan Ayah-Bunda, responlah dengan cara-cara yang umum tanpa menimbulkan akibat yang berarti (seperti membentak, mencubit, memukul). Dekati dan jauhkan mereka dari sumber bahaya. Tidak perlu mengatakan “tidak“ hingga dua-tiga kali dan berteriak.

*  *  *

Terinspirasi dari tulisan Dr.  Tom Reimers yang berjudul What Every Parent Needs to Know About “No”.