Tags

, ,


Talk Show PR 876 (Psikologi Remaja di Radio KITA 87,6 FM Pontianak), Selasa 2 April 2013.

Exam-CheatingBeberapa waktu yang lalu, adik-adik yang duduk di bangku sekolah mengikuti ujian tengah semester, begitu pula dengan teman-teman di beberapa universitas. Dan, tidak lama lagi, adik-adik SD kelas 6, SMP dan SMA kelas 3 akan menjalani ujian kelulusan sekolah. Nah, beberapa kali kita mendengar ada cerita murid atau teman yang ketahuan menyontek. Bahkan, bulan lalu kita mendengar satu berita kontoversial di televisi, koran, dan internet tentang seorang murid yang diduga menyotek dibalsem oleh gurunya.

Sebenarnya ada apa sih dengan perilaku menyontek, koq, murid mendapat hukuman yang berat karena perilaku menyontek ini? Apa salahnya kalau murid hanya menyontek “sedikit”?

Kamu mungkin heran dengan adanya larangan menyontek di kelas. Padahal, menurutmu menyontek ini tidak merugikan dan mencelakakan orang lain.

Menyontek = merugikan diri sendiri.
Ya, perilaku mencontek ini memang tidak merugikan orang secara langsung. Awalnya perilaku menyontek di kelas ini merugikan orang lain secara emosional saja: teman jadi kesal karena mereka belajar dengan susah payah, tetapi si pelaku nyontek ini yang justru memperoleh nilai lebih baik. Namun, tahukah teman-teman kalau perilaku yang bersifat negatif ini justru merugikan diri si pelaku menyontek itu sendiri? Karena perilaku menyontek ini merupakan bibit perilaku buruk di masa dewasa. Sebiji bibit kecil yang buruk jika dipupuk, disirami, dan dibiarkan tumbuh maka akan jadi tumbuhan yang besar yang buruk pula.

Apa jadinya jika perilaku nyontek itu jadi perilaku buruk di masa dewasa?
Perilaku menyontek yang dibiarkan akan tumbuh besar menjadi perilaku negatif lainnya, seperti: menipu (menipu data keuangan di bank), perilaku membajak (misalnya membajak hasil karya orang lain, seperti musik dan film), perilaku plagiat (misalnya plagiat hasil penelitian orang lain), perilaku korupsi, perilaku mencuri hak cipta (mengakui hasil karya orang lain sebagai miliknya), dan perilaku merampok. Semua ini adalah bentuk perilaku yang dilakukan secara diam-diam. Perilaku itu dilakukan tanpa sepengetahuan orang lain. Tujuannya tentu saja hanya untuk kepuasan diri pribadi. Perilaku buruk itu dapat tumbuh karena sedari kecil kita terbiasa mengabaikan teguran dan aturan, serta tidak acuh dengan lingkungan.

Wah, perilaku nyontek itu gangguan kejiwaan, dong?
Tentu saja tidak. Perilaku menyontek ini tidak tergolong gangguan kejiwaan, namun dengan adanya perilaku menyontek ini menunjukkan adanya masalah mental pada diri seseorang. Semakin sering seseorang menyontek, maka makin besar pula masalah mental yang sesungguhnya ia hadapi. Masalah itu tentu saja tidak ia rasakan saat ini, bahkan tidak ia sadari.

Masalah mental yang seperti apa tuh?
Masalah mental yang dihadapi itu seperti rasa kurang percaya diri, ada harapan yang tinggi namun tidak mampu mewujudkannya, ada ambisi untuk melebihi orang lain, ada rasa takut dan cemas, ada perasaan terancam, dan dsb.

Mengapa menyontek bisa terjadi?
Perilaku menyontek ini bisa disebabkan oleh dua faktor, yaitu: dari dalam dan dari luar.
Faktor dalam diri seseorang:

  • Ada perasaan tidak percaya diri dengan hasil yang ia kerjakan.
  • Ada perasaan takut, mungkin takut mendapat nilai jelek dan kemudian mendapat respon berupaka kemarahan dari orang tua atau ledekan dari teman.
  • Ada perasaan cemas, mungkin cemas nanti nilainya rendah dan tidak mencukupi syarat kelulusan.
  • Ada keinginan bersaing, ingin nilai yang tinggi tetapi tidak belajar untuk persiapan ujian.

Faktor luar:

  • Bentuk soal ujian berupa pilihan ganda.
  • Jadwal ujian yang padat sehingga murid tidak mampu mempelajari materi secara optimal.
  • Materi ujian yang sangat luas dan banyak.

Solusi supaya tidak menyotek
Solusi mendasar ialah memberi pemahaman kepada anak atau murid bahwa perilaku menyontek ini merupakan perilaku yang tidak baik, merugikan diri sendiri, dan tidak membuat dirinya berkembang. Lalu, solusi lainnya ialah memodifikasi soal-soal ujian. Membuat soal pilihan ganda, tapi dengan urutan yang berbeda. Atau, membuat soal yang berupa pertanyaan dan analisis. Kita aku, solusi ini memang tidak mudah. Titik beratnya ada pada guru. Tapi, ini lah solusi dan upaya yang dapat kita lakukan agar perilaku menyontek ini tidak tumbuh dengan leluasa di dalam dunia pendidikan.

Gimana kalo udah Cheating Addict atau ketagihan nyontek, ya?
Wah, siapa yang mengira bahwa perilaku menyontek ini bisa bikin ketagihan. Lalu, bagaimana menyelesaikan masalah untuk seseorang yang sudah addict dengan perilaku menyontek? Perilaku menyontek ini memang bisa membuat seseorang ketagihan. Satu kali mencoba nyontek dan tidak ketahuan, maka ia akan melakukannya lagi bahkan dengan cara-cara baru dan kreatif. Perilaku ini akan mendatangkan sensasi dan rasa puas tersendiri ketika berhasil melakukan nyontek. Ia akan semakin tertantang dengan perilaku menyontek, ingin dan ingin terus melakukannya.

Jika perilaku ini tak terkontrol lagi, maka perlu pemeriksaan psikologis bagi pelaku nyontek ini. Dengan pemeriksaan psikologis itu, psikolog dapat mengetahui masalah dasar apa yang sedang dialaminya. Kemudian psikolog  akan dirancang terapi psikologi untuk mengurangi dan menghilangkan perilaku negatif tersebut.

“Salam ceria!”

~~~

Untuk menambah wawasan, silakan baca juga hasil penelitian para ahli di bawah ini.

  • Barzegar, K., & Khezri, H. (2012). Predicting Academic Cheating Among the Fifth Grade Students: The Role of Self-Efficacy and Academic Self-Handicapping
  • Batool,S., Abbas, A., & Naeemi, Z. (2011). Cheating Behavior among Undergraduate Students
  • Eisenberg, J. (2004). To cheat or not to cheat: effects of moral perspective and situational variables on students’ attitudes
  • Kaufmann , J.B., Ravenscroft, S.P., & Shrader, C.B. (2012). Understanding Cheating: From the University Classroom to the Workplace
  • McCabe, D.L., Treviño, L.K., & Butterfield, K.D. (2001). Cheating in Academic Institutions: A Decade of Research
  • Miranda,S.M. (2011). Academic dishonesty- Understanding how undergraduate students think and act
  • Niels, G.J. (n.y). Academic Practices, School Culture and Cheating Behavior
  • Sorcinelli, M.D. (n.y). Dealing with Troublesome Behaviors in the Classroom
  • Schwieren, C & Weichselbaumer ,D. (2008). Does competition enhance performance or cheating? A laboratory experiment
  • Witherspoon, M., Maldonado, N., & Lacey, C.H. (2012). Undergraduates and Academic Dishonesty