Tags

, , , ,


Disampaikan dalam Talk Show PR 876 (Psikologi Remaja di Radio KITA 87,6 FM Pontianak), Selasa 8 Oktober 2013.

Dalam pergaulan sehari-hari, kita beberapa kali mendengar orang-orang menyebut kata “paranoid”. Beberapa kalimat itu contohnya:
• “Kamu jangan parno melulu!” kata seseorang menasihati teman yang lain.
• “Semenjak mengalami kejadian mengerikan itu, dia jadi paranoid.” Seseorang menceritakan perihal yang terjadi pada temannya.
• “Papa meninggal karena kecelakaan bermotor, oleh karena itu mama jadi parno kalau saya mengendarai motor ke luar kota.” Seorang anak menjelaskan kondisi ibunya.
• “Kalau paranoid-ku lagi kambuh, aku bisa tidak tidur semalaman,” jelas seseorang.
• “Setiap kali listrik padam, jantungku berdebar hebat. Pikiranku langsung mengarah ke pembunuh misterius di film yang ditonton kemarin. Jadi parno, nih!” Kata seseorang menyatakan dirinya.

Masyarakat umumnya menyebut “paranoid” dengan kata yang lebih ringkas, yaitu “parno”. Mereka menggunakan kata “parno” untuk menyebut sifat yang sering curiga, sering berpikir tentang hal-hal buruk, serta sering khawatir dan takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ada pula beberapa orang yang penggunakan kata “parno” sebagai pengganti kata “takut” atau “kapok”, misalnya: 1) parno terhadap anjing, maksudnya takut terhadap anjing; 2) parno punya pacar cantik, maksudnya kapok punya pacar cantik karena menurutnya  mudah diambil orang lain. Kata parno sering digunakan sebagai kata pengganti disaat orang-orang tidak mampu menemukan emosinya secara tepat. Seseorang merasa bingung dengan emosi/perasaan yang muncul, lalu supaya lebih mudah ia memilih kata “parno” tersebut.

Mungkin saat ini syaraf-syaraf di kepalamu sedang bekerja keras, mencari jawaban apa sebenarnya paranoid itu dan normalkah jika paranoid itu terjadi.

Paranoid adalah suatu istilah dalam ilmu kejiwaan (psikologi) untuk menyebut gejala atau tipe gangguan jiwa tertentu. Paranoid merupakan gejala gangguan kejiwaan yang ditandai dengan perkembangan khayalan. Paranoid ini berkaitan dengan jenis gangguan jiwa tertentu, dimana orang yang mengalaminya memiliki delusi (pikiran tidak nyata) bahwa orang lain akan melakukan hal buruk padanya atau membicarakan keburukan dirinya. Dua jenis gangguan jiwa yang berkaitan dengan paranoid ialah skizofrenia paranoid dan gangguan kepribadian paranoid. Skizofrenia paranoid ditandai dengan khayalan-khayalan menyiksa yang berkembang secara sistematis dan terperinci, sedangkan gangguan kepribadian paranoid ditandai adanya hipersensitivitas, kecurigaan, dan kecenderungan untuk menyalahkan orang lain.

Dalam ilmu kejiwaan, penyebutan kata “paranoid” tidak bisa dilakukan sembarangan. Psikolog akan berhati-hati menyebut kata tersebut. Untuk menilai apakah seseorang mengalami paranoid atau tidak, dia perlu mewawancara dan mengamati kliennya, kemudian menganalisa hasil yang dia temukan. Setelah yakin, barulah dia dapat mengatakan, “Saudara Anda memiliki gejala paranoid.” Dengan adanya gejala paranoid, maka psikolog dapat menentukan jenis gangguan jiwa kliennya.

Mengapa psikolog begitu berhati-hati menyebutnya? Sedangkan, saya tidak menemukan efek negatif dari penyebutan kata itu. Ketika kalimat itu meluncur dari bibir seseorang, “Kamu mengalami paranoid, loh,” tidak ada raut wajah stress, sedih, atau pun marah pada lawan bicara yang dikenai sebutan itu. Situasi tampak normal dan biasa-biasa saja.

Ya, memang benar. Kata paranoid atau parno ini sudah digunakan secara luas dan sering diucapkan oleh masyarakat luas. Sudah dianggap biasa. Hal ini akan sangat berbeda secara kontras jika kita mengatakan, “Kamu memiliki gejala gangguan jiwa,” pada seseorang. Mungkin saja lawan bicara kita langsung tersinggung, kaget, marah, atau langsung melempar sepatunya ke arah kita. Benar-benar situasi yang tidak diharapkan, bukan?

Lalu, bolehkah menyebut teman kita mengalami paranoid?
Penulis tidak mengatakan tidak boleh atau boleh. Namun, penulis sangat menyarankan agar kita menyebut secara jelas emosi yang kita rasakan. Itu akan lebih baik karena kita akan lebih mengenal emosi kita: takut, khawatir, curiga, cemas, was-was, dsb.

“Salam ceria!”

Sumber:
Kartono, K., & Gulo, D. (2000). Kamus Psikologi. Bandung: CV.Pionir Jaya.