Tags

, , , , , , ,


Pernahkah kamu berbohong?

Tik…tok…tik…tok…silakan merefleksikan diri.

Baik, terima kasih karena kamu mengaku pernah berbohong walaupun kamu bilang, “Bohong putih, aja…”, di dalam hati.

Ya, kita mengenal ada istilah bohong putih dan bohong hitam. Istilah untuk membedakan tujuan berbohong, bukan begitu?

Tanpa membeda-bedakan jenisnya, bohong ini merupakan suatu cara dimana kita berusaha membuat diri kita merasa nyaman. Ketika kita merasa “terancam” atau “tidak aman”, kita akan berusaha mencari cara untuk menutupi kenyataan. Cara-cara itu bisa saja dengan guyonan segar yang dapat membuat orang tertawa, suatu rangkaian cerita atau jawaban yang logis, serta jawaban yang tidak logis (alias keliatan bo’ongnya). Guyonan segar itu biasanya sengaja dibuat supaya orang yang dibohongi tidak marah atau tidak tersinggung karena dibohongi. Sehingga mereka akan tertawa sambil mengatakan, “Dasar! Bo’ong banget, sih!”

Ketika kita mengetahui seseorang berbohong pada kita, kita pasti akan merasa kecewa, kesal, marah, dan bahkan (mungkin) kehilangan rasa percaya atau trust pada orang tersebut. Tapi, tunggu dulu…daripada kita marah-marah, kita juga perlu instrospeksi juga. Jangan-jangan orang itu berbohong karena ada yang tidak “pas” pada diri kita.

Beberapa alasan mengapa orang berbohong:
– Takut mendapat respon yang tidak menyenangkan (dimarah, diejek, dibenci)
– Terjebak situasi (berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya)
– Tidak suka orang lain mengetahui hal pribadinya
– Sengaja menutupi kenyataan karena ingin rahasia pribadinya “safe
– Untuk menyenangkan hati orang lain

Nah, ngomong-ngomong soal kebohongan yang disebut kebohongan putih atau “white lie”, dia disebut putih karena putih itu identik dengan hal-hal baik, bersih, simbol kebaikan, simbol kesucian, dan simbol tujuan yang baik. Terkadang kita dihadapkan pada satu situasi dilematis dimana kita cenderung ingin menyelesaikan masalah dengan cara berbohong ‘putih’. Tujuannya agar orang tidak cemas, membuat orang lain tenang, membuat keadan lebih tenang, dan alasan lainnya.

Berbohong itu bukanlah kebutuhan. Artinya, bukan sesuatu yang perlu atau wajib dipenuhi. Berbohong itu merupakan proses alamiah dan dilakukan tanpa disadari. Ada kalanya seseorang berbohong dengan sengaja dan disadari, namun ada kalanya pula dilakukan tanpa sadar. Perilaku berbohong tanpa sadar itu terjadi ketika seseorang sangat merasa terancam dan mendesak.

Ingat, berbohong itu bukan kebutuhan. Jadi, jika tidak perlu berbohong, janganlah berbohong. Perilaku berbohong ini sebenarnya mempengaruhi mental kita dan efeknya negatif. Efek negatifnya ialah mental kita menjadi tidak nyaman dan kita dihinggapi rasa bersalah. Agar terhindar dari perasaan-perasaan negatif itu, kita hendaknya mampu berkata jujur dan mengatakan yang sesungguhnya.

🙂