Tags

, , , , , ,


Dilema? Ya, itu pasti. Ketika kita ditentang untuk melakukan sesuatu yang menurut kita baik, itu tidak nyaman. Ketika kita mampu melihat hal-hal positif dalam bisnis MLM (Multi Level Marketing), namun justru dinilai negatif dan dianggap bodoh oleh orang lain, itu juga pasti tidak nyaman. Kondisi itu membuat kita berada di posisi antara “ikut” dan “tidak”. Kita jadi bingung. Kita dilema.

Mengikuti bisnis MLM memang banyak tantangan, terutama apabila kita ditentang oleh orang dekat, misalnya pasangan atau orang tua. Namun, hal ini wajar. Mengapa? Karena banyak sekali bisnis MLM yang tidak qualified atau tidak memenuhi syarat, hanya mengaku-ngaku bisnis MLM tetapi sistemnya atau rancangan bisnisnya tidak jelas. Hasilnya, jelas bukan keuntungan. Justru berujung ke penipuan dan sering kali mengakibatkan kerugian materiil yang tidak sedikit. Tidak ada salahnya mendengarkan pendapat orang-orang dekat kita. Dengarkan saja apa pandangan dan persepsi mereka tentang sisi negatif bisnis MLM. Kemudian, catatlah hal itu dan ambil makna positifnya. Makna di balik teguran dan larangan itu sesungguhnya merupakan bentuk perhatian dan kepedulian supaya kita waspada. Kita perlu waspada karena banyak oknum pelaku bisnis MLM yang menipu, mengajak bergabung demi mendapatkan keuntungan sesaat, dan mengumbar janji-janji palsu.

Setelah mendengar banyak masukan dan sanggahan dari orang-orang di sekitar kita, kita  cari tahu kebenarannya. MLM itu beragam, loh. Bisnis apa pun bisa dijadikan MLM. Oleh karena itu, kita juga perlu melihat banyak hal dalam MLM. Tidak hanya tertarik pada iming-iming hadiah atau bonusnya saja. Perhatikan juga kualitas perusahaannya; sudah berdiri berapa lama, bagaimana legalitasnya, seperti apa sistem atau rencana bisnisnya, apa produknya, bagaimana kualitas produknya, bagaimana memproduksi, dsb. Jika anggapan-anggapan negatif orang lain tidak terbukti, kita pun dapat memantabkan diri untuk menjalaninya. Wawasan dan kesiapan mental kita akan membentuk sikap kita menjadi positif. Kita yang paling mengerti apa yang kita pelajari dan jalani.  Selanjutnya, bagaimana tugas kita menjalankan bisnis itu secara konsisten, profesional, dan bertanggung jawab.

Janganlah membenci sesuatu yang tidak kamu ketahui

Banyak hal yang perlu kita perhatikan dalam MLM itu.
Produk. Selama produknya nyata dan dapat kita gunakan, maka MLM itu dipertimbangkan.
Sekolah bisnis. Selama MLM itu ada pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, maka OK untuk diikuti.
Sistem Bonus. Apabila bonus itu diperoleh apabila seseorang bekerja/berusaha. Maka, MLM itu sudah bersikap adil.

Nah, apakah kamu masih bingung mau ikut MLM atau tidak? Tanyakan lagi pada dirimu sendiri. Siapkah kamu menanggapi persepsi negatif tentang bisnis MLM yang kamu jalani? Seperti apa kamu akan menjalankannya? Bersediakah kamu menjelaskan bisnismu pada pasangan agar ia mengerti? Siapkah kamu dengan resiko jika suatu saat kamu akan dicemooh? Jika kamu siap dan bersedia, kamu lah calon pemenang! Mental seperti yang kamu miliki itu lah yang dibutuhkan untuk menjalani bisnis yang sesungguhnya. Jika suatu saat kamu berhenti dari bisnis MLM itu, sesungguhnya kamu tidak akan rugi. Kamu justru mendapat banyak pelajaran bisnis dan pengembangan mental. Kamu ibarat sebuah berlian. Berlian itu menjadi berkilau indah karena dipanaskan dalam api yang sangat panas  dan ditempa ribuan kali. Nah, begitu pula dengan kamu. Mentalmu akan ditempa dan dipanaskan oleh pendapat negatif dan penolakan dari orang lain. Jadilah berlian itu.

Sekali lagi, ingat! Carilah bisnis MLM yang berkualitas.

Selamat berusaha, berbisnis, dan berpikiran positif. Salam sukses!