Tags

, , , , , , , ,


Pendidikan tinggi, ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga

Pernahkah kamu disindir dengan kalimat seperti ini? Atau, mungkin kamu yang justru mengucapkannya?

Banyak perempuan sarjana yang mengeluh dengan tanggapan miring seperti ini. “Awalnya, sih, kuat mental. Tapi, kalau diomongin begitu terus, kuping ini jadi panas juga”, jelas mereka.

Sebenarnya, apakah salah jika seorang perempuan berpendidikan tinggi menjadi ibu rumah tangga? Tolong refleksikan kembali, ya. Apakah bisa diartikan bahwa sebaiknya perempuan tidak perlu sekolah tinggi, toh, akhirnya kerjanya di dapur juga. Apakah Anda sadar bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, maka ia memiliki wawasan yang semakin luas. Ia juga akan memiliki sudut pandang yang lebar. Dan, memiliki banyak informasi berharga yang kelak dapat ia bagikan kepada anak-anak mereka.

Ada beberapa alasan mengapa seorang perempuan memilih tidak bekerja, yaitu karena:
– mengikuti suami yang sering ditugaskan dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
– sulit menemukan pekerjaan yang sesuai bidang keilmuannya.
– tidak ada yang mengasuh anak atau sulit mendapatkan pengasuh anak yang sesuai.
– secara sadar ingin menjadi ibu rumah tangga dan merawat anak.
– suami meminta istri untuk fokus mengurus anak karena suami sangat sibuk dan memiliki karir yang baik.
– memang tidak mendapatkan pekerjaan karena kompetensinya di bawah standar yang diinginkan oleh instansi/perusahaan.

Selain yang disebutkan di atas, masih banyak lagi alasan pribadi masing-masing individu.

 

(Bersambung…)