Tags

, , ,


Tiba-tiba tersingkap sepenggal kisah di balik memori perjalanan pulang dari Singapura ke tanah air, Indonesia.

Setelah satu bulan menjadi single fighter-backpacker menjelajahi enam negara di Asia Tenggara, wajar kalau bawaan bertambah, bukan? Awalnya hanya membawa ransel ukuran 55 liter yang masih terlihat longgar di beberapa sudut. Akhirnya, jadi semakin padat montok berisi, ditambah lagi jinjingan 7 kg yang isinya cendramata dari beberapa negara.

Ya, kisah ini terjadi di Singapura. Saat itu saya berjalan kaki dari penginapan ke stasiun kereta. Jaraknya tidak jauh, tapi lumayan bikin kaki dan punggung terasa pegal. Apalagi sambil membawa beban berat di punggung dan tangan. Saya berjalan sambil beberapa kali memindahkan jinjingan itu dari tangan kanan ke kiri, kiri ke kanan.

Tiba-tiba terdengar sapaan dari belakang, “May I help you, Miss?”.
Dia seorang gadis kecil berkulit kuning langsat dan bermata sipit.

“Are you sure? It’s heavy” saya meragu.

Dengat gesit dia meraih jinjingan, “Yes, I am sure. That’s ok”, jawabnya.

Saya merasa terbantu. Beban saya berkurang. Namun, saya jadi merasa tidak nyaman melihat gadis kecil itu. Dia memegang tali tas jinjingan dengan kedua tangannya dan meletakkan jinjingan itu di pundaknya. Ukuran tas dengan berat 7 kilo itu kurang pas untuk tubuhnya, saya perkirakan. Saat saya berusaha mengambil tas itu kembali, dia menolak. Kami sempat berdebat kecil. Namun, jawabannya sungguh membuat saya tidak bisa berkata-kata.

My dad told me, ‘If you help people, you have to help them completely’. So, let me help you completely until we reach the station, Miss

Mendengar kata-katanya, saya pun memberi kesempatan itu untuknya. Entahlah tindakan saya itu benar atau keliru. Sekitar 5 menit berjalan menuju stasiun kereta, kami berbincang-bincang kecil. Ternyata dia berasal dari Korea, usianya saat itu (maaf, saya agak lupa) antara 9-11 tahun. Orang tuanya bekerja di Singapura sudah beberapa tahun. Saat itu dia menuju stasiun kereta hendak pergi membeli barang di toko yang ada di dekat stasiun kereta.

Perpisahan pun terjadi setelah kami tahu bahwa kami akan menuju arah yang berbeda. Dia pun melepaskan jinjingan itu. Wajah polosnya seakan-akan berteriak, “Yay, I’m free!” karena lepas dari pikulan yang berat.

“Thank you…you are so kind. Take care and see you, sweet girl”.

Saya menatapnya dengan penuh rasa kagun dan haru. Saya memuji-muji dalam hati. Rasa kagum itu masih terbawa hingga sekarang.

Kisah itu singkat, pesannya sederhana, namun maknanya sungguh berarti buat saya.
Siapa nama gadis kecil itu?
Dimana dia berada?
Seperti apa dia sekarang?
Mungkin dia telah menjadi seorang remaja cantik, cerdas, dan bijaksana.

Sungguh, pesan sederhana itu bisa menjadi pengingat buat kita semua supaya menolong orang lain utuh, sepenuh hati, “completely”. Bisakah kamu membayangkan wajah dunia di masa depan jika anak-anak diajarkan bersikap sedemikian indahnya?

***

Maria Nofaola
Kenangan bermakna di penghujung perjalanan Oktober 2011.