Tags

, , , , ,


Intakes Oktober 2015

Artikel ini dimuat di majalah Intakes (Informasi Seputar Kesehatan) Kota Pontianak, edisi Oktober 2015

 

 Saya merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuh saya tetapi hasil pemeriksaan lab tidak ada masalah dan dokter pun bilang saya baik-baik saja. Saya merasakan sakit itu dan yakin ada yang tidak beres di tubuh saya. Tetapi, entah mengapa dokter hanya bilang penyebabnya beban pikiran. Memangnya saya punya beban pikiran apa?

Anda pernah mendengar pernyataan seperti itu? Seseorang merasakan bahkan yakin sekali ada masalah pada tubuhnya namun hasil pemeriksaan medik menunjukkan dia baik-baik saja.

Keluhan-keluhan di atas mengarah ke gejala gangguan somatoform. Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th Edition), ciri utama gangguan somatoform adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-ulang disertai dengan permintaanpemeriksaan medikmeskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan dokter pun sudah menjelaskan bahwa dia tidak menemukan kelainan yang menjadi dasar keluhan pasien tersebut. Pasien juga seringkali menyangkal dan menolak untuk membahas kemungkinan kaitan antara keluhan fisiknya dengan problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya, bahkan meskipun didapatkan gejala-gejala kecemasan dan depresi.

Gangguan somatoform ini terdiri dari beberapa tipe, yaitu gangguan somatisasi, gangguan somatoform tak terinci, gangguan hipokondrik, disfungsi otonomik somatoform, gangguan nyeri somatoform menetap, gangguan somatoform lainnya, dan gangguan somatoform YTT.

Gejala somatoform ini bukan sikap berpura-pura atau buatan. Gejala ini muncul tanpa disadari, tanpa disengaja, atau tidak dibuat-buat. Pasien yang mengalaminya sungguh merasakan ketidaknyaman bahkan rasa sakit pada tubuhnya. Untuk sampai ke diagnosa gangguan somatoform ini, dokter membutuhkan rangkaian tes. Tentu secara fisik harus diteliti sungguh-sungguh karena diagnosa ini bisa memunculkan masalah baru, seperti stres atau frustrasi pada pasien. Mereka merasa tidak puas dengan penjelasan yang diberikan dokter dan tidak memahami apa yang dideritanya. Hal ini bisa menimbulkan siklus masalah baru yang memperparah kondisi pasien, bahkan bisa hingga bertahun-tahun.

Pasien dengan gangguan somatoform umumnya sukar menerima kenyataan bahwa dirinya mengalami gangguan kejiwaan. Hal ini terkait dengan stigma yang berkembang di masyarakat. Masih banyak orang yang menyamakan arti gangguan jiwa sebagai gila. Melihat pasien keluar-masuk ruang psikolog dan dokter spesialis kejiwaan (psikiater), gosip perihal “sakit jiwa” langsung menyebar. Tatapan mata orang lain terhadap pasien yang konsultasi kejiwaan pun sering kali membuat pasien merasa tidak nyaman. Tidak semua pasien siap mental dengan stigma dan pandangan negatif itu. Padahal, gangguan kejiwaan sesungguhnya bisa dialami dan dapat menimpa siapa saja, terutama ketika seseorang mengalami kejadian buruk dan tekanannya melampaui ambang batas kemampuan mentalnya. Salah satu contoh gangguan kejiwaan yang umum terjadi adalah depresi. Depresi bisa disebabkan oleh peristiwa kehilangan orang yang dicintai.

Lalu, bagaimana cara penyembuhan gangguan somatofom? Cara penyembuhan gangguan somatoform ini bisa dengan terapi obat dan juga terapi psikologi. Terapinya tentu tergantung kondisi si pasien. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu alternatif dalam menangai gangguan somatoform adalah terapi psikologi. Karena, faktor penyumbang terbesar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala pada gangguan somatoform adalah faktor psikologis. Untuk memperlancar proses terapi psikologi itu, psikolog dan pasien perlu menjalin kerja sama yang baik. Dalam bekerja, nanti psikolog akan melakukan pemeriksaan mental lengkap seperti; mengetahui riwayat kesehatan fisik, memahami peristiwa masa lalu, menganalisa kepribadian, menganalisa emosi pasien, dan hal-hal lainnya. Setelah itu, barulah psikolog dapat menemukan dan menyimpulkan kesimpulan akar permasalahan pasien. Kemudian, psikolog menentukan terapi yang tepat untuk klien.

Salah satu terapi yang dapat dilakukan oleh psikolog klinis dalam menangani kasus somatoform ialah CBT (Cognitive Behavior Therapy). Terapi ini menghilangkan simptom-simptom yang berkaitan dengan gangguan somatoform. Terapi akan difokuskan pada pikiran yang menyimpang, keyakinan yang tidak realistik, dan perilaku yang mendorong  rasa cemas. Ia akan dilatih untuk mengelola stress. Untuk itu, pasien pun akan diajak mengikuti konseling keluarga agar keluarga mampu memahami dan mendukung proses terapi demi kesembuhannya.

Nah, Anda sudah tahu gambaran umum gangguan somatoform, bukan? Apakah ada di antara Anda yang mengalami gangguan ini? Jika ada, konsultasi lah segera ke Psikolog spesialisasi Klinis di Rumah Sakit sebelum masalah mentalnya semakin kompleks. Salam sehat jiwa.

banner_rnm_300x250