Tags

, , , , ,


UntitledCowok gemulai itu banci dan banci adalah homo. Itulah pernyataan yang seringkali didengungkan orang. Mereka menduga-duga ke arah yakin bahwa pemikiran mereka benar. Padahal, pernyataan itu stigmatis dan tidak selalu benar. Tidak semua laki-laki yang gemulai itu adalah homoseksual. Mari kita pelajari satu per satu supaya tahu. Jadi, kita bisa terhindar dari perilaku melabel orang lain secara sembarangan.

Mungkin kasus yang kamu temui itu dia cowok, tapi gemulai, dan kebetulan memiliki orientasi seksual yang berbeda. Dia menyukai laki-laki dan memilih laki-laki sebagai pasangan dan teman hidupnya. Tapi, bukan berarti semuanya begitu, loh.

Pertama, apa sih yang dimaksud dengan banci?
Dari hasil pencarian mesin pencari dan akhirnya diketahui definisi banci menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam versi online (website www.kbbi.web.id) :
sdfdbanci1/ban·ci/ a tidak berjenis laki-laki dan juga tidak berjenis perempuan; 2 n laki-laki yang bertingkah laku dan berpakaian sebagai perempuan; wadam; waria;

Dari definisi di tersebut kita tahu bahwa harus ada pemeriksaan khusus untuk menyatakan seseorang banci atau tidak. Dan, hal ini berarti kondisi banci adalah ketidaksempurnaan pada organ genital atau alat kelaminnya. Jadi, hasil pemeriksaan dokter lah yang menjadi dasar. Bukan hanya dengan melihat perilakunya lemah lembut dan gemulai seperti perempuan, lalu kita mengatakan dia banci. Seandainya memang dia banci atau mengalami ketidaksempurnaan, sesungguhnya tidak panas bila kita menyebutnya “banci”. Label seperti itu sama derajatnya dengan mengatakan “si astma’, “si pasien diabetes”, “si pasien gila”. Itu bertentangan dengan etika.

Manusia yang disebut laki-laki atau pria pada umumnya dibentuk menjadi pribadi yang berperawakan maskulin, gerakan tubuh yang kokoh, karakter yang kuat. Selain dibentuk oleh lingkungan, kondisi laki-laki yang sedemikian rupa ini juga dipengaruhi oleh faktor hormonal. Laki-laki (sama halnya dengan perempuan) dipengaruhi oleh hormon. Hormon merupakan kimia pengirim pesan yang mengatur, menyatukan, dan mengontrol fungsi tubuh. Sistem endokrin di dalam tubuh menghasilkan ratusan jenis hormon yang fungsinya merespon syaraf. Hormon mengatur proses jangka pendek, misalnya segera memberikan respon untuk  perlawanan ancaman dari luar diri. Sedangkan, dalam mengatur proses jangka panjang fungsinya membedakan seksualitas, kematangan, dan reproduksi.

banner-impian-468x60

Alan Booth dkk dalam penelitiannya mengemukakan bahwa salah satu hormon yang memunculkan karakter laki-laki atau maskulin adalah hormon testosteron. Hormon ini juga dihasilkan pada tubuh perempuan. Bedanya, hormon ini ini lebih banyak dihasilkan pada tubuh laki-laki. Hormon testosteron pada laki-laki dihasilkan di testis, sedangkan pada perempuan dihasilkan di adrenal cortex. Jumlah hormon testosteron pada laki-laki 10 kali lipat lebih banyak dari perempuan. Artinya, sepanjang 24 jam laki-laki dipengaruhi oleh homon tertosteron atau androgen ini. Testosteron mempengaruhi perkembangan fisik laki-laki. Ciri seksual primer dan sekunder mereka pun dipengaruhi oleh tertosteron ini. Bentuk tubuh mereka maskulin, kulit mereka kasar, ada bulu-bulu halus di tubuh, suara mereka besar dan rendah. Emosi atau suasana hati dan perilaku mereka pun dipengaruhi oleh hormon ini. Jumlah hormon testorteron di dalam tubuh seorang laki-laki menentukan perilakunya. Namun, perlu kita ketahui bahwa perilaku seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh hormon saja. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor genetis, faktor biologis (salah satunya hormon), dan lingkungan-sosial. Tiga hal ini tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. Bila seseorang laki-laki bersikap halus dan berperilaku gemulai, itu disebabkan oleh tiga faktor itu. Bukan hanya karena jumlah testosteronnya kecil, bukan karena sering bermain dengan perempuan saja, dan bukan karena dia satu-satunya anak laki-laki di dalam keluarga.

Apakah perilaku gemulai pada laki-laki itu dibentuk atau dibuat-dibuat?
Pada sebagian orang, perilaku gemulai  itu muncul secara alami sejak lahir. Namun, beberapa orang lagi membentuk dan membuat perilaku gemulainya. Salah satu alasannya ialahkarena tuntutan pekerjaan dan banyak bergaul dengan perempuan. Misalnya bekerja di salon yang pada umumnya banyak pekerja perempuan.

Nah, kita semakin tahu mengapa seseorang laki-laki bisa menjadi gemulai, kan? Lalu bagaimana dengan homoseksualitas? Dalam ilmu psikologi, homoseksualitas dikenal dengan istilah disorientasi seksual. Orientasi seksual artinya tujuan seksual seseorang, apakah ke laki-laki atau ke perempuan. Bila dikatanan “dis” orientasi, maksudnya tujuan seksualnya menyimpang dari norma sosial yang berlaku. Norma yang berlaku ialah laki-laki memilih pasangannya seorang perempuan, begitu pula perempuan memilih pasangannya seorang laki-laki.  Jika terjadi disorientasi, maka laki-laki memilih laki-laki dan perempuan memilih perempuan.

Orientasi ini merupakan buah pikir manusia, diolah dan ditentukan di otak. Prosesnya dipengaruhi banyak hal, antara lain kondisi fisik (hormonal), pengalaman hidup, lingkungan, serta kekuatan individu dalam mengontrol dirinya untuk mengikuti norma yang berlaku di masyarakat. Apabila seseorang itu mengalami suatu trauma, memiliki sensasi seksual tertentu, tidak memiliki kontrol diri yang kuat, dan didukung oleh lingkungan sosial, akan ada kecenderungan dia mengalami disorientasi atau memilih sesama jenis. Disorientasi ini tidak ada kaitannya dengan gemulainya tubuh seorang pria. Bahkan, laki-laki berperawakan sangat maskulin dan tampak macho pun bisa memilih pasangan sejenis yang juga macho.

Nah, apakah laki-laki gemulai akan menyukai sesama jenis?
Tidak selalu dan tidak semuanya demikian. Memang ada yang menyukai sesama jenis, tapi tidak semuanya, ya. Ada yang secara fisik gemulai, namun pola pikir dan daya tariknya masih ke lawan jenis (perempuan). Dia memilih untuk tertarik dengan lawan jenis (perempuan) dan mengikuti norma yang berlaku di masyarakat, baik itu norma agama maupun norma sosial. Jadi, gemulai belum tentu homoseksual. Gemulai belum tentu penyuka sesama jenis.

Begitu, ya. Semoga dapat menambah wawasan. Salam sehat jiwa.

***
Sumber:
Alan Booth, dkk. (2006). Terstosterone and Social Behaviour. Social Forces Volume 85, Number 1 dalam http://fpb.case.edu/smartcenter/docs/SpitCamp/Booth%20et%20al%20Social%20Forces%202006.pdf, diunduh tanggal 3 November 2015.

Pamela C. Regan dkk. (1999). Hormonal Correlates and Causes of Sexual Desire: A Review. The Canadian Journal of Human Sexuality. Vol 8 (1). dalam http://web.calstatela.edu/faculty/pregan/PDF%20files/Regan%20(1999)%20-%20Hormonal%20Correlates%20of%20Sexual%20Desire.pdf, diunduh 3 November 2015

banner-liburan-300x250

Silakan like, comment, dan share jika menyukai artikel ini.
Semoga membawa manfaat bagi banyak orang.