Tags

, , , ,


8-disney-cartoons.preview

Sebagai psikolog, penulis sering kali mendapat pertanyaan seputar film dan tontonan buat anak. Salah satu klien penulis memiliki masalah dalam mengasuh anaknya. Ia seorang single parent. Sehari-hari bekerja penuh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan anak semata wayangnya. Ia hampir tidak punya waktu untuk anaknya. Setiap kali bertemu anaknya, hiburan yang diberikan kepada anaknya adalah film kartun. Sekarang ia bingung karena anaknya menjadi kasar, suka menentang guru, dan berani memukul teman-temannya di sekolah. Suatu ketika ia pun bertanya apakah kartun itu untuk anak-anak atau bukan. Dia agak ragu-ragu karena film yang diberikan ke anaknya itu sangat kasar; ada adegan tembak-menembak sampai tubuh tokoh di dalam film itu hancur.

Nah, mungkin ini pun menjadi pertanyaan Anda. Apa benar film kartun itu untuk anak-anak? Sebelum menentukan apakah film kartun itu untuk anak-anak atau dewasa, kita perlu tahu definisi kartun. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

kartun/kar·tun/ n 1 film yang menciptakan khayalan gerak sebagai hasil pemotretan rangkaian gambar yang melukiskan perubahan posisi; 2 gambar dengan penampilan yang lucu, berkaitan dengan keadaan yang sedang berlaku (terutama mengenai politik).

Itulah definisi kartun. Film kartun itu pasti menarik. Ekspresi dan tingkah laku tokoh di film kartun itu sangat ekspresif sehingga membuat kita tertawa. Kita merasa lucu dengan kartun itu. Namun, kelucuan karakter dan gambar yang ditampilkan di film itu membuat kita lupa bahwa tentang isi cerita. Kita lupa memperhatikan isi ceritanya; apakah isi ceritanya sesuai dengan usia penonton. Apakah isi cerita itu cocok untuk anak-anak.

Terkadang tayangan film kartun itu muncul begitu saja di televisi. Bagian penting yang menunjukkan batas usia justru tidak ditampilkan lagi. Kita menonton dengan modal percaya bahwa stasiun televisi sudah memberikan tayangan yang tepat sesuai usia penontonnya. Entah berapa usia yang tepat, namun sayangnya tayangan-tayangan itu terkadang agak “dewasa”. Yang muncul di film itu justru kata-kata dan perilaku orang dewasa.

Nah, cermatilah isi dari film kartun yang Anda tonton. Setelah menonton sendiri maka Anda dapat menentukan apakah nilai-nilai yang terkandung dalam film itu sudah cocok dengan nilai yang Anda anut. Jika tidak sesuai, hindarilah tontonan seperti itu. Penulis tidak bisa mengatakan bahwa film A, B, C tidak cocok untuk anak. Yang ingin penulis sampaikan adalah, nilailah dahulu film yang akan Anda suguhkan pada anak-anak Anda. Film itu merupakan perwakilan karakter Anda dalam mendidik anak. Jika film itu sesuai dengan cara Anda, suguhkanlah film itu. Dah, lebih baik lagi dampingilah putra-putri Anda saat menonton film. Ajak mereka belajar mengenai hal-hal baru dari film yang ditonton. Ajarkan mereka mengkritisi apa yang mereka lihat dan kembangkan wawasan mereka dengan memberi penjelasan tentang film tersebut.

Semoga bermanfaat dan salam ceria!🙂

Sumber:
http://kbbi.web.id/kartun

banner2

Silakan like, comment, dan share jika menyukai artikel ini.
Semoga membawa manfaat bagi banyak orang.