Tags

, , , , , ,


11

Ketika kita mendengar berita tentang seorang anak yang mengakhiri hidupnya, kita kadang-kadang merasa tidak percaya bahwa hal itu telah terjadi. Kita tidak pernah berpikir bahwa seorang anak yang masih muda berani melakukan hal seperti itu. Kejadian-kejadiah seperti itu tentunya membuat kita semua prihatin. Namun, kita tidak tahu apa yang terjadi pada mereka dan tidak tahu apa yang harus kita perbuat untuk mencegahnya.

12299152_10204092078380521_35305992915913542_n

Artikel ini dimuat dalam Suara Pemred edisi Minggu 29 November 2015. Suara Pemred adalah media komunikasi khusus wilayah Kalimatan Barat

Mungkinkah anak-anak dan remaja sudah bisa mengalami depresi?

Pertanyaan ini sering kali muncul di benak para orang tua. Menurut kita selaku orang dewasa, anak-anak tidak ada beban hidup dan tanggungan seperti orang dewasa. Anak-anak tugasnya hanya belajar dan bermain dengan teman-teman. Sedangkan, orang dewasa harus bekerja banting tulang demi membiayai sekolah dan hidup anak-anaknya. Bahkan, ada orang dewasa yang menanggung biaya hidup pasangannya yang tidak bekerja, adik-adiknya yang masih sekolah, serta orang tuanya.

Ya, tentu saja anak-anak dan remaja sudah bisa mengalami depresi. Depresi ini umumnya muncul pada anak yang mengalami perlakuan buruk, kurang mendapat perhatian dan kasih sayang, serta tidak memiliki teman bicara yang mampu membuatnya perpikir objektif dan positif.

Lalu, apa yang membuat remaja sampai muncul keinginan mengakhiri hidupnya?

Anak-anak dan remaja memiliki permasalah mental yang khusus. Hal ini terkait dengan perkembangan kognitif dan afektif mereka. Beda usia, cara mereka merasakan dan berpikir pun akan berbeda. Anak yang memiliki tanda-tanda depresi tidak selamanya memiliki beban hidup yang berat dan tidak selalu mendapat kekerasan fisik. Ada pula anak yang semasa hidupnya diperlakukan baik dan penuh kasih sayang dari orang tua, namun masih juga mengalami depresi. Hal ini terkait dengan kualitas mentalnya. Dia memiliki harga diri yang rendah, serta konsep diri yang negatif. Selain itu, depresi ini pun dapat muncul karena faktor kimia pada otak seseorang.

Pada masa anak-anak, seorang anak sedang mengembangkan kemampuan berpikir logisnya. Mereka sudah dapat berpikir logis, namun belum sempurna. Mereka masih butuh masukan yang positif dari orang dewasa. Demikian pula remaja, mereka pun butuh masukan orang dewasa yang mampu membawa mereka berpikir secara objektif, memiliki konsep diri yang baik, serta memandang hidup secara positif dan lebih luas.

banner_dinnad_300x250Perlu kita ketahui bahwa ide bunuh diri muncul di saat seseorang merasa dirinya tidak berharga, tidak ada yang menyayanginya, tidak berguna lagi, tidak bernilai, hidupnya hampa, serta tidak ada yang perlu diperjuangkan atau dipertahankan lagi. Apabila semakin sering dan semakin lama seseorang merasakan hal ini, ide untuk mengakhiri hidup dapat semakin menguat. Untuk mengetahui perasaan mereka juga tidak mudah, apalagi anak yang tertutup. Ketika ditanya, mereka akan diam. Apabila menjawab, jawabannya hanya mengatakan baik-baik saja atau tidak terjadi apa-apa pada diri mereka.

Bagaimana melihat tanda-tanda depresi pada anak?

Sebuah program pencegahan bunuh diri pada anak di Amerika menjelaskan beberapa tanda depresi pada anak balita, seperti;

  • sering adanya keluhan-keluhan fisik seperti sakit perut, sakit kepala, dan rasa lelah yang tidak dapat dijelaskan
  • banyak bergerak atau merasakan cemas dan gelisah yang berlebihan,
  • mudah marah, sering bertengkar dengan teman-temannya,
  • sering merasa sedih,
  • kehilangan gairah untuk bermain dan melakukan aktivitas yang digemari,
  • cenderung mengeluarkan kata-kata yang suram, sedih, dan tidak ceria.

Tanda depresi pada anak yang sudah menginjak bangku sekolah:

  • sering merasa cemas dan khawatir,
  • ada sikap permusuhan atau menyerang yang tidak beralasan,
  • sering mengeluh masalah fisik,
  • aktivitas anak jadi berlebih,
  • sering tidak patuh dan menyerang,
  • mudah frustasi,
  • mudah tersinggung, mudah menangis,
  • serta muncul pikiran untuk bunuh diri.

Tanda depresi pada remaja:

  • sering merasa gusar, tidak bahagia,
  • cara perpikirnya negatif,
  • kata-katanya ada unsur kemarahan,
  • ada rasa cemas berlebih, rasa takut yang sangat sering,
  • ada rasa bersalah,
  • nilai-nilai turun,
  • mulai enggan berinteraksi dengan teman-teman dan tidak mau beraktivitas,
  • sulit menjalin relasi,
  • ada perasaan sedih yang berkepanjangan,
  • kehilangan semangat,
  • ada perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan,
  • sangat sensitif terhadap penolakan,
  • harga dirinya dinilainya rendah,
  • muncul perilaku merusak diri sendiri,
  • perubahan selera makan,
  • jadwal tidur teranggu,
  • mulai menggunakan obat-obatan,
  • muncul pikiran untuk bunuh diri, ada perencanaan hingga percobaan bunuh diri.

Apa yang harus dilakukan orang tua jika menemukan tanda-tanda Depresi pada anak?

Orang tua harus mencatat perilaku apa yang mereka lihat dan kata-kata seperti apa yang mereka dengar. Orang tua juga perlu tahu berapa lama anak melakukan perilaku tersebut, dan bagaimana perubahan itu memp
engaruhi anak-an
ak. Kemudian, orang tua hendaknya berbicara dengan pihak lain, misalnya pengasuh atau guru di sekolah anak. Berbicara dengan pihak lain tujuannya untuk bekerja sama mengamati anak, membandingkan apa yang diamati, serta menjadi penguat atas pengamatan kita terhadap anak. Lalu, ajaklah anak berbicara dari hati ke hati mengenai apa yang sedang kita perhatikan. Cara kita mendengar dan berbicara menjadi hal penting bagi anak. Anak akan menyadari betapa orang tuanya perhatian terhadap permasalahan yang dihadapinya.

Lalu, bagaimana berbicara yang tepat dengan anak?

  • Hindari berbicara dengan nada menuduh anak seperti, “Kamu depresi, ya?” Sebaiknya katakan apa yang kita rasakan, misalnya, “Papa perhatikan kamu murung dan kelihatan sedih beberapa hari ini?”
  • Undang anak untuk mengemukan dan berbagi perasaan dengan mengatakan, “Ayo, ceritalah sama Mama kenapa kamu sedih”.
  • Hadapi anak dengan penuh empati, posisikan diri kita sebagai anak dan hargailah apa yang dia rasakan.
  • Beri kesempatan agar anak lebih banyak bicara daripada kita dan hindari interupsi atau gangguan-gangguan yang memecah perhatiannya.
  • Hindari kata-kata yang bernada ejekan seperti, “Kamu sudah dibelikan smartphone dan apa saja yang kamu inginkan sudah dipenuhi, apa lagi yang bikin kamu sedih?”
  • Tanyakan satu pertanyaan lalu tunggu responnya. Ada baiknya kita bersabar menunggu jawabannya dalam suasana hening.
  • Hindari mendiagnosa atau memberi nasihat, tapi fokuskan pada hal-hal yang menentramkan hatinya, misalnya, “Mama dan papa selalu ada bersama kamu, kita hadapi sama-sama masalahnya supaya tidak berat, ya”
  • Bicara dengan anak yang lebih dewasa atau orang dewasa yang ada di sekeliling anak agar bisa berkerja sama menjadi pendegar yang baik.
  • Susunlah rencana bersama-sama tentang apa yang akan dilakukan kemudian, “Kapan mau cerita-cerita lagi sama mana?” atau “Kira-kira kamu mau ke psikolog?”

Bila orang tua sudah melakukan semua itu namun anak belum berubah, bawalah anak ke tenaga kesehatan profesional seperti ke Psikolog Klinis atau ke Psikiater (dokter spesialis kejiwaan). Ada beberapa penanganan yang dapat dilakukan pada anak, seperti konseling psikologi, terapi keluarga, terapi berkelompok, program perubahan perilaku, pemberian obat, serta dirawat secara khusus di Rumah Sakit. Konseling psikologi merupakan konseling dengan teknik khusus yang membantu anak mengekspresikan perasaannya. Dalam konseling psikologi, kondisi mental anak pun akan dinilai dan diperiksa oleh psikolog. Dari situ, penanganan selanjutnya dapat ditentukan dan kita bisa membuat program perubahan mental dan perilaku untuk anak.

***
Dengan senang hati silakan like, comment, dan share jika menyukai tulisan ini. Semoga bermanfaat bagi banyak orang.

banner-socmed-02