Tags

, , , , ,


DSC00984

Saya bersama orang tua dan adik berlibur ke kampung Bapak saya di Lintang Kapuas, Kalimantan Barat. Ini perjalanan kami kembali ke kota.

“Nggak perlu liburan kemana-mana. Liburan cukup di rumah saja. Jadi, tidak menghambur-hamburkan uang.”

Bagi beberapa orang, liburan adalah pemborosan, merepotkan, dan buang-buang waktu. Liburan dinilai sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, melelahkan, dan berdampak buruk. Namun, bagi sebagian orang yang lain, liburan itu merupakan sarana untuk mengakrabkan diri dengan anggota keluarga, untuk menenangkan pikiran, dan istirahat fisik dari aktivitas dan pekerjaan yang menumpuk.

Ya, memang benar bahwa liburan belum tentu menyenangkan. Liburan bisa menjadi satu hal yang menjengkelkan, merepotkan, dan boros. Terutama bila liburan itu tidak direncanakan dengan matang. Liburan yang seperti itu bisa-bisa menimbulkan masalah baru, misalnya hutang kartu kredit atau kerugian tiket karena jadwal transit yang tidak cocok. Bayangkan saja, bila biaya yang dikeluarkan saat liburan itu justru lebih besar dari dana yang disediakan. Dana yang disiapkan untuk liburan ternyata kurang. Apa boleh buat orang tua harus menggunakan kartu kredit dan mengambil tabungan. Merencanakan sebuah liburan butuh perencanaan yang matang dan pengambilan keputusan yang bijaksana. Anda tidak hanya menyiapkan dana belanja. Anda juga perlu menyiapkan dana darurat, misalnya Anda sakit atau terjadi kecelakaan saat berlibur. Segala sesuatunya perlu disiapkan, terutama untuk berlibur ke luar negeri yang jaraknya jauh dan kebijakan-kebijakannya pemerintahnya biaya kesehatan yang berbeda dengan Indonesia.

Lalu, apakah Anda harus berlibur dengan cara bepergian? Apakah bepergian atau tidak bepergian dapat mempengaruhi kebahagiaan Anda?

Liburan dengan cara bepergian atau tidak bepergian adalah pilihan setiap orang. Liburan tergantung situasi, dana, waktu yang tersedia. Menurut penelitian terapan yang dilakukan oleh Jeroen Nawijn dan kawan-kawan mengenai kualitas hidup, secara umum tidak ada perbedaan antara orang yang berlibur ke luar kota atau berlibur di rumah. Kebahagiaan tidak terletak pada liburan atau tidak, pergi atau tinggal di rumah saja. Tapi, kebahagiaan terletak pada bagaimana kebutuhan seseorang terpenuhi atau tidak. Jika seseorang merasa butuh berlibur dan kebutuhan itu terpenuhi, maka dia akan bahagia. Jika dia tidak ingin kemana-mana, liburannya hanya di rumah saja dan hal itu terpenuhi, dia juga akan bahagia. Jadi, orang yang bepergian dan tidak bepergian tetap sama-sama bahagia.

Bagaimana dengan ide gila untuk mengisi liburan?

Tunggu dulu, ide Anda itu adalah ide unik, bukan ide gila. Ide Anda merupakan hasil dari kerja otak Anda sendiri. Itu artinya Anda berpikir kreatif. Nikmatilah cara liburan yang berbeda dari biasanya. Jika Anda terbiasa mengekspresikan ide-ide unik itu, Anda akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Mental Anda semakin sehat. Apa yang ada di benak Anda dapat diekspresikan dan direalisasikan. Salah satu contoh ide kreatif ialah mengajak anak-anak berkemah di halaman belakang rumah. Orang tua bisa merancang acara agar beraktivitas di tenda selama 2 malam. Jadi, mereka seakan berlibur di puncak atau pantai. Namun, apabila bisa benar bisa ke puncak atau pantai, alangkah lebih baik. Anak-anak bisa langsung mengalami dan menikmati alamnya. Scott E. Smith, seorang psikolog klinis dari Amerika, mengemukakan bahwa meluangkan waktu berlibur untuk pergi ke pantai memiliki dampak positif bagi mental seseorang. Bahkan menurutnya, ada penelitian yang mengungkapkan bahwa kebahagiaan bisa muncul saat seseorang mengizinkan dirinya hadir di suatu peristiwa tertentu. Kehadiran itu baik bagi kesehatan dan mengurangi stress. Ketika seseorang hadir di pantai, dia akan melihat pasir yang terpahat, ritme gelombang laut, tangisan hewan laut, dan ciuman ringan dari sinar matahari.

Bagaimana dengan anggapan bahwa liburan itu merepotkan?

Memang benar bahwa liburan itu merepotkan. Namun, sebetulnya ketika seseorang merasa repot mengurus liburannya itu tandanya dia sedang keluar dari zona nyaman. Dia mengalami masa transisi ke situasi baru yang tidak biasa dia lakukan. Dia melakukan aktivitas yang lain dari biasanya. Ada sedikit rasa kurang nyaman ketika melakukan hal baru dan berbeda. Memang benar Anda merasa tidak nyaman. Tapi sadarkah Anda bahwa Anda mempelajari hal baru? Sadarkah Anda bahwa Anda telah belajar beradaptasi dengan lingkungan. Sadarkan Anda bahwa Anda belajar menyelesaikan masalah dan mengendalikan diri. Anda merasa repot, namun sesungguhnya efeknya positif bagi mental Anda.

Berlibur bersama keluarga memiliki manfaat positif

Di balik aktivitas liburan yang seru dan merepotkan sesungguhnya ada banyak hal positif. Ketika merancang liburan tentu ada komunikasi, ada acara pembagian tugas, membuat kesepakatan, serta menyelesaikan konflik. Di saat itu pula orang tua bisa mulai mengajarkan anak-anak membuat itinerary atau rencana perjalanan liburan mereka. Jika merencanakan liburan ke luar kota, Anda bisa mengajarkan anak-anak cara membagi uang. Tunjukan berapa dana yang tersedia, lalu cara mencari tiket pesawat yang murah, penginapan sederhana, kemana saja tujuan mereka nanti dan berapa biayanya, serta kapan mereka akan kembali. Dengan mengetahui berapa biaya tiket transportasi, akomodasi penginapan, uang untuk makan, dan uang keperluan belanja, anak-anak bisa diajak belajar bagaimana mengatur keuangan mereka supaya tidak cepat habis dan mereka bisa kembali ke rumah dalam keadaan selamat. Ketika anak-anak diberi uang saku saat liburan, mereka bisa diajarkan mengatur dan membeli barang-barang yang mereka butuhkan saja.

Selain manajemen atau pembagian tugas di dalam keluarga, liburan pun menjadi sarana memperbaiki relasi. Ayah-ibu yang bekerja biasanya kurang mendalami karakter anak, begitu pula anak-anak terhadap orang tua mereka. Sehingga tak jarang muncul konflik di antara mereka. Memang, relasi di dalam keluarga tidak selamanya baik. Terkadang ada konflik karena adu pendapat. Apa pun bentuk konflik yang dialami, tetap ada nilai positif positif di baliknya. Konflik membuat Anda mengenal satu sama lain. Bahkan, di dalam liburan yang seru dan menyenangkan pun bisa muncul konflik. Orang tua maunya pergi ke tempat A, anak-anak maunya ke tempat B. Ya, di sini lah terjadi konflik. Dan, di sini pula lah anggota keluarga belajar manajemen konflik; belajar bagaimana mengatasinya. Bila mampu mengatasinya dengan cepat dan baik,  anggota keluarga itu pun akan menjadi semakin akrab, semakin kenal satu sama lain. Mereka berkumpul dan melakukan aktivitas bersama-sama, belajar mengenal karakter dan belajar menyesuaikan diri satu dengan yang lain.

Manfaat lain dari liburan, khususnya ketika mengunjungi tempat baru, akan mengajarkan kita cara beradaptasi. Pribadi yang sehat ialah pribadi yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Ketika berlibur ke tempat baru, tentu ada hal banyak hal baru yang ditemui disitu, baik budaya, kebiasaan, bahasa, dan aturan-aturannya. Mau tidak mau Anda harus menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Selain budaya, kebiasaan, bahasa, dan aturan Anda pun dilatih dengan pola hidup yang baru. Jika sehari-hari bisa tidur di kasur atau sofa empuk, saat liburan terpaksa duduk berjam-jam karena perjalanan yang jauh. Jika biasanya tidur dengan posisi nyaman dan lurus, kali itu Anda harus tidur dengan kaki ditekuk. Nah, disinilah Anda diajarkan bagaimana menikmati situasi baru. Semakin mampu dan mahir Anda menyesuaikan diri, maka Anda akan semakin menikmati hidup Anda. Anda akan jauh dari kebiasaan mengeluh karena Anda terbiasa menemukan nilai dan makna positif dari banyak peristiwa hidup.

Nah, sudah punya ide unik dan kreatif untuk direalisasikan? Share dong pengalaman kamu.

Traveling di Kalimanan Barat, 

wisata budaya di Kalimantan,
Psikolog Klinis di Pontianak
psikolog anak silakan hubungi maria nofaola