Tags

, , ,


DSC05028

Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., Psikolog dalam Seminar “Cara Berkomunikasi dengan Anak” di GPIB Jemaat Siloam Pontianak, 13 Februari 2016

Komunikasi dengan anak merupakan proses dua arah. Hal ini meliputi bagaimana kita memperhatikan anak sebagai lawan bicara, bagaimana menjadi pendengar yang baik, menyadari bahasa non-verbal (tanpa kata-kata), bagaimana menggunakan bahasa yang sederhana, bagaimana menggunakan pertanyaan terbuka, dan meyakinkan bahwa kita dan anak sama-sama mengerti apa yang dibicarakan.

Mari mengenal lebih dekat cara berkomunikasi dengan anak. Berikut ini merupakan paparan penulis dalam Seminar “Cara Berkomunikasi dengan Anak” yang diadakan di GPIB Jemaat Siloam Pontianak pada tanggal 13 Februari 2016 lalu.

KOMUNIKASI

Bernard Berelson dan Gary Steiner, dua orang ahli perilaku yang berkecimpung di dunia komunikasi dan media massa, mendefinisikan komunikasi sebagai penyampaian informasi, ide, emosi, keterampilan, dan seterusnya melalui penggunaan simbol kata, angka, grafik dan lain-lain.

Komunikasi merupakan aktivitas berbagi pikiran, ide, atau perasaan di antara manusia. Selain kata-kata, komunikasi juga bisa berwujud bahasa tubuh atau ekspresi wajah. Komunikasi berbentuk kata-kata dapat disampaikan secara langsung maupun tidak langsung, lisan maupun tertulis. Komunikasi dengan kata-kata secara langsung artinya seseorang berbicara berhadapan dengan lawan bicaranya. Komunikasi dengan kata-kata namun tidak langsung contohnya saat kita bertelpon-telponan. Komunikasi tertulis contohnya pesan di SMS, email, atau media sosial lainnya.  Sedangkan bahasa tubuh merupakan cara berkomunikasi menggunakan ekspresi wajah, gerakan tangan, gerakan anggota tubuh seperti kepala, tangan, dan kaki. Komunikasi dengan ekspresi wajah ini ditunjukkan lewat senyuman, cemberut, mengerutkan dahi, memiringkan bibir, mengangkat bahu, atau menggelengkan kepala.

Apakah komunikasi dalam keluarga penting?
Jawabannya, ya! Berbagai penelitian menunjukkan bahwa komunikasi itu adalah kunci keberhasilan sebuah keluarga. Komunikasi merupakan pondasi bagi suatu hubungan. Komunikasi adalah modal keharmonisan keluarga. Adanya komunikasi menunjukkan bahwa kita tertarik dengan kehidupan anggota keluarga kita. Ketertarikan ini menandakan adanya cinta dan perhatian. Dengan menunjukkan ketertarikan kita kepada anggota keluarga, anggota keluarga akan merasa dibutuhkan, penting, berguna, dihargai, dan dicintai oleh kita. Emosi atau suasana perasaan yang tercipta pun akan positif dan menyenangkan.

mamaku-1-kuning-300

Orang tua menjadi kunci terbentuknya komunikasi di dalam keluarga
Dalam keluarga, orang tua memiliki peran penting dalam membentuk komunikasi. Orang tua lah yang membentuk pola komunikasi di dalam keluarganya seperti apa. Anak-anak merupakan peniru pola perilaku orang tua mereka. Jika orang tua mau menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak dan pasangannya, anak-anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang kelak juga akan mengembangkan komunikasi positif di dalam keluarga mereka. Perilaku itu ditiru dan akan bergulir terus menerus. Mereka akan menemukan manfaatnya. Dengan komunikasi yang baik, masalah di dalam keluarga dapat diselesaikan dengan tenang. Dengan komunikasi yang baik, perselisihan di dalam keluarga pun dapat dihindari.

Komunikasi yang baik itu seperti apa?

  • Sering dilakukan

Komunikasi yang baik ialah komunikasi yang sering dilakukan. Rick Peterson, seorang pakar di bidang pengembangan manusia, mengemukakan bahwa meskipun jadwal kita padat dan sulit menemukan waktu luang, kita harus menyisihkan waktu untuk keluarga. Komunikasi dalam keluarga adalah hal utama. Komunikasi ini tidak hanya dengan duduk berhadap-hadapan. Kita bisa berkomunikasi kapan saja, misalnya ngobrol di dalam mobil sambil berkendara, mematikan televisi lalu ngobrol sambil makan malam bersama, menjadwalkan pertemuan formal dan informal untuk membahas hal-hal penting yang berkaitan dengan keluarga, serta berbicara dengan anak-anak menjelang tidur. Sesungguhnya banyak cara untuk tetap berkomunikasi. Orang tua harus kreatif menciptakannya.

Selain komunikasi lisan-langsung, orang tua juga bisa mengembangkan komunikasi tertulis. Misalnya, mengirim SMS menanyakan kabar. Ini juga bentuk komunikasi khususnya bagi orang tua dan anak yang tinggal berjauhan. Selainitu, membalas sapaan, salam, dan pertanyaan basa-basi dari anak-anak atau pasangan yang disampaikan lewat sms, itu pun bentuk komunikasi. Yang dapat kita lakukan dengan terbatasnya waktu berkomunikasi itu ialah dengan meningkatkan kualitas komunikasi itu sendiri. Kita dapat menciptakan komunikasi yang hangat, positif, dan efektif.

banner_rnm_300x250

Naomi Richman, seorang dokter spesialis kejiwaan anak dari Inggris mengemukakan beberapa hal penting terkait komunikasi dengan anak. Beberapa di antaranya ialah:

  • Merespon cerita anak

Dengan sempitnya waktu berkomunikasi, di saat itulah kita bisa menunjukkan perhatian kita kepada orang-orang di sekeliling kita. Kita dapat menanyakan pengalaman, pikiran, perasaan mereka dalam sepekan. Lalu, dengarlah apa yang mereka utarakan. Ekspresikan rasa ketertarikan kita terhadap apa yang dia bicarakan, misalnya dengan mengatakan, “Oh, begitu…seru juga, ya”, “Waaw, anak papa hebat”. Atau, contoh lainnya adalah, “Ya, benar juga ya, Ma. Anak-anak pasti pengin refreshing juga. Kapan pasnya kita liburan ke Bali sekeluarga, ya?”.

  • Menjadi pendengar yang baik

Apabila perilaku dan sikap anak bertentangan dengan prinsip hidup kita, namun kita ingin memperbaiki perilakunya, sebaiknya kita jangan langsung marah. Kita perlu menenangkan diri dahulu kemudian perlahan-lahan mengarahkan pikiran anak ke hal yang positif. Misalnya, “Jadi menurut kamu mereka menyebalkan, ya? Tapi, apakah sekarang kamu sudah memaafkan mereka?Semakin cepat kamu memaafkan mereka, maka hatimu akan tenang dan bisa konsentrasi belajar”. Hal ini pun dapat dilakukan ketika berkomunikasi dengan media sosial, misalnya via telepon dan bertatap muka melaluiSkype atau Line. Dengan canggihnya media komunikasi, sesungguhnya kita sangat dibantu untuk berkomunikasi dengan anak-anak kita. Yang perlu kita ingat ialah tingkatkan kualitas komunikasinya.

  • Terjalin dua arah.

Orang tua bicara tapi juga harus bersedia mendengar anak-anaknya saat bicara. Semua orang punya hak untuk bicara dan didengar. Dengan komunikasi dua arah ini berarti apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang bisa diketahui oleh orang lain. Dan, orang lain pun bisa meminta klarifikasi atau penjelasan atas pikiran dan perasaan kita saat itu. Penjelasan ini bisaorang tua dan anak saling memahami serta mengerti satu sama lain.

  • Tidak menyampaikan pesan negatif

Pesan negatif maksudnya ialah kalimat yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada diri orang lain, merendahkan orang lain, menghina, menuduh, mengeluh, dan mengadu domba orang lain. Contohnya ialah dengan mengatakan, “Kamu pasti selingkuh!” kepada pasangannya. Dan, contoh mengirim pesan negatif ke anak, “Kamu pasti bohongin mama, kan? Kamu bilang mau kerja kelompok tapi malah pulangnya sama si X. Kamu pacaran sama si X, kan?!”.

  • Mengirim pesan yang positif

Pesan positif ini ialah pesan-pesan yang menimbulkan motivasi, rasa senang, rasa puas dan bangga. Pesan positif berisi pujian, ungkapan pikiran dan perasaan kita terhadap orang lain. Contoh pesan positif kepada anak, “Oke, anak Papa pintar. Belajar yang tekun, ya” dan contoh pesan positif kepada pasangan, “Mama ini luar biasa. Papa bersyukur banget punya istri seperti mama ini. Semoga anak-anak kelak bisa seperti mamanya yang rajin dan tekun bekerja”.

  • Lakukan kontak mata

Saat berhadapan langsung dengan lawan bicara, hendaknya kita menatap lawan bicara kita, melakukan kontak mata, berkonsentrasi pada apa yang disampaikan, tidak langsung memotong pembicaraan, serta memperhatikan bahasa tubuh lawan bicara, misalnya nada suaranya, posturnya, dan ekspresi wajahnya.

  • Mendengar aktif dan ambil beberapa kata dari anak

Dengarlah secara aktif lalu mulai merespon mengambil beberapa kata atau kalimat yang diucapkan anak. Hal ini menunjukkan bahwa kita mendengarkannya. Contohnya, “Tadi kamu mengatakan bahwa temanmu suka bicara sambil membentak-bentak, lalu apa yang kamu lakukan?” Mendengarkan adalah seni yang perlu dipelajari dalam berkomunikasi. Mendengar tidak hanya menangkap kata per kata lawan bicara. Tetapi, berusaha memahami perasaan lawan bicara kita. Mendengarkan dengan baik berarti kita menunjukkan rasa peduli dan perhatian.

  • Bertanya dengan pertanyaan terbuka

Pertanyaan terbuka ini ialah pertanyaan yang menghasilkan jawaban luas, sesuai perasaan, pikiran, dan pengalaman anak. Jawabannya bukan berupa angguk-geleng atau ya-tidak. Contoh pertanyaan terbuka, “Bagaimana pengalaman di sekolah hari ini?”. Contoh pertenyaan tertutup, “Kamu sudah atau tidak dengan sekolah baru ini?” Jika jawabannya Ya suka atau Tidak atau dengan gelengan kepala, perbincangan pun akan berhenti.

  • Gunakan bahasa ibu

Bahasa ibu maksudnya ialah bahasa yang paling dimengerti oleh anak. Jika sehari-hari dia menggunakan bahasa Indonesia, sebaiknya kita pun menggunakan bahasa itu. Hindari penggunaan kata asing atau bahasa dengan level yang lebih tinggi dari kemampuan anak.

  • Ada kesimpulan “mau apa setelah ini”

Setelah mendengar cerita anak, buat kesimpulan dan rencana ke depan. Misalnya, “Nanti mama diskusi dulu sama papa, boleh atau tidak ikuti kegiatan itu”. Atau, “Nanti papa bicarakan dengan kepala sekolah mengenai teman kamu yang suka membuli itu”.

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar kuatir.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iri, ia belajar akan iri hati.
Jika anak dibesarkan dengan rasa malu,
ia belajar menjadi mudah merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar bersabar.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan,
ia belajar bahwa hidup itu akan indah ketika dia memiliki tujuan hidup.
Jika anak dibesarkan dengan kebiasaan berbagi,
ia belajar tentang kemurahan hati.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran,
ia belajar menjadi apa adanya sesuai kebenaran.
Jika anak dibesarkan dengan keadilan, ia belajar bersikap adil
Jika anak dibesarkan dengan kebaikan dan perhatian,
ia belajar menghargai orang lain.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan,
ia belajar bahwa dunia ini merupakan tempat yang nyaman untuk hidup.

Puisi di atas adalah terjemahan puisi berjudul Children Learn What They Live karangan Dorothy Law Nolte (12 January 1924 – 6 November 2005). Dia adalah seorang penulis dari Amerika, juga seorang konselor keluarga. Dorothy Law Nolte  menulis puisi ini untuk kolom keluarga mingguan dalam majalah The Torrance Herald pada tahun 1954.

 


Terima kasih sudah LIKE dan SHARE tulisan ini. Semoga bermanfaat dan hidup Anda diberkati.

banner2