Tags

, ,


“Anak gue udah bisa kenal warna, huruf, dan angka di usia 3 tahun. Itu karena gadged. So, siapa yang bilang gadged memberi pengaruh buruk ke anak? Buktinya anak gue baik-baik aja”, tulis seorang ibu muda di status Facebook-nya.

20160228_142404 sdkhf

Artikel ini dipublikasikan dalam Arue Digest, Januari 2016

Pernahkan mendengar pernyataan orang tua seperti itu? Atau, mungkin Anda sendiri yang berpendapat demikian? Ya, gawai tidak memberikan pengaruh buruk dari segala sisi. Di sisi tertentu gawai sangat bermanfaat dan menjadi alat yang sangat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari, namun di sisi lain gawai juga dapat memberi efek yang negatif. Baik-buruknya gawai tergantung dari sisi mana kita melihatnya dan dari bidang mana pula. Baik-buruknya juga tergantung usia, serta tergantung kondisi fisik dan mental individu itu sendiri.

 

 

Gawai (dalam bahasa Inggris disebut gadged) merupakan alat atau perkakas yang kita gunakan sehari-hari untuk mencari informasi dan berkomunikasi. Gawai di era informasi ini berkembang. Selalu ada inovasi baru. Mengapa gawai berkembang? Karena peminatnya meningkat, dia dibutuhkan, dan banyak manfaatnya. Jelas, gawai memiliki manfaat. Sebagai alat komunikasi dan mencari informasi, gawai juga dapat digunakan untuk media belajar. Program-program dalam gawai semakin canggih. Ada program untuk belajar, ada program untuk jual beli, program untuk transfer uang, dan masih banyak lagi. Kehidupan kita sehari-hari menjadi lebih praktis berkat gawai. Bahkan mengasuh anak pun jadi praktis dengan gawai. Tinggal berikan anak tontonan di gawai, anak menjadi diam, orang tua pun senang karena bisa chatting dengan teman-temannya melalui aplikasi di gawai mereka.

20160228_103529Gawai memang sudah diakui sebagai alat yang banyak membantu aktivitas manusia. Namun, di sisi lain ada pula peneliti yang mencoba menemukan sisi negatifnya. Dari bidang kedokteran dan psikologi, peneliti-peneliti mencoba menganalisa efek negatif dari gawai tersebut. Gawai itu bisa menjadi baik dan bermanfaat jika dapat membantu kita dalam beraktivitas. Sebaliknya, gawai bisa memberi pengaruh buruk jika membuat kita gagal menjalankan fungsi atau tugas kita. Seperti apa contohnya? Gawai memudahkan kita 20160228_103543berkomunikasi dengan teman yang jauh di luar negeri. Dengan adanya gawai, kita menjadi asyik dengan aktivitas kita sendiri hingga lupa memperhatikan sekitarnya. Kita jadi lupa melakukan kontak mata saat berbicara tatap muka dengan teman kita. Kita tidak menatap wajah anak kita saat mereka menceritakan keberhasilannya di sekolah. Kita lupa merespon pasangan kita yang memuji penampilan kita saat itu. Kita juga lupa memperhatikan anak kita yang masih balita sedang memasukkan benda-benda berbahaya ke mulutnya, memegang listrik, mendekati jalan raya, hendak menuruni tangga, atau mendekati binatang berbisa.

Memang tidak ada yang salah dengan gawai. Kita bisa berkomunikasi dengan lancar karena adanya gawai. Orang tua tahu dimana keberadaan anaknya dan tahu apa yang sedang dilakukan anaknya berkat gawai. Ya, kita tidak bisa mengatakan bahwa gawai berbahaya. Penelitian-penelitian pun sedang gencar dilaksanakan oleh para peneliti perilaku. Mereka meneliti pengaruh gawai dan program-program di dalamnya, serta melihat seberapa jauh program itu mempengaruhi mental atau perilaku seseorang. Salah satu program dalam gawai adalah permainan. Jenis permainan itu pun bermacam-macam. Kita tidak bisa mengatakan bahwa semua permainan di gawai itu berefek negatif. Efeknya tergantung banyak hal; siapa yang bermain, berapa usainya, apa jenis kelaminnya, berapa lama dia bermain, apa jenis permainannya, kapan memainkannya, serta berapa biaya yang dikeluarkan dalam permainan itu.

Bagaimana jika gawai digunakan untuk mengajar anak-anak?

Program-program pendidikan di gawai sangat beragam dan menarik. Gawai dapat menjadi alat untuk mengajar anak. Kita bisa mengajarkan anak mengenal warna, huruf, angka melalui gawai. Kita bisa mengajarkan kreativitas dengan program yang disediakan di gawai. Tentu ini baik untuk perkembangan anak. Namun, coba perhatikan dan bandingkan jika anak belajar dengan cara melihat warna, huruf, dan angka secara langsung. Dia akan melihat, meraba, mencium, dan mendengar secara langsung apa yang sedang dipelajarinya. Dia akan mengenal daun berwarna hijau, permukaannya halus, baunya wangi, ada suara tertentu jika bergesekan antar daun. Anak akan melihat wortel berwarna oranye, bentuknya bulat panjang, rasanya agak manis. Anak akan memegang benda-benda tersebut dan mengenal bentuknya. Dengan melihat sesuatu secara langsung, anak akan termotivasi untuk mengenal benda itu lebih jauh. Anak juga melatih kemampuan otot motorik halusnyanya untuk memegang, memungut, dan memetik. Anak akan melatih kemampuan motorik kasarnya dengan bergerak, berjalan, dan berlari kesana-kemari. Bahkan dengan melihat objek belajar secara langsung, anak terstimulasi untuk mengenal benda lainnya. Artinya, otak anak pun terstimulasi dan kecerdasan anak bisa berkembang dengan optimal. Bukankah belajar seperti ini justru memiliki manfaat yang lebih banyak?

Apakah perlu membelikan anak yang duduk di bangku sekolah sebuah gawai?

Sejauh gawai itu digunakan untuk mendukung proses belajar, tentu gawai menjadi bermanfaat dan bernilai penting. Anak akan mendapat informasi melalui gawai. Ditambah akses internet,  anak dapat mencari berita, mencari penjelasan tentang apa yang tidak mereka mengerti, mencari data, menyelesaikan tugas, dan menemukan hasil penelitian terbaru. Mengimbangi besarnya manfaat penggunaan gawai dan akses internet yang luas, orang tua perlu memantau dan membimbing putra-putrinya dalam menggunakan gawai dan mengakses internet. Pemantauan dan bimbingan itu menjadi tameng atau pelindung bagi putra-putri kita dari tindak prostitusi online, pornografi, pornoaksi, serta tindak kejahatan lain di dunia maya.

Benarkan gawai dapat membuat kita ketergantungan?

Ya, gawai dapat membuat kita ketergantungan. Jika kita merasa cemas sampai tidak bisa fokus pada pekerjaan karena lupa membawa gawai, artinya kita sudah mulai ketergantungan dengan gawai itu.  Jika kita tidak dapat berhenti dengan program di gawai kita, misalnya permainan, artinya kita pun sudah mulai ketergantungan dengan program permainan itu.

Menurut Craig Anderson, Douglas Gentile, dan Karen Dill, para peneliti di bidang psikologi dari Iowa State University, satu permainan memberi pengaruh yang berbeda pada masing-masing individu. Ada yang tidak terpengaruh, ada yang terpengaruh sedikit, dan ada yang terpengaruh banyak sekali. Ada yang efeknya hanya jangka pendek dan ada pula yang mendapat efek jangka panjang. Jadi memang tidak bisa disimpulkan bahwa satu hal mengakibatkan peristiwa yang sama pada setiap orang. Meskipun demikian, ada baiknya kita menjaga kesehatan mental kita agar tidak mendapat efek yang negatif, bukan? Oleh karena itu, hendaknya kita menggunakan gawai dengan bijaksana.

***
Artikel dalam Arue Digest, Januari 2016.

***

Terima kasih sudah LIKE dan SHARE tulisan ini. Semoga bermanfaat dan hidup Anda diberkati.