Tags

, ,


Son clinging to father's leg

Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Masuk sekolah untuk pertama kali merupakan hal yang menyenangkan, sekaligus menyedihkan dan menakutkan bagi anak. Menyenangkan, karena tandanya mereka sudah “besar”, mereka semakin “pintar”, dan akan punya banyak teman di sekolah. Namun, masuk sekolah pertama kali juga menyedihkan dan menakutkan karena mereka berpisah dengan ayah-ibu, sendirian tanpa orang tua, tidak ada yang membantu mereka jika ingin buang air kecil, atau tidak ada yang menyuapi ketika akan makan. Jadi, tak jarang pula anak-anak ingin orang tua selalu berada di dekat mereka, menangis ketika orang tua meninggalkannya, bahkan berteriak-teriak memohon tidak ditinggalkan. Ekspresi kecemasan, ketakutan, dan kesedihan itu beraneka ragam.

Reaksi emosional seperti yang dilakukan anak-anak ini merupakan hal yang wajar. Jika sampai tidak mau berpisah dengan orang tua selama beberapa minggu atau dalam beberapa bulan, reaksi emosi itu disebut Separation Anxiety Disorder atau Gangguan Kecemasan Perpisahan.

Nah, supaya anak dapat “berpisah” dengan nyaman saat pertama masuk sekolah, ikuti tips berikut ini:
1. Ceritakan hal-hal menyenangkan mengenai sekolah
Lakukan hal ini jauh-jauh hari sebelum hari masuk sekolah. Bisa dilakukan 1 tahun sebelumnya atau beberapa bulan sebelumnya. Dengan menceritakan hal-hal menyenangkan dan seru mengenai sekolah, anak akan penasaran dan antusias untuk masuk sekolah. Sekolah jadi sesuatu yang menyenangkan di benaknya.

2. Jelaskan bahwa orang tua tidak dapat menemani, dia harus mandiri
Dengan demikian, anak siap sejak awal paham bahwa dia harus mandiri. Tanpa orang tua artinya dia harus belajar makan sendiri, belajar mengatakan pada guru bahwa dia mau ke toilet, belajar bagaimana caranya membersihkan diri setelah buang air kecil atau air besar, belajar membersihkan ingus ketika flu, dsb.

gaji-kantor-300x2503. Relakan berpisah dari anak
Emosi orang tua dapat ditangkap oleh anak. Memang, berpisah dengan anak yang mulai sekolah pun hal berat bagi orang tua. Sehari-hari bersama anak, lalu anak mulai aktif dengan kegiatannya sendiri. Namun, jangan tampakkan emosi kesedihan Anda. Tunjukkan bahwa Anda pun bahagia bahwa anak Anda sudah mulai besar dan mandiri.

4. Jauhkan jarak
Jika di hari pertama anak tidak mau berpisah, boleh lah orang tua menunggu dengan jarak yang dekat dengan anak. Namun ingat, bagaimana pun juga Anda harus berada jauh dari anak. Maka buatlah jarak dengan anak Anda. Hindari mengintip-intip dari balik pintu atau jendela. Percaya pada anak Anda, maka anak pun akan percaya bahwa dia berada di tempat yang aman.

5. Konsisten menjauhkan jarak
Jika jarak sudah mulai jauh, konsistenlah. Apa pun yang terjadi di ruang kelas itu, percayakan anak Anda pada guru dan sekolah yang telah Anda pilih. Jangan sekali-kali mendekatkan jarak hanya karena rasa cemas atau khawatir Anda. Biarkan anak merasa nyaman. Konsisten dan tegaslah dengan jarak. Jika suatu waktu anak menangis dan meminta orang tua di dekatnya, jangan lakukan hal ini. Tetaplah pada jarak yang sudah ada. Yang perlu Anda lakukan ialah menjelaskan pada Anak bahwa batas Anda hanya sampai disitu. Orang tua tidak boleh masuk ke kelas. Tenangkan pikiran anak Anda, mungkin saja dia mendapat perlakuan buruk dari temannya. Sampaikan hal ini ke guru secara tenang.

6. Beri penghargaan pada anak
“Anak mama hebat! Tadi di sekolah sudah berani sendiri sama teman-teman dan bu Guru. Tadi belajar apa?” Beri penghargaan atas apa yang telah dilakukan anak. Kemudian, tanyakan apa saja aktivitasnya, suka, serta dukanya selama di sekolah. Dengan bertanya, anak tahu bahwa situasi sekolah merupakan hal yang menyenangkan bagi mereka dan orang tua. Anak paham bahwa orang tua pun penasaran dengan apa yang dialaminya di sekolah. Dengan demikian, dia pun yakin bahwa dirinya sudah melakukan hal yang benar dan tepat selama di sekolah.

Selamat mengantar anak ke sekolah, ya, Ayah-Bunda🙂

banner-shar