Tags

, , , , , , , ,


 

Kita sering menyebut-nyebut kata ai kyu. Jika ada teman yang agak lambat memahami informasi, kita bercanda sambil mengatakan, “Ah, dasar ai kyu jongkok, lu! Jongkok dalam kalimat itu maksudnya rendah. Atau, kita mengatakan, “Ai kyu si A itu agak kurang kayaknya”. “Ai kyu anak saya jelek, nilai rapornya banyak yang merah”, kata seorang ibu menceritakan anaknya.

Ai kyu yang kita sebut-sebut itu adalah ejaan dalam bahasa Inggris. Tulisannya terdiri dari dua huruf “IQ”.  IQ singkatan dari Intelligence Quotient.

Apa sebenarnya IQ? Samakah IQ dengan kecerdasan?

Alfred Binet, psikolog dari Perancis, menjelaskan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan untuk memusatkan perhatian pada suatu masalah yang akan dipecahkan.  Menurut penemu pertama alat tes inteligensi itu, kecerdasan berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam beradaptasi terhadap masalah yang dihadapinya. Selain itu, juga sebagai kemampuan mengkritisi masalah yang dihadapi atau mengkritisi dirinya sendiri. Sedangkan, IQ (Intelligence Quotient) adalah “skor” yang diperoleh dari alat tes kecerdasan. Dengan tes kecerdasan itu, kita dapat mengetahui skor kecerdasan dan kategori kecerdasan seseorang. Tabel di bawah ini adalah penggolongan skor kecerdasan dan kategori kecerdasan yang dapat kita ketahui melalui tes inteligensi. Penggolongan IQ ini berdasarkan penelitian David Weschler. Dia adalah  seorang psikolog asal Romania yang menemukan alat tes inteligensi bernama Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) dan Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC).

Skor Kecerdasan Kategori Kecerdasan
≥ 170 Jenius
140 – 169 Sangat Superior
120 – 139 Superior
110 – 119 Di atas rata-rata
90 – 109 Rata-rata
80 – 89 Di bawah rata-rata
70 – 79 Borderline
≤ 69 Retardasi Mental

Apa manfaat mengetahui skor kecerdasan?

Skor kecerdasan merupakan skor yang sudah terstandar. Dengan mengetahui skor kecerdasan seseorang, kita akan mengetahui golongan kecerdasannyanya. Apakah tergolong rata-rata, di bawah rata-rata, di atas rata-rata, superior, atau jenius. Skor kecerdasan tersebut dapat memberi gambaran bagaimana semestinya seseorang bertindak dan menyikapi sesuatu. Menyikapi artinya bagaimana dia merasakan, berpikir, dan berperilaku untuk menghadapi sesuatu. Seseorang dengan kecerdasan rata-rata hendaknya berpikir dan berperilaku seperti layaknya orang dengan kecerdasan normal. Tidak berperilaku seperti mengalami retardasi mental. Tidak Dia dapat beradaptasi dan berperilaku sesuai norma yang berlaku di lingkungannya. Ketika berada di suatu tempat dimana dia harus diam, dia dapat diam. Ketika berada di suatu tempat dimana dia harus menggunakan pakaian sopan, dia dapat melakukannya.

IQ menjadi ukuran bagaimana seseorang seharusnya bersikap. Jika skor inteligensinya menunjukkan bahwa dia tergolong superior, sangat superior, atau jenius, semestinya dia berprestasi di sekolah, lancar menjalankan pendidikannya, dan berprestasi di dunia kerja. Dalam seleksi pendidikan dan sekolah, IQ pun menjadi standar diterima atau tidaknya seseorang. Jika suatu lembaga pendidikan berharap peserta didiknya mampu mengikuti cara belajar yang cepat, maka mereka akan menentukan standar tertentu. Standar itu dibutuhkan agar tidak ada peserta didik yang ketinggalan dan tindak memahami penjelasan guru. Jadi, mereka bisa mengajar dengan kecepatan yang sama bagi semua peserta didik. Harapannya, dengan metode mengajar dan kecepatan tertentu, peserta didik dapat menerima informasi yang disampaikan secara bersama-sama.

Apakah individu dengan IQ tinggi akan berprestasi dan sukses di masa depan?

Kita berharap orang-orang dengan IQ tinggi (di atas rata-rata hingga jenius) berprestasi di sekolah dan sukses di saat dewasa. Namun kenyataannya, ada juga anak didik dengan IQ tinggi tetapi prestasinya di bawah rata-rata. Hal ini dapat terjadi karena faktor lain, seperti emosi, dukungan lingkungan keluarga, dan kualitas kepribadiannya. Misalnya, seorang anak didik dengan IQ superior tetapi nilai-nilai dalam rapornya cenderung rata-rata atau di bawah rata-rata. Hal ini akan menjadi pertanyaan, ada apa dengan si anak. Untuk mengetahui hal ini, biasanya diperlukan pemeriksaan psikologi. Hasil pemeriksaan psikologi kelak digunakan sebagai landasan terapi untuk mengubah kondisi anak tersebut. Terapi psikologi digunakan untuk mengembangkan potensi anak agar berkembang lebih optimal dan berprestasi sesuai skor kecerdasannya.

Bicara mengenai keberhasilan, keberhasilan itu dipandang dari sudut pandang yang beragam. Apakah keberhasilan itu dilihat dari bagusnya nilai rapor, jumlah piala atau medali yang diperoleh, atau penghasilan besar saat seseorang bekerja di usia dewasa. Sama dengan prestasi, keberhasilan pun diharapkan muncul pada orang-orang dengan skor inteligensi tinggi. Namun, keberhasilan itu tidak semata-mata karena IQ. Ada hal lain yang juga berperan. Salah satunya ialah EQ (Emotional Quotient) atau dalam bahasa Indonesia disebut kecerdasan emosional.

Apa itu EQ?

EQ singkatan dari Emotional Quotient. Emotional Quotient sering pula disebut Emotional Intelligence (EI). Keduanya memiliki arti yang sama, yaitu kecerdasan emosional. Menurut Daniel Goleman, kecerdasan emosional merupakan kemampuan dalam mengenali perasaan-perasaan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, kecerdasan emosional juga merupakan kemampuan dalam memotivasi diri sendiri, mengelola emosi diri sendiri dengan baik, serta kemampuan melakukan hubungan sosial. Daniel Goleman adalah psikolog dari Amerika yang terkenal dengan bukunya yang berjudul “Emotional Intelligence”.

Pada kesempatan lain, mungkin kita pernah membaca tulisan bahwa kecerdasan emosional (EQ) itu sama pentingnya dengan IQ. Atau, ada tulisan lain yang menyatakan bahwa keberhasilan seseorang dipengaruhi oleh EQ. Dari definisi kecerdasan emosional (EQ) dan skor kecerdasan (IQ), kita semakin mengerti bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam hidup, kita membutuhkan IQ dan EQ itu. Kita tidak dapat meraih keberhasilan secara optimal apabila hanya mengutamakan IQ saja. Apabila memiliki IQ tinggi namun kecerdasan emosionalnya buruk, maka keberhasilan optimal itu tidak akan diperoleh. Apabila kita cerdas namun tidak bisa membina hubungan baik dengan orang lain (misalnya mudah marah, mudah tersingung, tidak mampu mengemukakan ide pribadi) perkembangan karirnya akan terhambat.

Bagaimana mengembangkan kecerdasan emosional?

Untuk mengembangkan kecerdasan emosional, kita perlu mengenali faktor-faktornya. Kecerdasan emosional terdiri dari 5 faktor, yaitu faktor kesadaran emosi, pengendalian emosi, motivasi diri, empati dan hubungan sosial.

  1. Kesadaran emosi

Kesadaran emosi merupakan kemampuan untuk mengenali emosi ketika emosi itu terjadi. Jika kita menyadari keberadaan emosi itu, kita akan mampu menyikapi emosi yang kita miliki dengan rasional. Contohnya, ketika emosi kita sedang negatif (marah, sedih, kecewa), kita menyadari bahwa kita akan mudah tersinggung ketika mendengar guyonan yang tidak sopan. Oleh karena itu, sebaiknya kita menjaga jarak terlebih dahulu agar perasaan kita tenang. Ketika sudah tenang, barulah kita bisa bercanda-canda dengan teman kita.

  1. Pengendalian emosi

Pengendalian emosi maksudnya bagaimana seseorang mengendalikan diri mereka. Jika pengendalian emosinya baik artinya dia dapat mengelola dan mengekspresikan emosinya dengan baik tepat. Dia juga mempunyai toleransi terhadap frustrasi dan mampu menangani ketegangan jiwa dengan baik. Dapat mengelola dan mengekspresikan emosi contohnya ketika seseorang penjual  merasa marah dengan pelanggan yang cerewet dan selalu mengeluh. Meskipun marah, dia bisa mengontrol diri untuk tidak berkata kasar atau memukul si pelanggan.

  1. Motivasi diri

Menurut Daniel Goleman, orang yang mempunyai motivasi diri ialah orang yang tekun melakukan usaha mencapai tujuan, mampu menguasai diri, dan bertanggung jawab. Memiliki motivasi diri berarti juga dapat membuat rencana-rencana inovatif-kreatif ke depan, mampu menyesuaikan diri, mampu menunda pemenuhan kebutuhan sesaat untuk tujuan yang lebih besar, lebih agung, dan lebih menguntungkan.

  1. Empati

Empati maksudnya ialah kepedulian yang mendalam atau penerimaan yang penuh terhadap orang lain. Mampu berempati berarti dia mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi. Sinyal sosial tersembunyi itu mengisyaratkan kebutuhan orang lain. Dia juga mampu menerima sudut pandang atau pendapat orang lain, peka terhadap perasaan orang lain, dan mampu mendengarkan orang lain.

  1. Hubungan sosial.

Hubungan sosial maksudnya seseorang mampu menjalin hubungan dengan orang lain. Dia juga dapat menikmati persahabatan dengan tulus.

Kecerdasan emosional di dunia kerja

Kecerdasan emosional (EQ) itu penting, sama pentingnya dengan IQ (Intelligence Quotient). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional seorang karyawan di perusaahan memiliki pengaruh positif terhadap perusahaan. Jika karyawan-karyawan memiliki kecerdasan emosional tinggi, perusahan tersebut akan mendapat keuntungan. Keuntungan itu dalam hal produktivitas, efisiensi biaya perekrutan karyawan, dan lingkungan kerja yang sehat. Karyawan dalam perusahaan itu akan saling menghargai ide satu sama lain, kerja sama akan terjalin optimal, gosip dan perilaku negatif berkurang, setiap orang akan merayakan keberhasilan teman kerjanya, dan potensi-potensi yang dimiliki akan berkembang.

Nah, sekarang kita dapat membayangkan seperti apa jadinya jika seseorang yang memiliki skor kecerdasan (IQ) tinggi dilengkapi kecerdasan emosional yang baik. Tentu hal itu akan membuat seseorang berkembang sangat baik dan sukses dalam karirnya di masa depan.

***

Penulis: Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., Psikolog
* Psikolog Klinis di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie”, Pontianak.
* Psikolog Klinis di RS Ibu dan Anak “Anugerah Bunda Khatulistiwa”, Pontianak.
* Dosen tamu di Akademi Keperawatan Dharma Insan, Pontianak

Advertisements