Tags

, , , , , ,


o-COMPLIMENT-facebook

“Kamu sekarang tampak lebih cantik dan modis.”
“Cara kamu berpidato tadi bagus, loh.”
“Desain baju kamu keren dan jahitannya rapi sekali.”
“Potongan rambutmu oke, Bro! Penampilanmu jadi lebih keren!”
“Tulisan-tulisanmu sungguh indah dan menginspirasi saya.”
“Saya suka dengan cara kamu bekerja, kamu bekerja dengan teliti, rapi, dan tepat waktu.”

Kalimat-kalimat di atas adalah beberapa kalimat pujian. Anda tentunya pernah memuji seseorang, kan? Atau, Anda sendiri yang menerima pujian-pujian seperti itu. Kalimat pujian bak mantra penyihir, dalam negeri dongeng, yang bisa mengubah ruangan gelap berderbu menjadi terang benderang dan rapi. Ungkapan pujian dapat mengubah suasana hati suram seseorang menjadi lebih bersemangat, ceria, puas, atau penuh rasa bahagia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, memuji ialah melahirkan kekaguman dan penghargaan kepada sesuatu (yang dianggap baik, indah, gagah berani, dan sebagainya). Sedangkan Janet Holmes seorang ahli di bidang sosiolinguistik mendefinisikan pujian sebagai tindak tutur yang secara eksplisit atau implisit menjelaskan nilai yang baik kepada orang lain selain pembicara, biasanya orang tersebut ditandai dengan beberapa kecakapan yang secara positif dihargai oleh pembicara dan pendengar. Selain sebagai tindak tutur, pujian didefinisikan Eckert dan McConnell-Ginet sebagai apresiasi positif pada orang lain yang disampaikan untuk suatu hal atau tindakan, baik secara eksplisit maupun implisit. Dan menurut Herbert, pujian berisi pernyataan yang cenderung diambil dari kepedulian, misalnya, penampilan pribadi (terutama pakaian dan rambut), barang (baru), dan hasil keterampilan atau usaha. Pujian membuat pendengar merasa baik dan membatasi kemungkinan pendengar akan menyalahartikan maksud pembicara untuk menawarkan solidaritas dan niat baik.

Nah, seperti yang dipaparkan oleh para ahli, jadi benar sekali bahwa kata-kata atau kalimat pujian yang diutarakan seseorang mempengaruhi orang yang menerima pujian. Pujian itu membuat si penerima pujian merasa menjadi lebih baik.

Bagaimana dengan Anda, apa yang Anda rasakan setelah dipuji oleh orang lain?
Mungkin beberapa di antara Anda ada yang merasa biasa-biasa saja, atau justru merasa malu, merasa tersinggung, merasa disindir atau diejek, merasa bahagia, atau merasa semakin bersemangat dan termotivasi. Secara umum pujian menimbulkan emosi yang positif; menghadirkan kepuasan, memunculkan semangat, dan adanya rasa bahagia.

Secara umum, Anda semua telah mengetahui bahwa pujian merupakan salah satu bentuk rewards atau hadiah. Ketika seseorang berhasil melakukan sesuatu, Anda memberikan dia hadiah berupa kata pujian. Dengan harapan dia akan mempertahankan prestasinya. Ini merupakan hasil eksprerimen dari seorang psikolog behavioristik dari Amerika bernama Edward Lee Thorndike.

Selanjutnya, mari kita pelajari lebih jauh lagi manfaat memuji berdasar teori yang lain, yaitu pujian sebagai positive reinforcement (penguatan positif). Teori ini diciptakan oleh seorang ahli psikologi behavioristik bernama Burrhus Frederic Skinner pada tahun 1920an. Dengan mengetahui hal ini, kelak Anda dapat mengubah perilaku anak, sahabat, atau karyawan Anda menjadi lebih baik.

complimentDalam psikologi (ilmu perilaku atau ilmu jiwa), memberi pujian kepada orang lain merupakan positive reinforcement (penguatan positif). Positive reinforcement (penguatan positif) digambarkan sebagai berikut: ketika perilaku pertama dilakukan, kemudian diberi penguatan positif, perilaku pertama itu akan menguat. Perilaku menguat artinya perilaku itu akan dilakukan lagi, dengan kuantitas dan kualitas yang sama atau lebih. Teori penguatan perilaku itu sebetulnya sudah diaplikasikan dan kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, namun kita tidak mengetahui bahwa semua itu lahir dari teori psikologi belajar behavioristik.

Penguatan positif ini bisa berupa benda dan tidak berwujud benda. Berikut ini adalah dua ilustrasi adanya penguatan positif berbentuk benda:

  1. Ketika Anda membeli deterjen merk A di supermarket akan mendapat bonus sebuah piring kaca. Karena mendapat bonus piring kaca, akhirnya Anda membeli deteren merk A itu lagi, di saat itu atau di lain waktu. Dalam hal ini, perilaku pertama adalah membeli deterjen merk A. Penguatan positifnya ialah bonus piring kaca. Dengan adanya penguatan positif, perilaku pertama menguat sehingga perilaku itu muncul lagi, yaitu perilaku membeli deterjen merk A.
  1. Seorang anak yang mendapat nilai yang bagus tiba-tiba diberi kejutan oleh orang tuanya dengan memberikan sebuah sepeda. Sepeda itu sudah ia impikan sejak lama. Sejak mendapatkan sepeda, anak itu semakin tekun belajar hingga kemudian nilainya pun tetap bagus. Dalam ilustrasi ini, perilaku pertamanya ialah aktivitas belajar yang tekun sehingga nilai anak bagus. Penguatan positifnya ialah pemberian kejutan berupa sepeda yang impikan oleh anak. Perilaku yang menguat ialah perilaku belajar anak yang semakin tekun pasca pemberian sepeda.

Bagaimana dengan pujian yang dikatakan berfungsi sebagai penguatan positif?
Pujian merupakan salah satu penguatan positif yang tidak berbentuk benda. Contohnya digambarkan dalam enam ilustrasinya di bawah ini:

  1. Seorang anak balita berlenggang-lenggok menari di depan kakek-neneknya, kemudian kakek-nenek yang melihatnya bertepuk tangan. Dengan munculnya tepuk tangan, balita itu semakin menari dengan semangat dan lincah seperti tak kunjung lelah. Dalam ilustrasi ini, Anda akan melihat perilaku pertamuanya ialah berlenggak lenggok dan menari. Penguatan positifnya ialah perilaku tepuk tangan. Kemudian, perilaku pertama menguat dan terulang lagi bahkan semakin kencang. Tampak pada perilaku dan gaya menari balita itu, menari dengan semangat, lincah seperti tak kunjung lelah.
  2. Seorang karyawan yang mewakili instansinya berhasil memenangkan sebuah lomba. Atas kemenangannya itu, pimpinan mengatakan, “Saya kagum sama kemampuan kamu. Kamu cerdas dan benar-benar pandai menyusun kalimat untuk menjawab pertanyaan para juri. Prestasimu mengharumkan nama instansi”. Setelah itu, karyawan tersebut semakin bersemangat untuk menghasilkan prestasi-prestasi lainnya. Perilaku pertama adalah mengikuti lomba mewakili instansi. Penguatan positifnya ialah ungkapan kekaguman pimpinan. Perilaku pertama menguat tampak dengan adanya motivasi untuk mengikuti lomba-lomba lain dan menghasilkan prestasi.
  3. Seorang staf yang selalu datang tepat waktu didekati oleh pimpinannya. Pimpinan berkata, “Kamu ini punya tiga anak yang masih kecil tetapi kamu selalu tiba di kantor tepat waktu. Saya salut, loh, kamu benar-benar memiliki time management yang baik”. Kemudian, staf tersebut pun mempertahankan perilaku kerjanya dengan selalu hadir ke kantor tepat waktu, bahkan lebih awal. Perilaku pertama ialah perilaku hadir kerja tepat waktu. Penguatan perilakunya ialah pujian dari pimpinan bahwa stafnya memiliki time management yang baik. Perilaku pertama menguat terlihat dari konsistensi kehadiran kerjanya yang tepat waktu bahkan hadir lebih awal.
  4. Coba Anda ingat-ingat kembali ketika Anda memuji anak Anda saat dia berhasil menyelesaikan tugasnya. Misalnya, anak berhasil merapikan tempat tidurnya, kemudian Anda mengatakan, “Waw, kamarnya rapi! Anak mama rajin, deh! Terima kasih sudah bantu mama, ya”. Setelah itu anak akan mengulangi perilakunya, yaitu merapikan tempat tidur. Keesokan harinya ia akan merapikan tempat tidurnya lagi, lusa juga demikian, esok hari setelah lusa juga dia melakukannya lagi, terjadi berulang-ulang. Perilaku merapikan tempat tidur ini jika dilakukan berulang kali, kelak akan menjadi kebiasaan.
  5. Ketika Anda dipuji oleh teman Anda, “Kamu cantik sekali jika memakai lipstik warna merah marun ini”. Nah, Anda menjadi percaya diri menggunakan lipstick merah marun itu. Keesokan harinya Anda akan mengunakannya lagi, lusa pun Anda pakai lagi, begitu selanjutnya hingga Anda semakin berani mencoba warna-warna merah terang lainnya. Bahkan, jika lipstik itu habis, Anda akan membelinya lagi, khususnya jika banyak orang memuji dan mengatakan hal yang sama.
  6. Ketika Anda memuji cara berpakaian pasangan Anda yang selalu tampil rapi dan sesuai acara, “Papa ini pandai sekali berpenampilan rapi. Juga pandai memilih jenis pakaian mana untuk ke acara apa”. Atau, “Mama ini pandai sekali berpenampilan rapi dan memadupadankan warna pakaian. Kelihatan modis jadinya”. Dengan adanya pujian itu, perilaku berpakaian rapi pun akan berulang di hari-hari selanjutnya. Rasa senang karena pujian dari pasangan membuat perilaku itu berulang. Pujian itu menyiratkan rasa kagum atau setuju dengan perilaku seseorang.

Dari enam ilustrasi di atas, Anda jadi mengetahui manfaat memberi pujian, kan? Anda juga mendapat gambaran bagaimana perilaku itu disampaikan kepada anak, rekan kerja, bawahan, dan pasangan. Secara singkat, Anda jadi tahu bahwa pujian dapat digunakan untuk:

  • Mempertahankan atau meningkatkan perilaku yang sudah baik,
  • Membuat orang lain menjadi (lebih) percaya diri,
  • Memotivasi orang lain dalam bekerja, bahkan mengubah perilaku malas menjadi rajin,
  • Meningkatkan kualitas relasi Anda dengan si penerima pujian. Jika Anda memuji anak dan pasangan Anda, relasi Anda di dalam keluarga pun akan lebih harmonis dan terasa hangat,
  • Meningkatkan kepuasan dan produktivitas kerja di dalam instansi Anda. Jika Anda memuji rekan kerja atau bawahan Anda, ini dapat mempererat persahaban Anda dan memunculkan suasana kekeluargaan di tempat kerja,
  • Menunjukkan kepedulian atau perhatian Anda pada seseorang, ingatlah prinsip bahwa manusia membutuhkan kebutuhan akan perhatian dari sesamanya.

6a05b19728cc2296ca73074044514992Apakah memberi pujian bisa membuat si penerima pujian menjadi tinggi hati dan sombong?
Ya, pujian bisa membuat si penerima pujian menjadi tinggi hati apabila si penerima tidak bisa mengontrol dirinya dalam berpikir dan berperilaku.

Tidak, jika si penerima pujian memiliki kepribadian yang rendah hati. Pujian-pujian itu membuat dirinya semakin bersyukur dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya.

Jadi, itu semua tergantung pada kepribadian si penerima pujian. Anda sebagai pemberi pujian tidak perlu mengkhawatirkan akibatnya. Fokus saja pada tujuan Anda menyampaikan pujian, yaitu untuk menyampaikan kebaikan dan menyampaikan hasil penilaian tentang si penerima pujian itu. Jika dia cantik, dia boleh tahu bahwa dinilai cantik. Jika dia hebat berpidato, dia juga boleh tahu bahwa seseorang mengagumi kemampuannya berpidato. Jika dia rajin, dia pun boleh mengetahui bahwa ada yang menyukai dan menghargai perilaku rajinnya itu. Dengan menyampaikan pujian, kita justru melatih diri kita bersikap jujur dan rendah hati.

Jika Anda menahan diri untuk memuji orang lain dengan alasan tidak ingin dia tinggi hati, itu berarti Anda masih memiliki perasaan tidak aman, merasa khawatir akan direndahkan, merasa takut akan dikalahkan, atau merasa nanti tersaingi. Apabila Anda tergolong pekerja yang ulet, lalu Anda dapat memuji seseorang bahwa dia juga pekerja ulet, itu menunjukkan bahwa Anda tetap memiliki rasa aman dengan kehadiran orang lain yang posisinya sama-sama ulet seperti Anda. Anda tidak merasa dia menjadi saingan yang membahayakan posisi Anda.

Nah, dari ilustrasi-ilustrasi perilaku menyampaikan pujian sebelumnya, Anda jadi tahu bahwa memberi pujian juga menguntungkan diri Anda, secara langsung ataupun tidak langsung. Pujian itu menciptakan rasa nyaman dan menyenangkan. Adanya pujian membuat si penerima pujian merasa nyaman dan senang dengan Anda. Ingatlah untuk memuji dengan tulus. Pujian yang tulus dapat dirasakan oleh si penerima pujian. Hindari memuji hanya untuk mendapat keuntungan pribadi semata. Misalnya memuji-muji supaya diberi kesempatan bekerja, memuji supaya dapat disenangi dan memenangkan tender. Jika Anda berbuat demikian, Anda justru mengembangkan sikap yang negatif, seperti kepura-puraan, manipulatif, dan ketidakjujuran.

Selain menyampaikan pujian dengan tulus, sampaikan pula pujian itu dengan keseriusan. Jika Anda menyampaikan pujian sambil tertawa-tawa, lawan bicara dapat mengira Anda sedang bercanda. Dia juga dapat mengartikan bahwa hal itu sebagai sindiran atau hinaan. Tentu hal ini menyebabkan orang lain tidak senang dan tidak nyaman dengan Anda. Hingga akhirnya merugikan diri Anda sendiri.

Bagi Anda yang menerima pujian, terimalah pujian itu. Anda bisa mengucapkan terima kasih dan senyuman. Terimalah pujian tersebut karena pujian itu merupakan hasil penilaian orang lain terhadap diri Anda. Menerima pujian berarti Anda menghargai hasil penilaian orang yang memuji Anda. Saat Anda berpidato, mungkin Anda merasa kemampuan Anda itu biasa-biasa saja, tidak ada istimewanya, sudah menjadi hal biasa karena sudah sering melakukannya. Namun, ketika ada seseorang yang memuji kemampuan Anda, hargailah hal itu dengan ucapan terima kasih. Pujian itu menunjukkan bahwa dia mengakui kelebihan Anda. Kemudian, syukuri lah kemampuan Anda itu, dan kembangkan lah jika Anda ingin berkembang lebih optimal.

Semoga bermanfaat dan salam ceria.

***

Jika Anda ingin mengajukan pertanyaan, silakan kirim ke Konsultasi Online

Advertisements