Tags

, , , , , , , , , ,


dsc00744 copy

Kuching Waterfront di tepi sungai Sarawak

“La, mau ikut ke Kuching?” tanya mama saya tiba-tiba.

Ajakan mama ini lah yang menjadi pengawal traveling saya ke luar negeri. Traveling pertama saya ke luar negeri adalah ke Kuching, Malaysia, bulan Mei 2010. Kalau menginjakan kaki ke Malaysia sudah pernah, tapi hanya menyeberangi perbatasan untuk belanja ke Supermarket saja, lalu pulang. Kok, bisa begitu? Ya, saat itu Bapak saya tugas di perbatasan. Bolak-balik di daerah perbatasan menjadi hal biasa bagi penduduk lokal. Itu tidak saya golongkan sebagai traveling.

Keberangkatan tanggal 20 Mei 2010 itu betul-betul  spontan. Bahkan, pasport saya di kantor imigrasi belum selesai diproses. Saya diajak, mengatakan iya, beli tiket, lalu berangkat. Saat itu ada “hari kejepit”. Jumat kalau tanggalnya merah, bagi PNS itu menyenangkan sekali.

Bagi saya yang besar dari keluarga pegawai negeri dan sedang menjadi “calon” PNS dengan penghasilan (menurut saya) pas-pasan, saat itu rasanya mustahil bisa jalan-jalan ke luar negeri.

Ah, masa?
Yes, banget! CPNS di Kota Pontianak golongan IIIB tahun 2010 itu gajinya kurang lebih Rp1.500.000 per bulan. (intermezo)

Rasa ingin ke luar negeri sangat besar, tapi nggak ngebet banget, bahkan saya tidak pernah menabung dan membuat perencanaan perjalanan ke luar negeri. Perjalanan pertama ke Kuching ini benar-benar terasa luar biasa. Bahagia. Penasaran. Otak ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan, seperti apa nanti di sana, bagaimana situasinya, makanannya bagaimana, biaya-biaya mahal atau tidak, uangnya cukup atau tidak. Saat itu saya hanya membawa bekal sekitar 200 Ringgit, sekitar Rp500.000 di tahun 2010. Menurut teman saya itu sudah lebih dari cukup untuk jalan-jalan 2 hari karena saya sudah membayar tiket PP dan penginapan selama 2 malam.

Bis malam bertuliskan “Tebakang Express” yang kami gunakan berangkat pukul 9 malam dari Pontianak. Bis melaju stabil dengan dua sopir yang cekatan. Mereka menyetir bergantian jika sudah lelah atau mengantuk. Bis itu besar dan bagus. Bahkan jalanan yang sedikit berlubang pun terasa mulus karena per bis yang menyeimbangkannya bekerja dengan baik. Saat itu kami beruntung mendapat bis dengan posisi kursi 2-1. Dua kursi di deretan kanan, satu kursi di deretan kiri. Jadi kursi di dalam bis itu besar-besar. Kursi bis empuk. AC menghembuskan udara sejuknya. Suasana bis benar-benar nyaman. Penumpang bisa menikmati malam di perjalanan. Cocok lah rasanya dengan harga Rp180.000 per orang.

Kira-kira tengah malam, bis berhenti di satu rumah makan di daerah Sanggau. Di situ penumpang diberi waktu sekitar 30 menit untuk istirahat, ke toilet, ngopi, atau makan. Setelah itu bis berangkat lagi menuju perbatasan Entikong. Di Entikong tampak mobil-mobil dan bis-bis sudah mengular, berbaris panjang ke belakang. Pagar bagian imigrasi tempat kita minta cap keluar Indonesia baru dibuka pukul 5 pagi. Jika kendaraan kita tiba terlalu cepat di perbatasan ini, kita tetap harus menunggu gerbang dibuka.

Antrian panjang. Ada bunyi deg-degan di dada. Maklum, lah, ini perjalanan pertama. Khawatir nanti tidak diizinkan masuk atau bahkan ditangkap karena kesalahan atau kekurangan syarat apa-apa. Saat ini saya merasa lucu saja mengingat perasaan yang sudah dilalui 9 tahun itu.

“Ade perlu ape ke Kuching?” tanya petugas loket imigrasi Malaysia saat itu.
“Jalan-jalan saja,” jawabku sambil tersenyum berusaha meyakinkan bahwa saya tidak akan menjadi tenaga kerja ilegal di negaranya.

Tanya jawab singkat selesai. Kami duduk-duduk berhamburan di sisi wilayah Tebedu, Malaysia, menunggu penumpang-penumpang lainnya selesai mengecap pasport mereka. Setelah semua penumpang bis lengkap, bis pun melanjutkan perjalanannya. Bis berjalan dengan kecepatan normal (untuk ukuran Malaysia), menyusuri jalanan Malaysia yang mulus dan bersih itu. Sekitar 3 jam kemudian kami sampai di kota Kuching.

dsc00765

Hotel Liwah

Kami menginap di Hotel Liwah. Kami sudah memesan 2 kamar sejak di Pontianak karena khwatir kehabisan kamar “murah” di hari libur. Satu kamar saya gunakan bersama mama. Satu kamar lagi diisi teman seperjalanan kami, Memei dan O. Biaya hotel tentunya bayar patungan supaya terasa murah, sekitar Rp80.000 per orang untuk semalam.

Bangunan Hotel Liwah ini sudah tergolong bangunan lama. Kamar hotel ini lumayan luas dengan kamar mandi ber-shower.  Tempat tidurnya besar dengan ruang kosong di sisi kiri dan kanan sehingga bisa menyimpan tas dan barang-barang yang dibawa.

Setelah melepas lelah sejenak, mandi, lalu kami mulai mencari sarapan di lobby hotel. Makanannya beragam, dari roti bakar, telur rebus, telur dadar, nasi goreng, ayam goreng, dan nasi lemak. Harga pun juga bervariasi tergantung menu makanan yang disediakan. Buat saya harganya normal, kurang lebih dengan makan di Pontianak. Jika di-Rupiah-kan, pilihannya dari belasan sampai puluhan ribu.

“Rupanya makanan di luar negeri ndak mahal,” kata saya dalam hati. Merasa semakin gembira. Satu pertanyaan terjawab.

Setelah selesai menyantap sarapan, kami berjalan menuju Kuching Watefront dan pusat pejualan barang-barang khas Kuching. Dua lokasi ini berdekatan. Jarak hotel ke tempat ini ditempuh sekitar 30 menit sambil jalan kaki santai melihat pemandangan kota Kuching.

dsc00741

Salah satu pusat belanja oleh-oleh yang berada di dekat Kuching Waterfront

“Ternyata ada, ya, orang-orang yang bisa menghayati menjaga kebersihan,” kata saya dalam hati.

Saat itu, kebersihan menjadi hal unik di mata saya. Entah mengapa hal ini jadi sangat berkesan. Tapi itulah yang saya nikmati. Saya bahkan kesulitan menemukan sampah di kota itu. Yang tampak jsutru jejeran tong tong sampah rapi di tepi jalan atau di mana saja. Ketika ada sampah di tangan, seakan-akan tong sampah itu melambai-lambai dan memanggil.

“Hei, sini buang sampahnya ke aku saja,” kata si tong sampah itu. Pikiranku mulai berimajinasi dengan riang gembira.

Hari kedua di Kuching, kami peri ke pasar sayur dan buah yang buka setiap Sabtu pagi. Buah-buah yang tergolong mahal di Indonesia pun seakan-akan mengedipkan mata mereka, minta dibeli.  Ada anggur tak berbiji, warna ungu kehitaman, kemerahan, hijau. Ada buah pir dan kiwi.

“Iiiih murah-murah ya, Mak. Di Pontianak ini mahal sekali, ” kataku sambil menunjuk kiwi berbulu keemasan dalam keranjang. Mama belum pernah makan kiwi. Saya hanya menjelaskan rasanya segar, manis, tapi asam sedikit. Saya yakin air liur mama langsung berlomba-lomba keluar saat itu. Mama pun membeli beberapa kilogram buah-buahan mahal itu. Itu yang jadi oleh-oleh utama kami dari Malaysia.

dsc00769

Mama sedang membeli buah-buahan segar

Setelah belanja buah, lalu apa lagi? Tentu tidak ketinggalan membeli cinderamata. Mama dan saya membeli kain bahan baju yang tentunya unik dan tidak ada di Pontianak. Kain bahan ini untuk membuat baju ke kantor dan ke acara pesta. Bahan dan motifnya bagus-bagus, menurut saya.

Karena ini adalah perjalanan pertama, rasanya tidak sah kalau tak ada oleh-oleh kaos. Mama lah yang paling banyak belanja, khususnya untuk adik-adik dan bapak di rumah. Saya waktu itu benar-benar cuci mata saja.

Dua hari yang menyenangkan. Hari ini waktunya pulang. Pagi-pagi kami sudah check out dari hotel dan memesan taksi menuju terminal bis. Bis Tebakang kami berangkat pukul 10 pagi, lalu sampai di Pontianak sekitar jam 5 sore. Cepat lambatnya perjalanan tergantung banyak tidaknya bis berhenti. Kadang-kadang ada saja penumpang yang punya masalah atau keperluan.

Nah, itu cerita perjalanan pertama saya ke luar negeri. Secara psikologis traveling pertama itu sungguh mempengaruhi jiwa.

  • Satisfaction, seseorang akan memiliki rasa puas dan bangga dengan dirinya sendiri karena pernah dia berhasil mencapai sesuatu yang bahkan tidak pernah dia bayangkan.
  • Knowledge, wawasan seseorang tentunya bertambah. Baik itu wawasan tentang lokasi, budaya, kondisi dan situasi di negara yang dia tuju.
  • Open minded, jadi merasa lebih terbuka dengan keberagaman dan hal baru, khususnya terkait perkembangan yang bersifat positif.

Tips penting untuk traveling keluar negeri pertama kali: Pergilah bersama seseorang.
Ini penting karena terkait dengan mental, kewaspadaan, pengalaman, dan jam terbang. Ketika ada apa-apa padamu, kamu punya partner. Dari pengalaman pertama itu keberanianmu akan bertambah dan pengalamanmu akan menjadi guru berharga.

Perjalanan pertama inilah yang menjadi bekal kecil saya dalam melakukan solo traveling menjelahi Asia Tenggara di tahun 2011 dan perjalanan-perjalanan lainnya. Buat saya, “Pengalaman sederhana itu akan menumbuhkan keberanian yang besar”.

Silakan baca cerita singkat tentang perjalanan saya seorang diri mengelilingi Asia Tenggara selama sebulan di A Girl, Backpacking In 30 Days (Malaysia). 

Selamat membaca dan salam kenal, ya. 🙂