Tags

, , , ,


dsc02356

Singapura adalah salah satu destinasi terakhir perjalanan panjang luar negeri yang “luar biasa”, yang saya lakukan di tahun 2011 lalu.

Satu bulan jalan-jalan ke Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, kemudian Singapura. Ini menjadi negara terakhir sebelum saya kembali ke Indonesia.

Kita semua tahun bahwa biaya di Singapura tergolong mahal di bandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Oleh sebab itu, segala sesuatunya perlu diperhitungkan. Mulai dari penginapan, jarak penginapan ke tempat makan atau transportasi umum, pusat wisata tujuan, dan sebagainya. Target saya saat itu yang penting dapat penginapan murah. Karena hanya digunakan untuk tidur malam hari. Soal makan, itu bisa diatur. Soal jarak, bisa ditempuh jalan kaki apabila masih memungkinkan.

Setelah saya cek email saya, ada data lama yang masih tersimpan. Ternyata saya membooking hostel di Singapura sejak bulan Juli 2011. Tujuannya digunakan untuk 9 Oktober ketika saya tiba di Singapura. Saya mencari-cari penginapan murah melalui internet. Saya akhirnya menemukan www.hostelword.com, tempat mencari penginapan sederhana di berbagai penjuru dunia. Dari berselancar di website itu, saya tertatik memilih Betel Box Hostel, Singapura. karena ada kamar yang murah untuk jalan-jalan di Singapura saat itu. Saya membayar 23 SGD per orang untuk 3 malam.

Kamar yang saya pilih adalah tipe “mix dormitory”, tempat tidur bertingkat dan disusun-susun seperti kamar anak asrama. Bisa kah kamu membayangkannya? Di kamar itu ada laki-laki dan perempuan yang totalnya sekitar delapan orang. Kamar tipe campuran ini adalah akomodasi yang paling murah di antara tipe penginapan lainnya.

Kamar jenis “dorm” ini agak gelap karena saat kita bangun, ada saya yang masih tidur lelap. Kita harus pandai-pandai menggunakan senter. Kita perlu menjaga kenyamanan bersama. Baik dari suara, gerak-gerik, cahaya lampu, tentu harus diperhatikan. Ingat, harus toleran! Itu prinsip yang dipegang oleh para traveler seluruh dunia, khususnya backpacker di kamar tipe dormitory.

Betel Box Hostel waktu tahun 2010 tempatnya berupa dua ruko dengan desain retro. Salah satu sisi di lantai bawah berfungsi sebagai cafe, tempat kita makan paket sarapan pagi dan memesan makanan lainnya. Biaya 23 dolar itu sudah termasuk sarapan pagi, bisa berupa roti atau telur, dan minuman berupa jus jeruk kemasan.

Hostel ini nyaman, petugas hostelnya ramah dan sangat membantu. Dia bisa memberi arahan dan petunjuk bagi para traveler yang kebingungan mau ngapain aja di Singapura. Salah satu traveler itu adalah saya.

Bagi kamu yang bawa keluarga atau pasangan dan membutuhkan kamar yang ada privasinya, Betel Box ini juga menyediakan kamar untuk keluarga. Harga tentu lebih terjangkau.

Bangunan-bangunan sekitar hostel di jalan Joo Chiat Road itu umumnya menciptakan suasana khas Tionghoa. Dari hostel saya berjalan kaki melihat situasi pinggiran kota Singapura, menikmati seni arsitektur di sekelilingnya, dan merasakan suasana bersihnya hingga sampai ke pantai Changi. Suasana pantai siang itu agak sepi. Di beberapa sisi saya hanya melihat sepasang-sepasang yang duduk berdua-dua. Pantai ini cukup nyaman untuk ngobrol-ngobrol atau sekedar melepas penat.

dsc02320

Setelah melepas lelah karena perjalanan hampir 1 bulan, saya melanjutkan jalan-jalan melihat pemandangan kota Singapura. Sayang sekali jika datang ke Singapura tanpa melihat-lihat pemandangan dan berbagai sudut kota Singapura.

Dari pantai ini saja berjalan kami menuju stasiun kereta MRT terdekat. Lumayan jauh, ternyata. Lokasi pantai dan stasiun itu bertolak belakang. Yang satu ke arah belakang, yang satunya harus berjalan menuju depan. Saya memuaskan mata melihat-lihat daerah-daerah yang sering orang sebut kampung India dan kampung Cina. Sama seperti negara lainnya, yang disebut kampung Cina maksudnya kebanyakan orang-orang Cina, mayoritas berjualan, dan suasana pertokoan di situ kental dengan budaya Cina. Ada terdengar musik dan lagu Mandarin. Ada aroma dupa. Dan banyak tawaran makanan-makanan Cina juga. 

Begitu pula dengan “Little India” atau India kecil. Disebut India kecil karena ketika kita masuk di wilayah itu, kita akan melihat wajah-wajah India di kanan kiri kita, terdengar bahasa India di sana sini, serta produk-produk khas India ada di sana. 

Karena tujuan saya hanya memuaskan mata dan rasa ingin tahu saja, saya tidak lama-lama di tempat-tempat itu. Setelah berkeliling menikmati suasana, saya mencari makan, lalu pulang ke hostel. Beristirahat.

Keesokan harinya, saya dihubungi teman SMA saya yang bekerja di Singapura. Kami bertemu hingga akhirnya dia dan pasangannya yang menjadi tour guide saya selama 1 hari di Singapura. Saya diajak ke Universal Studio, ditraktik makan sushi dan ayam hitam berbumbu ginseng, serta keliling-keliling kota Singapura berjalan kaki hingga malam hari.

dsc02357

Berfoto di salah satu sudut kota

Tiga malam di Singapura hampir berakhir.

“Tuhan, terima kasih saya bisa menikmati perjalanan indah ini,” ucap saya dalam hati.  Saya menutup mata, menikmati sejuknya udara kamar, kemudian terlelap.

Keesokan harinya, saya meneruskan perjalanan pulang kembali ke Indonesia tetapi tidak langsung ke kampung halaman. Saya masih punya beberapa hari. Sebelum berangkat traveling saya sudah membeli tiket ke Bali karena saya sebelumnya pun belum pernah ke Pulau Dewata.

Mau baca cerita traveling saya yang lain? Silakan klik Traveling ke Beberapa Negara

Inilah cerita singkat saya selama beberapa hari di Singapore. Salam kenal, ya 🙂 

Advertisements