Tags

, ,


bigstock-feet-in-canvas-shoes-standing-297406930-300x-250Comfort Zone, orang sering menyebutnya zona nyaman. Zona nyaman ini bukan tempat riil yang jaraknya sekian centi meter atau sekian meter dari kita. Zona nyaman ini juga bukan ruang-tempat-lokasi yang dapat dilihat atau ditangkap oleh indera penglihatan. Zona nyaman atau comfort zone adalah istilah dalam ilmu perilaku (psikologi) untuk menjelaskan kondisi psikologis (mental) dimana seseorang merasa nyaman dalam situasi tertentu, pada posisi tertentu, atau pun tempat tertentu sehingga “terjebak” dalam situasi tidak kondusif, tidak sehat, dan menyebabkannya tidak berkembang. Gambaran sederhananya begini:

Contoh kesatu:

Ada seseorang pemuda yang telah lulus kuliah. Dia enggan mencari pekerjaan di kota lain, hanya ingin mencari kerja di kota asalnya. Alasannya, supaya tidak perlu repot mencari kos. Kalau di rumah ada ibu yang menyediakan makanan, ada mesin cuci, ada mobil orang tua yang bisa digunakan berangkat kerja, dan tidak perlu mengeluarkan uang untuk menyewa rumah atau kamar kos.

Contoh kedua:

Seorang karyawan lulusan S1 rela melakukan pekerjaan yang sesungguhnya diperuntukkan untuk lulusan SMA. Tentu saja pekerjaan yang dijalankannya terasa sangat mudah baginya. Dia tetap bertahan di tempat kerjanya meskipun ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah tidak dapat diterapkan secara optimal. Posisi pekerjaannya itu pun membuatnya agak minder. Gajinya kecil dan pekerjaannya kurang menantang. Meskipun demikian, dia tetap saja berada di tempat kerja itu. Dia tidak berani memutuskan resign atau keluar dari pekerjaannya. Pada akhirnya, dia tetap berada disitu bertahun-tahun. Dia bertahan karena sudah mendapatkan “kenyamanan”.

Nah, contoh kesatu itu adalah contoh zona nyaman yang dialami seorang laki-laki yang baru lulus sarjana. Secara logika, alasannya memang benar yaitu untuk menghemat biaya. Namun, ada alasan psikologis yang tersembunyi dan tidak disadari di balik pengambilan keputusan itu. Dan, akibat keputusan itu dia tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. Dia jadi kurang terdorong untuk mahir memasak, kurang pandai mengucek pakaian dengan tangan, serta tidak ada usaha untuk menabung dan membeli kendaraan pribadi.

Contoh kedua adalah karyawan sarjana yang bekerja di posisi yang lebih rendah dari capaian semestinya. Kondisi awal yang membuatnya tidak nyaman akhirnya pun “dinikmati”. Semua itu karena perasaan khawatir yang berlebihan; khawatir nanti tidak bisa dapat kerja, khawatir keilmuannya sudah pupus, khawatir belum tentu suasananya nyaman, dsb.

Loh, emangnya salah kalau kita merasa nyaman dan aman?

Tidak salah, kok. Namun, kita perlu tahu dan menyadari bahwa kita sudah memasuki zona itu, tahu seberapa jauh kita menikmatinya, memahami sisi positif dan negatifnya, dan tahu kapan harus keluar dari zona nyaman itu.

Sepertinya banyak sisi negatifnya, ya?

Sisi negatif zona nyaman ialah membuat seseorang keasyikan di suatu tempat atau situasi sehingga tidak mau pindah, tidak mau berusaha, tidak mau mencoba hal baru yang menantang, tidak mau  berkembang, sehingga tidak dapat mengaktualisasikan dirinya, mentalnya melemah dan pada akhirnya rentan mengalami gangguan mental lainnya seperti mudah stress, mudah depresi, gangguan kecemasan, bahkan mempengaruhi ke sakit fisik.

Ibarat pepatah, “Bagaikan katak dalam tempurung”. Seperti itulah akhirnya orang yang terlalu lama diam di zona nyaman. Wawasannya tidak luas, dia merasa paling tahu, padahal luasnya hanya sebesar tempurung itu. Persepsinya pun menjadi sempit karena hanya memandang dari satu sudut saja. Ketika dia memandang sesuatu “buruk”, dia akan melihatnya buruk terus. Katak yang awalnya bisa melompat lebih dari 20 cm itu pun lama-lama melompat setinggi dan sejauh ukuran tempurungnya. Yang lama kelamaan dia tidak mampu melompat lagi dan terbiasa melombat kecil bahkan diam saja.

Mengapa kita perlu mengetahui sisi negatif dan positif dari zona nyaman itu?

Ya, perlu supaya kita tidak terjebak terlalu lama dalam kondisi itu. Karena kita tahu apabila kita terjebak dalam jangka panjang, pengaruhnya ke mental kita jadi semakin buruk. Ingatlah katak yang terjebak dalam tempurung itu.

Apa yang harus kita lakukan untuk meninggalkan zona nyaman itu?

Meminta pandangan beberapa orang yang dianggap bijak atau pun tenaga profesional seperti psikolog. Mereka akan menilai secara objektif apakah kita sudah masuk zona nyaman itu, apa yang dapat diperbuat, bagaimana kondisi mental kita sebenarnya, bagaimana memberanikan diri untuk melepaskan diri dari zoba nyaman itu, dan apa yang akan kita hadapi ke depannya, dsb.

Apa tujuan utama keluar dari zona nyaman?

Saat keluar dari zona nyaman, kita akan berhadapan dengan situasi baru yang menantang. Situasi tersebut akan melatih mental kita untuk melakukan banyak hal. Mental kita menjadi terlatih untuk kreatif dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.

So, yuk, keluar dari zona nyaman supaya mental kita kuat dan bisa berkembang optimal!

***